Pria Pengangguran di Sumba Hamili Adik Kandungnya yang Masih SD

Pria Pengangguran di Sumba Hamili Adik Kandungnya yang Masih SD

Seorang pria pengangguran tega mencabuli adiknya sendiri hingga sang adik yang kini masih duduk dibangku kelas V Sekolah Dasar (SD) harus berbadan dua. (Foto: Ilustrasi Pemerkosaan - Merdeka.com).

TAMBALOKA, dawainusa.com Tragis dan memilukan. Seorang pria pengangguran (23) asal Sumba yang berinisial IK tega  mencabuli adik kandungnya sendiri hingga sang adik yang kini masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD) itu harus berbadan dua.

Sang adik akan menjadi ibu bagi anak dalam rahimnya. Kenyataan ini merupakan hal yang belum saatnya ia alami. Usianya masih 13 tahun. Ia harus mengalami kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang sebagaimana dialami anak-anak seusianya.

Selain itu, sangat mungkin ia akan mengalami kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya. Apalagi sekarang, ia masih duduk di bangku SD. Kalaupun, ia melanjutkan pendidikannya, ia harus memikul peran ganda yakni sebagai ibu dan juga sebagai pelajar.

Baca juga: Ketika Kesucian Direnggut Birahi sang Ayah

Kejadian ini terjadi di Kecamatan Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan Agustus dan September tahun 2017 lalu. Namun, baru terungkap pada Senin (5/2) ketika perut korban semakin membesar dan diketahui ia positif hamil.

Kepala Polisi Resor (Kapolres) Sumba Barat AKBP Gusti Maycandra Lesmana membenarkan adanya peristiwa tragis tersebut. AKBP Gusti menuturkan pelaku mencabuli korban sebanyak tiga kali, yakni dua kali pada Agustus dan satu kali pada September 2017.

“Pelaku mencabuli adik kandungnya sendiri sebanyak tiga kali. Dua kali pada bulan Agustus dan satu kali pada bulan September 2017,” ujar Gusti di Tambolaka, Kamis (8/2).

Pelaku kini sudah ditangkap aparat kepolisian. Ia ditangkap di Rumah Makan Warungku Kelurahan Langgalero, Kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya pada Selasa (8/1) sekitar pukul 21.00 Wita.

Setelah ditangkap, IK kemudian dibawa dan ditahan di Markas Polres Sumba Barat untuk menjalani pemeriksaan secara intensif.

Kronologi Pria Pengangguran Hamili Adik Kandungnya

Berdasarkan keterangan saksi, demikian tuturan AKBP Gusti, kejadian tragis yang menimpa gadis kecil itu bermula ketika sang pelaku pulang dari pesta sambut baru di rumah salah satu kerabat mereka di Kampung Wanno Loura, pada 8 Agustus 2017.

Saat itu, sang adik masih terlelap dalam tidur. Ia tak mengetahui kalau sang kakak punya niat jahat terhadap dirinya. Ia hanya terdiam ketika sang kakak memaksanya untuk bersetubuh. Mau teriak tapi sang kakak mengancamnya.

Baca juga: Di Maumere, Pria Beristri Gauli Anak di Bawah Umur Hingga Hamil

Sang kakak pun melahap habis kegadisannya. Tanpa ampun. Tanpa peduli. Yang penting nafsu selangkangan terpenuhi.

Namun, ternyata tidak hanya sampai di situ dan saat itu. Karena merasa perbuatan jahanamnya itu tidak diketahui orang tua, ia pun mengulangi perbuatannya sebanyak dua kali. Sang adik pun masih diam dan tak berani angkat bicara hingga akhirnya berbadan dua.

Perbuatan pelaku baru terkuak ke publik setelah pihak keluarga melaporkan perbuatan pria pengangguran itu ke polisi pada Senin (5/1).

Korban Masih Syok

Akibat perbuatan bejat sang kakak, kini CAK, demikian inisial korban, masih dalam kondisi Syok. Pihak kepolisian pun belum bisa bertanya-tanya terkait peristiwa yang menimpanya. “Kondisi korban masih syok belum bisa langsung ditanya-tanya,” pungkas Gusti.

Korban saat ini, sambung AKBP Gusty, sedang didampingi oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sumba Barat untuk penyembuhan kondisi psikologisnya.

Baca juga: Di Manggarai Timur, Ayah Perkosa Anak Kandung Berusia 12 Tahun

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia, apa yang dialami CAK merupakan jenis incest (kalaupun di sana ada tindakan pemerkosaan). Akan tetapi, dari sisi akibat, incest mengakibatkan sejarah kelam bagi si anak yang akan menimbulkan gangguan mental dan juga fisik.

Mengutip dari Hentig dan Viernstein, yang mana mereka mendeskripsikan bahwa satu-satunya jalan bagi ayah sebagai pelaku incest, atau ibu maupun kakak pelaku incest, untuk diisolasikan sejauh mungkin terhadap anak yang menjadi korban incest. Hal ini diperlukan untuk memulihkan mental korban incest agar tidak kembali syok atau takut terhadap pelaku.*