Pilgub di NTT, Ini Lima Lembaga Quick Count yang Terdaftar di KPU

Pilgub di NTT, Ini Lima Lembaga Quick Count yang Terdaftar di KPU

Ketua KPU NTT Maryanti Luturmas Adoe mengatakan, pihaknya telah mendapat pemberitahuan resmi dari lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan quick count pada hari "H". (Foto: Ilustrasi - ist)

KUPANG, dawainusa.com Menjelang pemilihan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pilgub di NTT), sejumlah lembaga quick count menyatakan kesiapan untuk mengambil bagian dalam menyukseskan Pilgub di Provinsi Kepulauan itu.

Hingga hari ini, dua hari sebelum Pilgub, setidaknya ada lima lembaga hitung cepat (quick count) yang telah mendaftar diri ke KPU NTT. Kelima lembaga tersebut ialah Indo Barometer, Losta Institute, Saiful Mujani Research and Consulting, PT. Indikator (politik Indonesia) dan Jaringan Suara Indonesia.

Ketua KPU NTT Maryanti Luturmas Adoe mengatakan, pihaknya telah mendapat pemberitahuan resmi dari lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan quick count pada hari “H”.

“Kita sudah terima pemberitahuan resmi dari lembaga-lembaga itu. Mereka bersedia untuk melakukan perhitungan cepat atau quick count pada hari H pilgub NTT,” kata Maryanti di Kupang, Senin (25/6).

Baca juga: Flobamora United, Optimisme Harmoni di Lapangan Hijau

Menurut Maryanti, sebenarnya sudah ada enam lembaga perhitungan cepat yang mendaftar di KPU. Namun sampai saat ini, hanya lima lembaga tersebut yang administrasinya telah lengkap. “Sedangkan satunya belum, sehingga yang telah lengkap administrasinya hanya lima lembaga,” paparnya.

Dikatakan Maryanti, sebelum melakukan tugas, pihaknya perlu melakukan pertemuan dengan lembaga tersebut, sehingga bisa diketahui apa saja yang harus dilakukan oleh lembaga itu dan apa saja yang tidak boleh.

“KPU NTT akan melakukan pertemuan dengan lembaga hitung cepat atau quick count. Pertemuan ini untuk membahas hal-hal apa yang dilakukan lembaga itu dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan,” katanya.

Lembaga Pemantau

Sementara untuk lembaga pemantau, Maryanti mengatakan, ada satu lembaga untuk pemantau, yakni Bengkel Advokasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kampung (APPeK). “Jadi sampai saat ini lembaga pemantau yang sudah ‎mendaftar itu baru satu saja, yakni Bengkel APPeK,” katanya.

Ia mengatakan, pemantauan oleh Bengkel APPeK itu secara swadaya dan disesuaikan dengan sumber daya yang mereka miliki.

“Lembaga ini selalu lakukan pemantauan pilkada termasuk pilkada Kota Kupang dan di beberapa daerah. Jadi untuk sementara lembaga pemantau yang sudah resmi daftar itu adalah Bengkel APPeK,” ujarnya.

Baca juga: Tayangkan Hasil Survei, Data Metro TV Beda dari Narasumber

Terpisah, Direktur Bengkel APPeK Vinsen Bureni yang dikonfirmasi secara terpisah mengatakan, pihaknya adalah salah satu lembaga yang melakukan pemantauan pilgub NTT.

“Inti pemantauan kita selalu sesuaikan dengan isu-isu  yang dominan dan berkembang di masyarakat terkait pilgub. Selain itu juga kita melihat perbandingan dengan isu-isu pilkada sebelumnya,” kata Vinsen.

Vinsen menambahkan, dalam pemantauan, pihaknya juga turut memberikan pencerahan terhadap masyarakat dalam berpolitik.

“Salah satu contoh, kita juga lakukan nonton bareng debat pilgub dengan menghadirkan beberapa tokoh dan pengamat, sehingga ada pemikiran-pemikiran terhadap pilgub,” katanya.

Selain itu, dalam pemantauan pilgub, pihaknya juga merekam semua perkembangan yang terjadi dan isu-isu yang menarik di masyarakat. “Sedangkan untuk hari H pemungutan suara, kita akan pantau sesuai dengan sumber daya yang kami miliki saja. Karena itu, pasti kami pantai secara acak,” ujarnya.

Sekilas Pilgub di NTT dan Rekam Jejak Tokoh

Empat pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur akan memperebutkan 3.874.006 suara dalam Pemilihan Kepala Daerah serentak Nusa Tenggara Timur (Pilgub di NTT) pada Rabu (27/6). Pasangan pertama, Esthon Leyloh Foenay dan Christian Rotok yang diusung Gerindra dan PAN.

Pasangan kedua, Marianus Sae dan Emelia Julia Nomleni yang diusung PDI Perjuangan dan PKB. Pasangan ketiga, Benny Kabur Harman dan Benny Alexander Litelnoni yang diusung Demokrat, PKPI dan PKS. Pasangan terakhir, Victor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi yang diusung Golkar, Nasdem dan Hanura.

Sebelumnya pasangan AKBP Christofel Bagaisar dan Blasius Bobsen Nahak sempat menyerahkan syarat dukungan untuk maju. Tetapi karena syarat dukungan yang diminta, yakni sebanyak 272.300 pendukung dan tersebar di 12 kabupaten/kota tidak terpenuhi, maka KPUD Provinsi NTT menyatakan pasangan ini gugur.

