Diterpa Angin Kencang, Ratusan Rumah di Larantuka Rusak Parah

Diterpa Angin Kencang, Ratusan Rumah di Larantuka Rusak Parah

Ratusan bangunan di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) rusak parah setelah diterpa angin kencang. (Foto: Pohon Tumbang - Kompas.com).

LARANTUKA, dawainusa.com Ratusan bangunan di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) rusak parah setelah diterpa angin kencang yang melanda wilayah itu selama sepekan ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur, Yohanes Bergmans Hayon mengatakan, jumlah bangunan yang rusak mencapai 243 unit.

Ia mengatakan, kerusakan tersebut terjadi pada komponen atap bangunan, baik rumah, dapur, sarana ibadah maupun tempat usaha.

“Adapun fasilitas umum yang rusak yakni rumah Pastoran Paroki Renha Rosari Larantuka dan tempat usaha berupa kios dan warung sebanyak delapan unit,” ungkap Yohanes, Sabtu (3/2).

Baca juga: Cuaca Buruk, Fasilitas Resort di Taman Nasional Kelimutu Rusak

Ia menyebut, sebagian besar bangunan yang rusak berada di Kecamatan Larantuka. Sementara, dari luar Kota Larantuka, kerusakan juga terjadi di Desa Nusadani, Kecamatan Solor Barat, Desa Muda Keputu, Kecamatan ILe Mandiri, Desa Narasaosina, dan Kelurahan Lamatwelu di Kecamatan Adonara Timur.

“Sebagian rumah yang rusak tersebut akibat tertimpa pohon yang tumbang. Kami juga masih terus melakukan pendataan di beberapa tempat lainnya,” ungkapnya.

Hingga saat ini, belum ada diketahui korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, BPBD Kabupaten Flores Timur berharap peristiwa ini tidak memakan korban jiwa seperti yang terjadi 2017 lalu.

Larantuka Rentan Cuaca Buruk

Pada 2017 lalu, puluhan rumah penduduk di Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur, dilaporkan roboh diterjang angin kencang.

“Rumah-rumah warga yang hancur diterjang angin kencang disertai hujan deras itu, antara lain tersebar di Kelurahan Kota Larantuka, Pohon Bao, Lebao dan Gege,” ujar Dionis Ndoi, seorang warga Larantuka, Selasa (7/2/2017).

Saat itu ia menjelaskan, kota Larantuka dan sekitarnya selama dua terus dilanda hujan deras disertai angin kencang. Banyak rumah warga yang rusak akibat tertimpa pohon yang tumbang.

Baca juga: Cuaca Ekstrim, Akses Wisata ke Danau Kelimutu Ditutup Sementara

Bahkan, ia menyebut, salah seorang warga meninggal dunia karena tertimpa pohon. “Orang yang meninggal itu berseragam pegawai negeri sipil, tetapi saya tidak tahu nama korban,” katanya.

Adapun prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) El Tari Kupang, Sti Nenotek mengatakan, kecepatan angin di Flores Timur selama Februari 2017 mencapai 40 knot.

“Untuk kondisi cuaca di Larantuka saat ini adalah kecepatan angin tertinggi pada sekitar pukul 01.00 WITA dini hari yang mencapai 40 knot,” jelas dia, Senin (6/2/2017) lalu.

Kondisi ini menyebabkan listrik padam di seluruh wilayah, komunikasi melalui handphone terganggu, dan aktivitas masyarakat mati total.

NTT Dilanda Cuaca Buruk

Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) cuaca buruk yang melanda NTT disebabkan oleh posisi matahari berada di belahan bumi selatan akibatnya suhu udara di belahan bumi selatan lebih tinggi daripada belahan bumi utara.

Aliran udara semuanya menuju ke belahan bumi selatan tepatnya ke arah Australia, sehingga beberapa wilayah Indonesia bagian barat dan selatan terlewati aliran udara dingin asia Samudera Hindia dan Filipina.

Selain NTT, wilayah lain yang juga dilanda cuaca buruk yaitu Aceh, Jawa Barat, Bangka Belitung, Jambi, Lampung, Kalimantan Tengah, Yogyakarta, NTB, Sulawesi Tengah, Papua, Papua Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat. Kondisi ini kemudian memicu terjadinya potensi hujan dan angin dengan kecepatan tinggi.

Baca juga: Tidak Melaut, Nelayan di Ende Terpaksa Jadi Tukang Ojek

Kepala BMKG Dwikorita mengungkapkan, uap air dari Samudera Pasifik dan Hindia dari arah barat menjadi naik sehingga mengakibatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang dengan kecepatan 25 knot atau berkisar 36 km/jam hingga 35 knot atau 70 km/jam di daerah tersebut.

Adapun gelombang tinggi dengan ketinggian 4.0-6.0 meter (very rough sea) berpeluang terjadi di Samudera Hindia, laut selatan Jawa hingga NTT, dan Laut Arafuru.

Sementara tinggi gelombang 2.5-4.0 meter (rough sea) berpeluang terjadi di perairan Enggano, perairan barat Lampung, selat Sunda bagian selatan, dan perairan selatan Jawa.

Cuaca buruk ini diperkirakan berlangsung sampai pada tanggal 3 Februari 2018. Masyarakat di sejumlah tempat diminta untuk tetap waspada dan tidak memaksakan diri untuk melaut.*