Politeknik Negeri Kupang Implementasikan PABF di Desa Oefeto

Politeknik Negeri Kupang Implementasikan PABF di Desa Oefeto

KUPANG, dawainusa.com Tim pengabdian masyarakat dari Program studi D4 Teknik Tenaga Listrik dari Politeknik Negeri Kupang mengimplementasikan Teknologi Pompa Air Bertenaga Surya Fotofoltatik (PAFB) pada Sumur bersama sekelompok Petani di halaman Kantor Desa Oefeto, Kabupaten Kupang, Jumat (17/11).

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Oefeto dengan pertimbangan desa tersebut memiliki banyak lahan kering. Selama ini masyarakat di Desa Oefeto mengalami kesulitan untuk mengelola lahan pertanian karena kekurangan pemasokan air. Dalam rangka itulah PAFB mulai disosialisasikan dan diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat.

Baca juga: Dua Kota yang Paling Kotor di NTT Menurut Viktor Laiskodat

“Untuk menjawab hal itu, maka tim pengabdian masyarakat dari Program Studi D4 Teknik Listrik Politeknik Negeri Kupang mengimplementasikan Teknologi Pompa Air bertenaga Surya Fotoltatik (PABF) pada sumur di halaman Kantor Desa Oefeto,” demikian pernyataan Tim Pengabdian Masyarakat Politeknik Negeri Kupang yang diterima Dawainusa, Kamis (22/11).

Tim ini juga menyampaikan, selama ini untuk mengolah lahan pertanian, masyarakat setempat hanya berharap pada ketersedian sumur-sumur masyarakat yang pengoperasiannya masih bersifat konvensional dengan menggunakan tenaga manusia.

Diketahui secara geografis, desa Oefeto sendiri berbatasan langsung dengan Desa Ragnamo, tempat bendungan Ragnamo berada. Keberadaan bendungan Ragnamo sebenarnya bisa membantu menyuplai air untuk menghidupi tanaman pangan warga. Namun, daya kuantitas air tampungan di bendungan Ragnamo yang belum maksimal menjadi satu kendala tersendiri untuk mendatangkan air yang cukup ke Oefeto.

“Kehadiran bendungan ragnamo sebenarnya memiliki efek yang sangat penting bagi masyarakat termasuk di desa Oefeto karena kontinuitas aliran air dipastikan tidak berhenti. Namun kuantitas air tampungan di bendungan yang belum maksimal dalam beberapa tahun ke depan, sehingga perlu tindakan antisipasi pengelolaan air sumur bagi tanaman pertanian yang dikelola masyarakat,”.

Tentang PAFB dan Alasan Menerapkan PAFB di Oefeto

PAFB adalah pompa air independen yang bekerja menggunakan sumber listrik dan yang dihasilkan oleh solar Fotofoltaik. Pompa air solar ini menjadi solusi bagi pemenuhan kebutuhan pengairan sawah masyarakat, peternakan dan air minum, serta mengurangi dampak negatif pada lingkungan yang minim layanan PLN.

Beberapa keuntungan pompa air tenaga surya fotofoltatik yaitu tidak menggunakan listrik PLN/Genset, berdiri mandiri dan fleksibel, desain sumber mata air yang dalam, ekonomis, tidak menggunakan batteray untuk bekerja pada siang hari, bekerja secara otomatis dengan sistem control, kualitas lebih awet dan bergaransi.

Baca juga: Sofisme di Era Digital, Siapa yang Mendikte Kebenaran?

Sebuah paket pompa air air bertenaga fotoflotaik umumnya terdiri dari pompa untuk kedalaman sumur tertentu dan menghasilkan debit air apabila cuaca cerah (+20 m/day), panel surya, driver pompa dan box panel, kabel dan accessories, solar braket dan konstruksinya.

Berdasarkan hasil survei tim PPM tahun 2018, mendapatkan bahwa lahan pertanian di Desa Oefeto mengalami kekeringan pada musim kemarau (Juli-November). Karenanya ketersedian air menjadi salah satu akar permasalahan (roof of problem) yang perlu diatasi, terutama untuk pengairan lahan selama musim kemarau.

Minimnya penyediaan air pada musim kemarau dapat mengakibatkan gagal panen dan berdampak pula pada kekurangan pangan. Keberadaan sumur umum yang di lahan pertanian Desa Oefeto yang mampu bertahan hanya sampai bulan November, kemudian intensitas radiasi yang sangat optimum di musim kemarau mendukung penerapan teknologi PBF di tempat tersebut.

Metode Penerapan dan Pengujian Teknologi PABF

Penerapan teknologi PABF dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu, penyiapan panel surya dan komponen pendukung, penyiapan kotak driver pompa dan assesoris, pemasangan pompa interkoneksi dan instalasi antar komponen serta diakhiri dengan uji coba.

Dalam implementasi teknologi PBAF di Desa Oefeto panel surya yang digunakan berkapasitas 50 WP dengan solar kontroler 20 A dan interver DC-AC 600 waat. Sebuah pompa air berkapasitas sedang juga dipasang untuk menarik air dari sumur desa dengan kedalaman kurang lebih 7 meter.

Baca juga: Apa Kabar Kasus Dugaan Korupsi Pembangunan Pasar Rakyat Ruteng?

Setelah semua instalasi dipastikan benar, maka instalasi disupply oleh tegangan AC dari inverter. Tegangan 220 Volt hasil inversi dari tegangan CD 12 volt mampu menghidupkan pompa air dan menarik aliran air dari dalam sumur.

Tegangan luaran 220 Volt tetap stabil selama pengoprasian teknologi PBAF walaupun menjelang sore hari karena supply daya dari panel fotofoltaik tetap stabil mengalir ke ACCU 12 V 35 A yang terpasang pada panel surya.

Dengan penerapan teknologi PABF di Desa Oefeto, diharapkan meningkatkan frekwensi pengelolaan lahan pertanian masyarakat di desa tersebut karena distribusi air dapat berjalan setiap hari tanpa melibatkan tenagan petani untuk mengatur dan mengarahkan aliran air serta meminimalkan resiko kekurangan pangan.*

COMMENTS