Polemik Rencana Pembuatan patung Jokowi di NTT

Polemik Rencana Pembuatan patung Jokowi di NTT

JAKARTA, dawainusa.com Kementerian Pariwisata berencana membangun patung Presiden Joko Widodo di Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Biro Humas Kemenpar Guntur Sakti.

“Itu keinginan dari kepala desa daan masyarakat setempat termasuk Pak Bupati. Jadi untuk memperkuat positioningnya destinasi digital yang sedang mereka bangun itu. Selain ada pohon asam Pak Jokowi, mereka ingin juga menghadirkan (patung) Pak Jokowi untuk menjadi daya tarik orang (agar) ingin datang ke sana,” kata Guntur, Sabtu (6/10).

Nantinya, pembangunan patung Jokowi itu akan diperuntukan sebagai wisata berfoto. Hal ini mirip dengan patung ‘Jokowi naik sepeda’ yang jamak ditemui di beberapa bandara di Indonesia.

Baca juga: Pertahankan Jilbab, Atlet Judho Didiskualifikasi di Asian Para Games

Namun secaara garis besar, Guntur menjelaskan bahwa konsep patung Jokowi ini tidak seperti patung konstruksi. Konsepnya adalah patung spot foto bagi papra pengunjung yang datang. “Nanti itu hanya spot selfie, destinasi digital,” terangnya.

Untuk masalah pembangunan nantinya akan digarap langsung oleh pemerintah daerah NTT. “Diserahkan kepada daerahnya, kapan rencana itu mau dibuat nanti dari pihak kita (Kemenpar) siap memberikan asistensi maupun dukungan,” ungkapnya.

Tuai Polemik

Rencana tersebut menuai sejumlah polemik. Kepala Bidang Bantuan Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai, rencana pembangunan patung Jokowi tersebut berlebihan.

Sebab, menurut dia, dana pembangunan patung tersebut dapat dialokasikan untuk program lain yang lebih berpotensi mendatangkan keuntungan dari sektor pariwisata.

Baca juga: Erick-Sandiaga: Persahabatan Akan Terus Dijaga, Pertemanan Kita Abadi

Ferdinand pun meminta masyarakat tak terburu-buru merencanakan pembangunan patung tersebut. Selain itu, menurut dia, Kementerian Pariwisata perlu mengkaji nilai ekonomis dari keberadaan patung tersebut.

“Patung ini simbol yang sensitif. Saya takut patung itu nanti bernasib sama dengan patung Saddam Hussein di Irak yang akhirnya dirobohkan,” ujarnya, seperti dilansir Tempo, Senin (8/10).

Selain itu, Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid mengatakan, pembangunan patung Jokowi di NTT tak relevan.

Sebab, ia menilai pembangunan patung hanya dilakukan untuk mengenang tokoh yang sudah meninggal. “Kembali ke Pak Jokowi apakah nyaman jika dibuatkan patung,” ujarnya.

Sementara itu Ketua DPP PAN Yandri Susanto menilai seharusnya Jokowi tidak berkenan dibuatkan patung ketika kondisi negeri sedang dirundung dua karena tertimpa bencana.

“Dengan situasi sekarang banyak bencana, kalau masalah menarik wisata, Indonesia kan sangat indah. Kalau mengelolanya baik, orang akan hadir. Mereka datang juga bukan karena patung Jokowi,” kata Yandri.

Lebih lanjut, dibanding membuat patung, Yandri meminta Jokowi memikirkan janji-janji kampanye yang belum dituntaskan selama empat tahun menjabat.

“Daripada menjadi pro dan kontra di publik, sebaiknya itu dipikirkan kembalu, (tetapi) sekali lagi kalau mau bikin (patung) suka suka dia ya,” terangnya.*