Pilgub NTT, Jalur Independen Sepi

Pilgub NTT, Jalur Independen Sepi

Keterangan Ketua KPU NTT Maryanti Luturmas Adoe belum ada yang mendaftar melalui jalur independen untuk Pilgub NTT Juni 2018 mendatang. (Foto: Ilustrasi - ist)

KUPANG, dawainusa.com Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah membuka tahapan penyerahan dukungan bagi calon gubernur dan wakil gubernur NTT (2018-2023) dari jalur perseorangan, Rabu (22/11).

Namun sampai hari kedua, menurut keterangan ketua KPU NTT Maryanti Luturmas Adoe, Kamis (23/11) di Kupang, belum ada pasangan calon yang menyerahkan dukungan berupa surat pernyataan dukungan dan foto copy KTP.

Baca juga: Selebriti Politik, Sebutan Baru untuk Sang Panglima

“Jadi sampai saat ini belum ada yang datang untuk serahkan syarat dukungan,” ujar perempuan yang akrab disapa Maryanti, seperti dilansir tribunnews.com, Kamis (23/11).

Menurut Maryanti, syarat dukungan tersebut harus diserahkan oleh para bakal pasangan calon yang hendak maju tetapi bukan yang maju melalui jalur partai politik. Untuk tahapan ini menurutnya berlangsung sampai tanggal 26 November tahun ini.

Syarat Bagi Calon Perseorangan di NTT

Undang-Undang Pilkada Pasal 42 UU Nomor 8 Tahun 2015 memungkinkan satu pasangan calon maju sebagai kepala dan wakil kepala daerah melalui jalur perseorangan.

Artinya, tanpa harus dukungan dari partai politik dengan segala ketentuan yang ada dalam undang-undang tersebut.

Baca juga: Kilas Balik NPA, Pemberontak Sayap Kiri Partai Komunis Filipina

Syarat dukungan bagi calon perseorangan diatur dalam Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

Untuk Pilgub NTT, satu pasangan calon perseorangan yang ingin maju sebagai cagub dan cawagub harus mendapat dukungan 270.736 (8,5%) dari total jumlah pemilih di NTT.

Dukungan 270.736 berupa surat dukungan dan dilampir foto copy KTP tersebut harus menyebar merata di 12 kabupaten dan kota dari 22 kabupaten/kota di Provinsi NTT. Angka ini diperoleh dari total daftar pemilih tetap (DPT) pemilu terakhir tahun 2014 sebanyak 3.185.121.

Sementara, terkait pasangan calon yang maju melalui partai politik, harus memiliki minimal 13 kursi di DPRD NTT. Saat ini di DPRD NTT tidak ada satupun parpol yang dapat mengusung pasangan calon sendiri karena perolehan kursi tidak mencapai 13. Karena itu, parpol-parpol harus berkoalisi untuk bisa mengusung pasangan calon.

Pilgub NTT dan Calon Perseorangan

Dalam dua pesta demokrasi pemilihan langsung gubernur dan wakil gubernur NTT yakni tahun 2008 dan 2013 belum ada pasangan calon dari jalur perseorangan yang menang pemilihan.

Pilgub tahun 2008 yang dikuti oleh tiga pasangan calon yaitu Gaspar Parang Ehok- Julius Bobo (Gaul), Frans Lebu Raya- Esthon Foenay (Fren) , dan Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa (Tulus) tidak ada satu pun yang maju melalui jalur perseorangan. Semuanya maju melalui jalur partai politik.

Baca juga: Kilas Balik NPA, Pemberontak Sayap Kiri Partai Komunis Filipina

Sementara pada Pilgub tahun 2013, pasangan Drs. Christian Rotok – Ir. Abraham Paul Liyanto (Paket CristAL) yang maju melalui jalur perseorangan. Empat pasangan lain yakni Drs. Ibrahim Agustinus Medah – Emanuel Melkiades Lakalena, S.Si., Apt (Paket Tunas), Ir. Esthon L. Foenay, M.Si – Paul Edmundus Tallo, S.Sos. M.Par (Paket ESTHON-PAUL) Drs.

Frans Lebu Raya – Drs. Benny Alexander Litelnoni, SH, M.Si (Paket Frenly), dan Dr. Benny Kabur Harman, SH, MH – Willem Nope, SH (Paket BKH-NOPE maju melalui jalur parpol. Dalam Pilgub tersebut pun, paket Cristal gagal.

Dari dua momen pilgub ini, pasangan calon perseorangan tidak menunjukkan kesuksesan. Nah, akankah Pilgub NTT 2018 diikuti oleh pasangan calon perseorangan? Secara matematis masih mungkin namun sangat tergantung pada dinamika politik di provinsi termiskin tersebut dalam waktu-waktu mendatang.* (RSF)