Prabowo Subianto ‘The Great’ Sontoloyo, Apa Maksud Hanura?

Prabowo Subianto ‘The Great’ Sontoloyo, Apa Maksud Hanura?

JAKARTA, dawainusa.com Pernyataan presiden Joko Widodo yang menyebut ada sebagian politikus tanah air yang sontoloyo masih multitafsir. Namun partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) secara gamblang menyebut, Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebagai the great sontoloyo.

Menurut Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir sontoloyo merupakan salah satu profesi, yaitu mengangon bebek atau itik. Dia juga mengartikan sontoloyo adalah bahasa gaul dari konyol.

Inas kemudian membandingkan pidato Jokowi mengenai ‘sontoloyo’, dengan pidato Prabowo yang menyebut hutan BUMN senilai Rp 4.800 triliun dan beberapa pidato yang menurutnya tidak berdasarkan data. Atas dasar itu menyebut Prabowo ‘the great sontoloyo’.

Baca juga: Petisi Tolak Sekolah Minggu Masuk RUU Pesantren Ramai Dukungan

“Mau contoh? Bukankah Prabowo pernah mengatakan hutan BUMN Rp 4.800 Triliun? tapi tidak bisa membuktikan, lalu yang terbaru adalah Prabowo mengatakan 99% rakyat Indonesia miskin, lalu ditantang BPS untuk membuktikan tapi ternyata mingkem, nggak bisa menjawab,” kata Inas seperti dilansir Detik.com, Jumat, (26/10).

“Bahkan Prabowo pernah mengatakan Indonesia bakalan bubar tahun 2030, konyol banget kan? Saking bangetnya maka nggak salah dong, kalau kita julukin dia the great Sontoloyo,” pungkasnya.

Inas juga menjelaskan mengenai maksud dari Presiden Joko Widodo yang menyebut politikus sontoloyo. Menurutnya yang dimaksud sontoloyo adalah politikus yang bertingkah laku konyol seperti Prabowo yang bicara tanpa data dan fakta.

“Kalau pak jokowi menyebut politikus sontoloyo, bukan berarti bicara kasar atau merendahkan si politikus yang memang merasa dirinya sontoloyo, tapi yang dimaksud Pak Jokowi adalah politikus yang jadi sontoloyo dengan mengangon ‘bebek-bebek’ yang berceloteh tentang hoax dan hasut, bahkan si politikus tersebut ikut-ikutan konyol!” Katanya.

Bentuk Kontrol Diri yang Lemah

Sementara itu, sebelumnnya kubu Prabowo mengomentari keceplosan Jokowi soal politisi sontoloyo. Mereka menganggap, ucapan Jokowi merupakan bentuk kontrol diri yang lemah dan tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin negara.

“Sangat tidak pantas, saya pikir. Kenapa? karena yang namanya Presiden itu adalah pemimpin tertinggi, dia harusnya politisi yang jadi contoh, bukan cuma untuk politisi lho, seluruh anak negeri,” kata koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, seperti dikutip detik.com, Rabu (24/10) malam.

Baca juga: Kegenitan Politik di Balik Keberanian PSI Ungkap ‘Dosa’ Partai Lama

Dahnil menilai, tak pantas istilah sontoloyo keluar dari mulut seorang presiden. Menurut Dahnil, pemimpin seharusnya meneduhkan dan menentramkan masyarakat. “Kapasitas pemimpin itu adalah bagaimana beliau justru bisa menetramkan, mengademkan, justru kemudian pernyataan itu mengesankan ada memperkeruh suasana,” tuturnya.

Menurut Dahnil, Jokowi sebagai pimpinan politik tertinggi di Indonesia harus menjadi teladan bagi seluruh anak bangsa. Istilah ‘politik sontoloyo’ yang keluar dari mulut mantan Gubernur DKI Jakarta itu harusnya menjadi bahan evaluasi.

“Saya pikir pimpinan politik yang tertinggi hari ini di negeri ini ya pak Jokowi sendiri. Jadi kalau ada politisi yang paling berkuasa hari ini ya pak Jokowi itu sendiri, berarti kalau kemudian itu bentuk kekesalannya, anda bisa membayangkan bagaimana lagi orang lebih kesal dengan ketidakadilan yang hadir hari ini,” ujarnya.

Kubu Prabowo-Sandi Tak Merasa Tersindir

Terpisah, kubu Prabowo-Sandi tak merasa tersindir dengan kata sontoloyo yang diucapakan Jokowi. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, partainya tidak mempermasalahkan ihwal pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang menyebut ada banyak politikus sontoloyo saat ini.

“Ya kalau sindir menyindir, pantun berpantun. Itu biasalah. Enggak usah kita terlalu bahas,” ujar Dasco.

Toh, ujar Dasco, dia dan kawan-kawan tidak merasa tersindir. “Kita enggak merasa terganggu. Kita enggak merasa dituding kok. Kita juga enggak tahu yang dimaksud Pak Presiden siapa gitu loh, tapi berpikir positif saja untuk terus bekerja,” ujar Dasco.

Baca juga: Masa Jabatan Berakhir, Surya Paloh Digugat Kader NasDem

Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mudjahid mengkritik keras pernyataan Jokowi. Sama seperti Dasco Ahmad, Sodik juga merasa partainya tidak tersindir dengan pernyataan Jokowi. Bahkan Sodik menuding Jokowi agak stres karena banyak janji-janji yang belum dipenuhi.

“Oh (Gerindra) tidak (tersindir). Saya melihat beliau mungkin agak stres. Stres banyak janji-janji yang belum dipenuhi, stres harus memenangkan sehingga keluar kata-kata seperti itu, kata-kata ‘sontoloyo’. Kemudian sebelumnya juga ada pembohongan. Mungkin beliau dalam keadaan tertekan, dalam keadaan stres,” kata Sodik.

Sodik menduga Jokowi sedang berada di bawah tekanan sehingga berbicara politik sontoloyo. Dia lalu berbicara soal kesantunan. “Ada juga yang menambahkan, karena dalam keadaan stres, katanya, Jokowi yang terkenal santun sekarang sudah mulai tidak santun lagi. Mungkin karena beliau underpressure,” tutur Sodik.*