Jacinda Ardern Membuat Sejarah Dengan Membawa Anaknya Saat Menghadiri Sidang PBB

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru telah membuat sejarah dengan membawa putrinya yang berumur tiga bulan ke ruang sidang PBB. Ardern duduk di sebelah pasangannya Clarke Gayford  di aula pertemuan di Peace Summit Nelson Mandela.

Melansir CNN, Ardern pun memberikan penjelasan tentang keberadaan anaknya saat ia menjalankan tugas negara. Dalam percakapan publik, hal tersebut sangat sensitif dan menjadi bahan pembicaraan.

“Tidak ada rencana yang teratur. Itu bergantung pada, apakah anak saya memiliki waktu tidur yang cukup atau tidak. Dia dan Ayahnya bisa saja sering bersama saya, bisa saja lebih banyak berada di hotel.”

Neve memandang ibunya berbicara di depan majelis sementara Gayford, suaminya, menggendong bayi itu. Ardern mengatakan bahwa membawa Neve ke ruang sidang Majelis umum adalah “keputusan praktis.”

Neve sangat dekat dengannya, sehingga ia ingin selalu berada bersama ibunya ketika ia terbangun dari tidur. Merespon beberapa komentar positif dan keterkejutan publik terkait aksinya itu, Ardern berpendapat bahwa suatu hari aksi ini akan terlihat normal bagi masyarakat.

Perdana Menteri Yang Tegas, Namun Tahu Memprioritaskan Anaknya

Ardern menjadi pemimpin termuda partainya tahun lalu dan pemimpin Selandia Baru termuda dalam 150 tahun setelah mengalahkan mantan Perdana Menteri Bill English. Kemenangannya menandai keberhasilan pertama Partai Buruh dalam Sembilan tahun.

Ia adalah pemimpin dunia pertama setelah 30 tahun yang melahirkan anaknya ketika ia sedang menjabat di posisi pemerintahan. Ia juga dikenal sebagai perdana menteri yang sederhana dan tidak menyukai hal-hal yang ribet.

Dalam perjalanan tersebut, tidak ada program suami-istri. Keputusan telah diambil bahwa tiket suaminya akan dibayar untuk perjalanan tersebut. Namun, suaminya akan bepergian ke beberapa tempat bersama Neve.

“Itu terantung pada seberapa kuat efek jet lag mempengaruhi mereka berdua. Anak saya suka tidur dan kami tidak tahu apakah dia akan bangun siang atau malam hari.”  Pastinya, Gayford akan selalu bersama Neve dan menemaninya.

Ardern kembali ke kantor bulan lalu setelah enam minggu absen setelah melahirkan, di mana Wakil Perdana Menteri Winston Peters bertindak sebagai juru kunci yang mengerjakan tugas-tugas penting ketika Ardern cuti.

Meskipun Gayford mengurus tugas pengasuhan utama, Ardern akan tetap menyusui anaknya. Oleh karena itu, si bayi tetap bersamanya sekalipun ia sedang bertugas. Sebagai pemimpin dan seorang ibu, ia merasa wajib untuk menyeimbangkan kedua tugasnya.

Ardern Bukan Perempuan Pertama Yang Melahirkan Saat Memerintah

Jacinda Ardern bukanlah wanita pertama yang melahirkan saat memerintah. Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Benazir Bhutto, Pemimpin Pakistan, melahirkan putrinya Bakhtawar pada Januari, 25 1990. Ia menjadi kepala pemerintahan modern pertama yang melahirkan saat berkuasa.

Sebelumnya, anak sulungnya, Bilawal, lahir pada 21 September 1988, hanya beberapa minggu sebelum ia menjabat pada Desember 1988. Anak ketiganya, Aseefa, juga baru berumur beberapa bulan ketika dia menjabat untuk kedua kalinya pada Oktober 1993.

Jauh sebelumnya, Ratu Elizabeth juga melahirkan sewaktu ia mengawali beberapa tahun masa pemerintahannya. Sang Ratu naik tahta pada tahun 1952 dan melahirkan dua dari empat anaknya selama masa pemerintahannya. Andrew lahir pada tahun 1960 dan Edward lahir pada tahun 1964.

Lebih jauh dalam sejarah, Ratu Victoria memiliki sembilan anak selama masa pemerintahannya sejak 20 Juni 1837. Anak pertamanya, Victoria, lahir pada tahun 1840 dan anak bungsunya, Beatrice, lahir 17 tahun kemudian pada 1857.

Namun, Ardern boleh saja bukan pemimpin pertama yang memiliki anak saat menjalankan sebuah negara. Tetapi,  ia bisa menjadi satu-satunya pemimpin perempuan saat ini yang mengalami hal tersebut.

Sekalipun, sudah ada beberapa pemimpin perempuan di dunia, namun semua pemimpin tersebut tidak melahirkan anaknya saat mereka menguasai pemerintahan, seperti Perdana Menteri Islandia, Katrin Jakobsdottir.

Dalam pernyataannya kepada PBB, Ardern memuji Mandela, dengan mengatakan: “Jika Mandela bisa berdamai, begitu juga seluruh Afrika Selatan. Tindakan baiknya, baik kemenangan maupun rekonsiliasi, sudah menjelaskan siapa Nelson Mandela sesungguhnya”

Yang dimaksudkan Ardern dengan Nelson Mandela adalah kesediaannya untuk mengampuni, komitmennya untuk melakukan rekonsiliasi, dan kemampuannya untuk memimpin dan menginspirasi semua orang.