Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem, 10 Negara yang Ikuti Jejak AS

Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem, 10 Negara yang Ikuti Jejak AS

Selain Honduras yang menyusul Guetemala, sederet negara lain seperti Togo, Paraguay, Rumania, dan Slovakia juga memilih memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem. (Foto: Kota Yerusalem - ist)

ISRAEL, dawainusa.com Setelah beberapa waktu lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump memindahkan kedutaan negeri Paman Sam itu ke Yerusalem, beberapa negara lain dilaporkan akan menyusul langkah Trump tersebut.

Selain Honduras yang menyusul Guetemala, sederet negara lain seperti Togo, Paraguay, Rumania, dan Slovakia juga memilih memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Kabar tentang pemindahan kedutaan negara-negara tersebut dikonfirmasi Deputi Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Hotovely.

“Menyusul pengumuman Guatemala untuk memindahkan kedutaan di Israel ke Yerusalem, sedikitnya 10 negara lain sedang dalam perbincangan untuk memindahkan misi mereka,” kata Tzipi Hotovely, seperti dilaporkan Times of Israel, Senin (25/12).

Baca juga: Alberto Fujimori, Bebasnya Sang Otoriter dan Kemurkaan Warga Peru

Relasi Israel dan Honduras, yang berbatasan dengan Guatemala beberapa tahun terakhir cukup baik. Pada 2016 lalu, kedua negara menandatangani kesepakatan di mana Israel sepakat untuk meningkatkan angkatan bersenjata negeri di Amerika Tengah itu, untuk memerangi kejahatan terorganisir.

Presiden Honduras Juan Orlandi Hernandez, yang terpilih kembali untuk masa jabatan kedua awal bulan ini, adalah lulusan Mashav, Badan Kerja Sama Internasional Israel. Bersama Guatemala, Honduras adalah salah satu dari sembilan negara yang menolak resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) soal Yerusalem.

Resolusi tak mengikat yang disahkan Majelis Umum PBB itu mengecam langkah Trump memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem, pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Tidak seperti Guatemala, yang memiliki kedutaan di Yerusalem sejak 1950 sampai 1980, saat PBB mengecam klaim Israel atas Yerusalem sebagai Ibu Kota, Honduras belum pernah memiliki kedutaan di Yerusalem.

Yerusalem dan Hubungan Ekonomi Politik

Sebelumnya, Presiden Guatemala Jimmy Morales telah mengeluarkan perintah untuk memindahkan kedutaan negaranya di Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem. Dalam sebuah posting Facebook, Morales mengatakan bahwa ia mengambil keputusan tersebut setelah berbicara dengan PM Israel Benjamin Netanyahu.

Guatemala adalah satu dari hanya tujuh negara -selain Amerika Serikat dan Israel- yang memberikan suara menentang resolusi PBB pekan lalu yang mendesak Amerika untuk membatalkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Baca juga: Rebut Patung Yesus Sambil Telanjang Dada, Alisa: Tuhan Adalah Perempuan

Guatemala, negara yang terletak di wilayah Amerika Tengah itu, memiliki hubungan ekonomi dan politik yang erat dengan Israel, selain bergantung secara ekonomi kepada Amerika Serikat. Kebijakan pemerintah Guatemala untuk memindahkan kedutaan besarnya di Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem, menjadi sorotan dunia. Mengapa itu dilakukan sebuah negara Amerika Tengah yang jaraknya ribuan kilometer dari Israel?

Guatemala, yang letak geografisnya berbatasan langsung dengan Meksiko, merupakan negara pertama yang mendukung Yerusalem merupakan ibu kota Israel dan akan memindahkan kedutaan besarnya ke kota itu, menyusul langkah Amerika Serikat.

Guatemala, bersama 12 negara lainnya, memiliki kedutaan besar mereka di Yerusalem sampai tahun 1980, ketika mereka akhirnya memindahkannya ke Tel Aviv setelah Israel mencaplok Yerusalem Timur. Langkah Israel menguasai Yerusalem Timur ini tidak diakui secara internasional. Sejauh ini semua negara masih menempatkan kedutaan besar mereka di kota Tel Aviv.

Guatemala dan Israel memiliki sejarah panjang hubungan politik, ekonomi dan militer. Negara di wilayah Amerika Tengah juga merupakan penerima utama bantuan AS – sesuatu yang oleh Donald Trump yang akan dicabut apabila negara penerima hibah itu mendukung resolusi PBB.

Pekan lalu, mayoritas anggota PBB dengan tegas mendukung resolusi yang menyatakan keputusan Yerusalem sebagai ibu kota Israel “batal demi hukum” dan harus dibatalkan. Pemungutan suara yang tidak mengikat disetujui oleh 128 negara bagian, 35 abstain, dan 21 negara lainnya tidak muncul saat pemungutan suara.

Selain Amerika Serikat dan Israel, Guatemala bergabung dengan Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau dan Togo yang menentang resolusi tersebut.* (AT)