Refleksi Menuju 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Refleksi Menuju 73 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan itu bukan datang begitu saja. Ia dirperoleh lewat sebuah perjuangan yang gigih, setelah darah dan air mata menjadi tumbal atas keberingasan penjajah. (Foto: Asis Wayongnaen - ist)

KIRIMAN PEMBACA, dawainusa.com Sejarah menjadi simbol kondisi yang telah terjadi di masa lampau. Demikian pun dengan kemerdekaan yang kita peroleh sejak tanggal 17 Agustus 1945 itu. Ada narasi kemerdekaan yang diucapkan dengan gagah berani oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Kemerdekaan itu bukan datang begitu saja. Ia dirperoleh lewat sebuah perjuangan yang gigih, setelah darah dan air mata menjadi tumbal atas keberingasan penjajah. Secara historis, kita telah mengetahui bahwa motor penggerak kemerdekaan muncul dari berbagai kalangan. Ada yang dari kalangan tua, kalangan muda serta seluruh elemen masyarakat, baik yang pribumi maupun non pribumi.

Dalam konteks penyusunan teks proklamasi kemerdekaan, perundingan antara golongan muda dan golongan tua menjadi khazanah historis yang tak boleh dilupakan. Pun dalam kerangka perjuangan kemerdekaan Indonesia, golongan muda memiliki andil yang sangat besar.

Peran kaum muda dan mahasiswa saat itu menjadi benang reflektif yang perlu diurai kembali saat ini. Posisi dan peran yang sentral itulah yang mengharuskan kaum muda untuk lebih peka dan responsif terhadap problem kehidupan sosial.

Baca juga: Pos Islamisme Sandi, Akankah Toleran Terhadap Non Muslim?

Di sisi lain, mahasiswa dan pemuda adalah cerobong yang menyembur asap harapan bagi rakyat banyak. Dengannya, mereka tak boleh terjebak dalam rantai penindasan yang menghancurkan tatanan kehidupan rakyat. Mereka mesti hadir sebagai antitesis atas keberingasan negara dalam segala bentuk kebijakannya yang tidak pro rakyat.

Kemerdekaan itu bukan datang begitu saja. Ia dirperoleh lewat sebuah perjuangan yang gigih, setelah darah dan air mata menjadi tumbal atas keberingasan penjajah.

Karena itu, perlu adanya kontrol sosial dengan basis kajian yang kritis-argumentatif, demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Memang, godaan terhadap pemuda dan mahasiswa di era generasi milenial, tak bisa dipungkiri. Pembungkaman sikap kritis dengan berbagai macam tawaran yang menggiurkan, menjadi salah satu persoalan serius.

Di kalangan aktivis juga, misalnya. Negara akan berupaya mencari cela untuk membredel perlawanan aktivis. Jika lengah, maka potensi untuk digiring ke dalam arena konspirasi menjadi semakin besar. Karena itu, perlu adanya langkah antisipatif terhadap pembungkaman yang dilakukan negara.

Menakar persoalan bangsa dan negara memang tidak mudah. Terutama terkait kebijakan ataupun keputusan yang berskala nasional. Namun, tidak berarti kaum muda dan mahasiswa harus beranjak dari garis perjuangan yang pro rakyat, sebagaimana yang pernah dihidupkan oleh kaum muda dulu.

Baca juga: Toleransi Sebagai Kemerdekaan Individu

Kta juga harus sadar bahwa demi menjadikan Indonesia negara yang berdiri sendiri dan berdaulat, pejuang kemerdekaan rela mengorbakan jiwa dan raga mereka. Mereka akan sangat sedih apabila melihat generasi penerus bangsa dan negara bercokol di ketiak para penguasa terutama kaum kapitalis yang hanya menjadi penikmat kesengsaraan rakyat.

Kemajuan sebuah bangsa dan negara tidak saja dipikirkan dan dikerjakan oleh para pejabat negara sendiri, tetapi diperlukan sinergitas dari seluruh elemen masyarakat khususnya kaum mahasiswa dan pemuda.

Pergerakan mahasiswa dan pemuda sangat diperhitungkan dan memiliki nilai. Karena itu dengan memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke 73, perlu adanya pembaharuan roh perjuangan mahasiswa dan pemuda yang mendasari keberpihakan pada masyarakat sekaligus menjadi solusi bagi segala bentuk persoalan yang terjadi.

Pemerintah juga perlu membuka ruang seluas-luasnya kepada mahasiswa dan pemuda yang kritis dan peduli terhadap setiap kondisi yang melilit bangsa dan negara. Dalam mengisi kemerdekaan indonesia, mahasiswa dan pemuda memiliki tanggung jawab moril dalam merawat dan menjaga keutuhan NKRI .

Semakin besar pengaruh era globalisasi maka semakin mudah sebuah negara dapat dikuasai oleh orang asing yang menerobos masuk melalui gerbang konspirasi. Kemajuan sebuah bangsa dan negara tidak saja dipikirkan dan dikerjakan oleh para pejabat negara sendiri, tetapi diperlukan sinergitas dari seluruh elemen masyarakat khususnya kaum mahasiswa dan pemuda.

Biarkan mereka hadir sebagai penggerak dan pelopor yang mampu mengaktualisasikan gagasan yang efektif dan berkelanjutan bersama rezim pemerintahan penguasa dalam perwujudan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, makmur dan sejahtera.*

Oleh: Asis Wayongnaen*