Boleh dibilang, keempat pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur ini merupakan bintang di NTT. Maka sah jika dikatakan Pilkada 2018 di NTT merupakan perangnya para bintang.

Selain itu, tokoh-tokoh tersebut juga memiliki latar belakang dan rekam jejak yang berbeda dalam dunia politik maupun birokrasi. Eshton pernah maju di dalam Cagub NTT periode 2003-2008, tapi kalah oleh pasangan Piet Tallo-Frans Lebu Raya.

Baca juga: Hanafi dan Goenawan Mohamad, Cerita di Balik Kanvas 57 x 76

Tahun 2008, ia menjadi calon wakil gubernur mendampingi Frans Lebu Raya dan menang dalam Pilkada itu. Pasangan Eshton, Christian Rotok adalah mantan Bupati Manggarai selama dua periode, yakni 2005-2010 dan 2010-2015.

Sementara sosok Benny Kabur Harman cukup dikenal di tingkat nasional. Ia telah malang melintang sebagai praktisi hukum dan politikus. Pendidikan awal kebanyakan ia jalani di kampung halamannya.

Selepas SMA, yakni pada 1987, ia merantau ke Malang dan menempuh pendidikan Strata 1 di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia kemudian melanjutkan Magister Hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta pada 1997.

Pendidikan terakhirnya dijalani pada 2006, yakni Doktor di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia juga merupakan anggota Fraksi Partai Demokrat. Pasangan Benny, Benny Alexander Litelnoni adalah pria asal Niki-Niki, Amanuban Tengah, Timor Tengah Selatan,  NTT, yang lahir pada 5 Agustus 1956.

Saat ini, ia masih menjabat sebagai Wakil Gubernur NTT sejak 16 Juli 2013 mendampingi Gubernur Frans Lebu Raya.  Alexander pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Timor Tengah Selatan yang mendampingi Bupati Paul Victor Roland Mella sejak 6 Maret 2009 hingga 16 Juli 2013.

Sementara, nama Marianus Sae pernah menghebohkan jagad pemberitaan pada 2013 silam. Ia yang saat itu menjabat Bupati Ngada memblokir bandara dengan penerjunan personel Satpol PP karena manajemen maskapai penerbangan yang dinilainya buruk.

Pria kelahiran Kampung Bobajo, Mangulewa, Golewa, Ngada, NTT, 8 Mei 1962 itu memiliki riwayat pendidikan awal yang memprihatinkan. Saat SMP, ia terpaksa putus sekolah selama empat tahun karena himpitan ekonomi.

Selama itu, Marianus bekerja serabutan, mulai dari bertani, menjadi joki pacuan kuda, pekerja batu bata dan lain-lain. Namun berkat kerja kerasnya, ia bisa melanjutkan sekolah hingga ke tingkat universitas.

Ia berkuliah di Universitas Nusa Cendana, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Administrasi Pendidikan pada 1985 dan kemudian sukses sebagai pengusaha sekaligus aktivis.

Sementara, pasangan Marianus, Emelia Julia Nomleni terbilang sosok yang kurang dikenal di jagad politik tanah NTT. Ia tercatat pernah menjadi anggota DPRD NTT periode 2009-2014. Namun, setelah itu kader PDI Perjuangan itu tidak lagi terdengar sepak terjangnya.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dalam sebuah pemberitaan menyebut, memilih Emelia lantaran sosoknya yang sederhana, rapih, tekun dan berbakti kepada masyarakat kecil. Karakter keibuan itu yang membuat Megawati kepincut dengan Emelia.

Viktor Bungtilu Laiskodat juga merupakan sosok yang dikenal publik secara nasional. Saat ini, ia menjabat anggota DPR RI dari Partai NasDem dan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI. Namun, Viktor juga pernah menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar, yakni pada periode 2004-2009.

Nama pria yang juga pernah berkecimpung di dunia hukum tersebut semakin dikenal setelah berpidato di daerah pemilihannya saat reses, 2017 lalu. Pernyataannya mengenai bagaimana masyarakat NTT seharusnya menyikapi isu khilafah itu dinilai kontroversial.

Sementara pasangan Viktor Laiskodat, Josef Adreanus Nae Soi adalah politikus Golkar. Pria kelahiran Mataloko, Flores, NTT, 22 September 1952 itu adalah anggota DPR RI periode 2004-2009, yang dilanjutkan hingga 2014.

Josef mengawali kariernya sebagai akademisi. Ia diketahui pernah berprofesi sebagai guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Maumere Flores mulai tahun 1970 hingga tahun 1972.

Setelah itu, ia menjadi dosen Altri Kehakiman Jakarta. Ia pun melanjutkan pekerjaannya menjadi Pembantu Direktur III Altri Kehakiman Jakarta yang dijalaninya mulai tahun 2000 hingga tahun 2005. Ia mulai beralih ke dunia politik usai diajak politikus Golkar Akbar Tandjung.

Kariernya di bawah naungan partai pohon beringin itu perlahan-lahan juga menanjak. Ia tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar dari tahun 1998 hingga tahun 2005. Setelah itu ia menjadi Pokja DPP Partai Golkar.*