Politik Sontoloyo ala Jokowi, Antara Kedunguan Publik dan Kebodohan Elit

Politik Sontoloyo ala Jokowi, Antara Kedunguan Publik dan Kebodohan Elit

FOKUS, dawainusa.com Kata ‘sontoloyo’ yang diucapkan Jokowi saat pembagian sertifikat tanah di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran lama, Jakarta Selatan pada Rabu (23/10) menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan politisi.

Pro-kontra soal kata tersebut tampak memanas. Apalagi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres), kata tersebut menjadi bola panas yang digoreng masing-masing kubu untuk menarik perhatian publik.

Sebagaimana yang terjadi hari ini, Kubu oposisi menilai Jokowi tak layak mengungkapkan kata itu jika disandingkan dengan posisinya sebagai Presiden.

Sementara di pihak lain, kubu petahana menilai ‘sontoloyo’ yang disampaikan Jokowi berada dalam batas yang wajar. Kubu petahana berdalil, apa yang disampaikan mantan Wali Kota Solo itu merupakan teguran bagi politisi yang selama ini berprilaku tak becus.

Baca juga: Jokowi Keceplosan ‘Sontoloyo’, Bentuk Kontrol Diri yang Lemah?

Yang menarik, ‘sontoloyo’ ala Jokowi dibandingkan dengan pidato Presiden Pertama RI, Soekarno. Mengomentari itu, Pengamat Politik Rocky Gerung angkat bicara. Sebab Rocky Gerung pun tahu bahwa kata-kata sontoloyo sejatinya pernah dilontarkan Soekarno pada era Orde Lama.

Hal itu terlihat saat Bambang Harymurti, Jurnalis senior memberikan penjelasan soal kata sontoloyo yang digunakan oleh Jokowi dan Soekarno.

Dilansir dari tayangan Bicara Politik Bohong di Ruang Publik CNN, Kamis, (25/10) malam, Rocky Gerung tampak setuju soal pernyataan Bambang Harymurti perihal kata sontoloyo.

“Kata sontoloyo itu kan bagian dari judul pidato Bung Karno yang terkenal. Saya kira pasti itu (pidato tentang politikus sontoloyo) dibikinin sama seseorang,” ujar Bambang Harymurti. “Iya memang,” jawab Rocky Gerung seraya mengangguk.

‘Sontoloyo’ ala Jokowi, Antara Kedunguan Publik dan Kebodohan Elit

Berhadapan dengan ‘sontoloyo’ ala Jokowi, Rocky menyebut bahwa ada faktor lain yang membuat Jokowi keceplosan menyebut kata sontoloyo dalam pidatonya.

Menurut Rocky Gerung, pidato Jokowi soal sontoloyo itu berasal dari tim yang ada di kubunya yang tidak becus. Akibatnya menurut Rocky Gerung, Jokowi pun akhirnya melontarkan kata-kata yang menimbulkan sensasi.

“(Soal pernyataan politikus sontoloyo berasal dari) pertemuan antara kedungan publik dan kebodohan elit. Pak Jokowi bilang kemudian hal yang jadi sensasi, soal sontoloyo. Itu memperlihatkan ada tim yang tidak mampu mengurus substansi makanya yang keluar sensasi,” ungkap Rocky Gerung.

Baca juga: Komentar Sekjend Demokrat Soal Politikus Sontoloyo ala Presiden Jokowi

Karenanya, Rocky Gerung pun meminta kepada Timses Jokowi-Maruf Amin, Budiman Sudjatmiko sebagai lawan bicaranya dalam acara tersebut untuk menegur sang presiden.

Bukan malah menyerang dirinya perihal penggunaan kosa kata. Sebab kedudukannya, Jokowi adalah seorang presiden yang kembali diusung menjadi pemimpin.

“Mustinya Budiman (Timses Jokowi-Maruf Amin) jangan tegur saya. Tegur presiden Anda mengapa pakai kata sontoloyo,” jelasnya lagi. Mendengar pernyataan itu, Budiman Sudjatmiko memberikan pembelaan.

Menurut Budiman Sudjatmiko, Jokowi sejatinya baru memberikan “sedikit” retorika ketika kontestasi dalam Pilpres. “Kalau kita bicara, kata sontoloyo itu 0,01% dari retorika Pak Jokowi,” ucapnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Rocky Gerung pun kembali memberikan kritikannya terhadap Jokowi. Bagi Rocky Gerung, justru karena jabatan Jokowi sebagai Presiden lah yang membuatnya harus hati-hati dalam berucap. “Itu karena yang menyebutkan Presiden jadi 112%,” ungkapnya.

Retorika dalam Politik Jelang Pilpres 2019 akan Terus Berlanjut

Lebih lanjut, Rocky Gerung juga mengatakan bahwa retorika dalam politik jelang Pilpres 2019 akan terus berlanjut. Karenanya kedua pasang calon haruslah bersiap-siap menghadapinya.

Namun, menurut Rocky Gerung, psikologis Jokowi nyatanya kini telah terganggu. Hal itu terlihat dari penggunaan kata dari Jokowi menurut Rocky Gerung sudah tak bisa lagi dikontrol.

“Perang retoris ini masih akan terlihat dan berlanjut. Saya lihat dalam dua hari terakhir ini jelas psikologis bapak Presiden Republik Indonesia sangat terganggu. Dia nggak bisa lagi kontrol emosinya,” imbuhnya.

Meski begitu, Rocky Gerung mengaku senang ketika mengetahui sekarang Jokowi telah banyak mengutip pernyataan Soekarno. Termasuk ketika menggunakan kata sontoloyo pada pidatonya beberapa waktu lalu.

Baca juga: Sejumlah Tanggapan di Balik Politik Sontoloyo ala Jokowi

Namun, seolah ingin menyindir kubu Jokowi, Rocky Gerung justru memberikan penjelasan soal isi pidato Soekarno yang lain, yakni soal pernyataan Soekarno yang ingin memajukan Indonesia dengan aksi para pemuda.

Rocky Gerung menyebut bahwa yang dibutuhkan Soekarno ketika ingin membuat Indonesia maju adalah pemuda, bukan sosok tua atau kakek-kakek.

“Saya justru senang karena Pak Jokowi mulai banyak mengutip Bung Karno. Sontoloyo segala macem. Bung Karno bilang begini, beri aku 10 pemuda dan aku akan mengguncang dunia. Bung Karno Bilang 10 pemuda, bukan 1 kakek-kakek,” pungkasnya.

Kembali menegaskan pernyataannya, Rocky Gerung pun mengatakan bahwa yang dibutuhkan istana saat itu adalah tenaga dari para pemuda.

Tenaga para pemuda yang cakap guna membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. Bukan kaum tua yang menurut Rocky Gerung tidak sebanding dengan kebutuhan Indonesia saat ini.

“Jadi kita ingin ada pemuda di luar Istana yang datang ke Bung Karno. Bukan pemuda dalam istana yang bolak balik cari nasi bungkus. Jadi sekali lagi, yang dibutuhkan Bung Karno adalah pemuda bukan kakek-kakek,” jelasnya.*