Polemik PKS-Gerindra Soal Posisi Wagub DKI, Soliditas Koalisi Terancam?

Polemik PKS-Gerindra Soal Posisi Wagub DKI, Soliditas Koalisi Terancam?

JAKARTA, dawainusa.com Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengaku sudah mempersiapkan dua nama untuk menggantikan posisi Sandiaga Uno sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Salah satu nama yang digadang-gadang menggantikan Sandi adalah mantan Wakil Wali Kota Bekasi, Ahmad Syaikhu.

Mantan Calon Wakil Gubernur Jabar ini masuk dalam daftar PKS, selain karena dinilai memiliki kapasitas, tetapi juga telah memenuhi kriteria dalam berbagai bidang yang juga terkait dengan latar belakangnya seperti pengelolaan keuangan.

“Pak Syaikhu memang sangat panjang kinerjanya, dalam konteks ini dalam STAN, dalam BPKP pernah, Wakil Ketua DPRD pernah, Wakil Wali Kota juga,” kata Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (18/9).

Baca juga: Mantan Jenderal Filipina Dipenjara Terkait Kasus Penculikan Aktivis

Selain menyampaikan usulan nama dari PKS, Hidayat juga menasihati Gerindra DKI Jakarta untuk tidak menyebarkan wacana lain terkait posisi wakil gubernur. Hidayat meminta Gerindra DKI untuk menghargai komitmen pimpinan pusatnya dengan PKS.

Seperti yang sudah diketahui, setelah Prabowo memilih Sandiaga dan tidak mengusung kader PKS sebagai cawapres, PKS mengklaim bahwa posisi gubernur dengan demikian jatuh pada kadernya. Namun, kesepakatan di antara kedua partai belum jelas.

Di level DKI, manuver kedua kader partai ini mencuat. Sehari sebelumnya, Abdurrahman Suhaimi, Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, sudah mengimbau kepada Gerindra agar menyetujui pilihan partainya.

Ia juga menasihati Ketua DPD Gerindra DKI Muhammad Taufik untuk tidak memaksakan diri menjadi pengganti Sandiaga. “Saya sih berharapnya Gerindra-PKS satu saja sudah, Pak Taufik enggak usah maju,” ujar Suhaimi, Senin (17/9).

PKS berharap agar Gerindra mengalah dan menyerahkan kursi wagub DKI kepada PKS. Dengan nada memperingatkan, PKS menyatakan bahwa sikap mengalah Gerindra dapat memperkokoh koalisi Pilpres 2019 dalam mendukung Prabowo-Sandi.

Meskipun demikian, Suhaimi mengakui bahwa ia belum menghubungi Taufik terkait pandangan partainya yang menginginkan Gerindra untuk tidak mengajukan nama calon wakil gubernur. Lalu, seperti apa pandangan Taufik?

Kepercayaan Diri Taufik dan Statusnya Sebagai Napi Korupsi

Nama Taufik digadang-gadang sebagai calon tunggal dari Gerindra untuk menggantikan posisi Sandiaga. Taufik mengatakan bahwa pertainya tidak akan menyerahkan begitu saja jabatan wakil gubernur kepada PKS.

Taufik menganjurkan agar PKS menuruti mekanisme yang selama ini terjadi yaitu melalui pencalonan dan voting. “Ya enggak kasih. (Gerindra dan PKS) nyalonin satu-satu saja, kan lebih bagus. Kemudian serahkan di DPRD, tanding di DPRD,” ucap Taufik.

Baca juga: Bersama Kwik Kian Gie, Sandiaga Dorong Isu Ekonomi di Pilpres 2019

Dalam kompetisi tersebut, Taufik merasa yakin bahwa partainya mampu mengalahkan PKS dalam voting di parlemen. Ketika ditanyai bahwa sikapnya dapat mempengaruhi soliditas partai koalisi untuk pilpres, Taufik bersikeras bahwa soliditas tidak bisa ditukar dengan kursi wagub DKI.

Di lain pihak, terkait pencalonan Taufik, Partai Solidaritas Indonesia mengeluarkan kritik keras terhadap Partai Gerindra. Ketua DPP PSI Tsamara Amany meminta Anies Baswedan, Gubernur DKI, untuk tidak menerima Taufik sebagai Wagub mengingat statusnya sebagai eks napi korupsi.

Jika Anies masih memiliki integritas, demikian Tsamara, ia sebagai gubernur yang dipilih rakyat seharusnya menolak usulan Gerindra Menurut Tsamara, sikap Gerindra bertentangan dengan sikap warga Jakarta yang tidak pernah memilih mantan koruptor sebagai wagub DKI.

“Apakah Gerindra sudah kehabisan stok orang baik dan kompeten sehingga seorang mantan narapidana korupsi harus dicalonkan sebagai wakil gubernur?” tanya Tsamara, Selasa (18/9). Selain itu, Tsamara terus mendorong publik untuk mengawasi isu krusial ini.

Ia memperingatkan masyarakat untuk memperhatikan persoalan ini, karena kalau tidak Taufik bisa lolos menjadi Wagub menggantikan Sandiaga. “Jangan sampai kita lengah dan seorang mantan koruptor dilantik menjadi Wagub DKI,” tuturnya.