Pesan di Balik Aksi Teatrikal PMKRI pada Peringatan Hari HAM Sedunia

Pesan di Balik Aksi Teatrikal PMKRI pada Peringatan Hari HAM Sedunia

JAKARTA, dawainusa.com Dalam peringatan Hari HAM Sedunia pada 10 Desember 2018, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menyelenggarakan aksi damai di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Aksi yang diikuti PMKRI Cabang Jakarta Pusat, PMKRI Cabang Jakarta Timur, PMKRI Cabang Jakarta Barat dan PMKRI Cabang Selatan ini menampilkan teatrikal yang berjudul “Negara dan Ingatan yang Sedang Tidak Sehat”.

Naskah teatrikal yang ditulis oleh Yogen Sogen Pengurus Pusat PMKRI ini menyinggung persoalan kasus pelanggaran HAM masa lalu seperti Tragedi 65, Kerusuhan Mei, Penghilangan Paksa Mahasiswa, Semanggi I dan II, Tanjung Priok, Peristiwa Talang Sari Lampung, Pembunuhan Munir dan Pembunuhan 100 Orang Papua di luar hukum pada rentan waktu 2010-2018.

Baca juga: Komitmen Jokowi Soal Penegakan HAM dan Masa Depan Bangsa

Dalam pertunjukan ini, terlihat salah satu pemeran teatrikal memakai topeng wajah Novel Baswedan, berlutut sembari berteriak “tolong” kepada pengguna jalan yang lewat. Di sisi lain, ditampilkan sosok yang berperan sebagai korban pelanggaran HAM sedang diinjak dan dipukuli oleh seseorang yang berperan sebagai pemerintah.

Tetrikal ini menampilkan sosok negara yang berubah wujud menjadi pembunuh, tidak menjamin hak rakyatnya sebagai manusia. Lewat aksi ini, PMKRI hendak memberikan kritik atas ketidakkonsisten negara dalam menuntaskan kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

Di akhir naskah teatrikal ini, PMKRI juga mengecam sikap Pemerintah Joko Widodo yang seolah-olah lupa terhadap tanggungjawabnya untuk melindungi rakyat Indonesia dan juga akan segala janji penuntasan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu yang pernah dituangkannya melalui konsep “Nawacita”.

Naskah Lengkap Aksi Teatrikal Peringatan Hari HAM Sedunia PMKRI 

Baca juga: ‘Dapur, Sumur dan Kasur’ dalam Bingkai Hak Asasi Manusia

“Negara dan Ingatan yang Sedang Tidak Sehat”

“Bangsa kami bangsa pelupa

Negara kami negara pembunuh

Indonesia kami sedang direkeyasa dengan dalil pembangunan yang akut demi melenyapkan hutang janji “penyelesaian kasus HAM” masa lalu dalam kitab “Nawacita” yang kian tidak waras.

Nyawa warga sipil di Negara kami adalah jualan penguasa

Bau amis mesiu di dada rakyat adalah bukti kedangkalan moral dan rasa kemanusiaan di hidung penguasa yang kian anyir sedangkan Negara menutup mata.

Hidup Kami di era reformasi seperti dalam kubangan bangkai

Suara dan jeritan kami demi tegaknya kasus HAM agar bangsa kembali menjelma ingatan yang sehat, itu hanyalah ilusi belaka.

Tragedi 65, Kerusuhan Mei, Penghilangan aktivis mahasiswa, Semanggi I dan II, Tanjung Priok dan Peristiwa Talang Sari Lampung. Bahkan dalam rentang waktu 2o tahun reformasi seiring bertumbuhnya kesadaran tentang HAM disana-sini masih banyak korban pelanggaran HAM yang dilakukan oleh institusi negara seperti pembunuhan Munir (2004). Dalam kurun waktu 2010-2108 terjadi pembunuhan 100 orang Papua diluar hukum (unlawful killings).

Alih-alih menegakkan HAM, negara justru manjadi dalang dari pelbagai peritiwa di tanah air. Demokrasi yang seharusnya menjadi locus tumbuh suburnya HAM, justru menjadi awan gelap kematian bagi mereka yang bersuara lantang melawan ketidakadilan dan represivitas yang disebabkan oleh negara.

Upaya untuk menegakkan HAM dan menyelesaikan persoalan HAM berat masa lalu hanya menjadi janji manis elit demi mendulang suara.

Keparat… Sungguh ingatan kalian tidak sehat!!!

Lihatlah penguasa disini nyawa anak bangsa tergeletak tanpa perlindungan hukum dan rasa kemanusiaan dari negara.

Maka kami ingatkan, hati-hati jika amuk amarah dari kami tak lagi di bendung!!!*

 

COMMENTS