Dawainusa.comGugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutkan, potensi penularan virus corona di Kota Kupang, NTT sangat tinggi.

Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan, hal tersebut bisa dilihat dari mobilitas warga kota Kupang yang cukup tinggi, baik siang hari maupun di malam hari.

Baca juga: Jokowi Tetapkan 13 Kabupaten di NTT Masuk Kategori Daerah Tertinggal

“Melihat lalulintas orang yang begitu ramai di Kota Kupang baik siang maupun malam hari, maka potensi terjadinya peningkatan kasus positif COVID-19 sangat terbuka,” kata Marius kepada wartawan di Kupang, Jumat (8/5/2020) malam.

Marius mengingatkan warga Kota Kupang agar serius mengikuti protokol kesehatan dalam upaya pencegahan Covid-19, karena daerah itu memiliki potensi yang tinggi penularan Covid-19.

Sebagai ibu kota provinsi, demikian Marius, situasi Kota Kupang saat ini sudah semakin ramai mulai dari pagi hingga malam hari. Masyarakat Kota Kupang kata dia, harus memahami bahwa Kota Kupang telah menjadi zona merah.

“Harus menjadi perhatian bersama dalam mencegah penyebaran COVID-19 di NTT, karena kasus positif COVID-19 di NTT terus meningkat,” katanya.

Marius juga mengingatkan daerah-daerah lain di NTT agar selalu taat pada protokol kesehatan dalam rangka menekan persebaran Covid-19 di NTT.

“Kami berharap masyarakat Kota Kupang maupun kota-kota lain di NTT untuk secara serius mengikuti aturan protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dengan mendisiplinkan diri menggunakan masker, cuci tangan menggunakan sabun dan tidak menciptakan kerumunan,” tambahnya.

Menurut dia, saat ini NTT telah memiliki 12 orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 tersebar di Kabupaten Flores Timur satu orang, Kabupaten Manggarai Barat dua orang serta sembilan di Kota Kupang dan satu di antaranya telah dinyatakan sembuh.

Penyebaran Virus Corona Harus Berakhir di Bulan Juni

Sebelumnya, Marius menegaskan persebaran virus corona harus berkahir di bulan Juni. Jika target tersebut tidak tercapai, paling tidak kurva angka-angkanya harus turun.

“Harus diturunkan dari kurva yang naik itu harus diturunkan dengan cara apa pun. Iini perintah Bapak Presiden tentu juga berlaku untuk kita di NTT,” ungkap Marius beberapa waktu lalu.

Baca juga: Hari Pertama Pemeriksaan Swab di NTT, Hasilnya Masih Samar-samar

Ia juga mengatakan, pengontrolan secara ketat arus mudik termasuk instruksi untuk tidak melakukan mudik dari kota ke desa menjadi salah satu perhatian seriuspemerintah.

“Semua ini hanya untuk bisa memastikan mata rantai penyebaran virus corona ini bisa terputus. Logikanya sangat sederhana; virus ini menyebar dari orang ke orang,” katanya.

Karena itu katanya, organisasi kesehatan dunia, WHO mengatakan, putuskanlah mata rantai penyebaran virus corona dengan pertama, menghindari kerumunan atau tidak menciptakan kerumunan.*