Polemik Tolak Bandara Kulonprogo Berlanjut ke Meja Ombudsman RI

Polemik Tolak Bandara Kulonprogo Berlanjut ke Meja Ombudsman RI

Terkait polemik tolak Bandara Kulonprogo, Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) melayangkan pengaduan ke Ombudsman RI. (Foto: Perwakilan PWPP-KP di Ombudsman RI - Atan)

YOGYAKARTA, dawainusa.com Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) melayangkan pengaduan ke Ombudsman RI, Selasa, (28/11).

Sekitar lima orang perwakilan PWPP-KP datang ke Kantor Ombudsman RI Perwakilan DIY di Jalan Wolter Monginsidi.

Baca juga: Tolak Bangun Bandara, Rumah Warga Kulonprogo Dihancurkan Militer dan Polisi

Alasan pengaduan ini dilakukan lantaran tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat Polsek Temon dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengintimidasi dan memutus hak warga terhadap akses listrik.

Hal tersebut diungkapkan Hironimus Heron, aktivis JDA yang turut menangani masalah tersebut.

“Kemarin paguyuban melaporkan polsek Temon dan PLN. Polseknya offside, karena dia yang memberi perintah pemotongan aliran listrik dan perusakan rumah warga,” tutur Heron kepada dawainusa.com, Rabu (29/11).

Menurutnya, perbuatan pemutusan aliran listrik oleh pihak PLN telah menodai hak warga sebagi konsumen listrik negara tersebut.

“PLN dilaporkan karena hak konsumen warga negara di putus karena PLN adalah BUMN yang merupakan badan publik jadi masuk dalam pengawasan ombudsman”, ungkap Heron.

Aliran Listrik Diputuskan, Mesjid Diobrak-abrik, Warga Diusir Paksa

Sebelumnya, pantauan dawainusa.com, Senin (27/11), perusahan Angkasa Pura (AP) I, PT Pembangun Perumahan (PT-PP), dan PT Surya Karya Setiabudi (PT-SKS) yang dikawal 400 personil pertahanan dan kemanan negara, mendatangi perumhan warga Kulonprogo.

Pihak AP I bersama aparat mengancam warga untuk mengosongkan tanah dan rumah yang telah dihuni warga sejak puluhan tahun silam itu. Pihak AP I menganggap bahwa tanah dan rumah tersebut telah dikonsinyasi dan telah ada pemutusan hak atas tanah di pengadilan.

Baca juga: Gedung Sekolah Ambruk, Mahasiswa Jogja Galang Solidaritas untuk SDN Boleng

Pihak AP I bersama aparat kepolisian juga memaksa warga untuk meninggalkan rumah. Dengan mengerahkan sejumlah personil mereka mengepung pintu rumah warga.

Personil kepolisian mendobrak pintu rumah dengan tendangan, linggis, dan palu. Seketika, pintu dan jendela rumah warga tersebut hancur berantakan.

Tidak puas mengobrak-abrik isi dalam rumah, aparat kepolisian juga turut mengobrak-abrik halaman rumah warga dan merobohkan pepohonan, merusak pintu rumah, mencopot jendela, memutuskan aliran listrik sampai membuat galian di depan rumah agar warga tidak bisa masuk ke halaman rumah milik mereka sendiri.

Tak hanya itu, aktivitas merusak terus dilakukan dengan menyasar tempat ibadah warga yakni Masjid. Pasukan keamanan negara itu juga memutuskan aliran listrik salah satu Masjid warga. Pemutusan listrik untuk Desa Palihan dilakukan langsung oleh PLN Kulonprogo.* (Atan)