Perusahan Tambang, Kriminalisasi Petani dan 9 Tuntutan PMKRI Samarinda

Perusahan Tambang, Kriminalisasi Petani dan 9 Tuntutan PMKRI Samarinda

PT. Gerbang Daya Mandiri yang beroprasi di wilayah Kutai Karta Negara, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kelurahan Karang Tunggal, telah merusak lahan pertanian sawah milik masyarakat setempat. (Ilustrasi Kriminalisasi Petani - ist)

SAMARINDA, dawainusa.com PT. Gerbang Daya Mandiri (GDM) yang beroprasi di wilayah Kutai Karta Negara, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kelurahan Karang Tunggal, telah merusak lahan pertanian sawah milik masyarakat setempat (Samsudin, Made Murta, Yono, Gabriel), beberapa waktu lalu.

Operasi pertambangan tersebut, menyebabkan petani mengalami gagal panen selama tiga periode akibat banjir dan lumpur yang merendam padi dan sawah milik masyarakat.

Baca juga: Intelijen Bongkar Penyelundupan Miras yang Dibawa Pesawat TNI AU

Tak hanya itu, beberapa perusahaan seperti Pt. Toba Grub di Sangga-Sangga Kukar dan Pt. Lanna Harita di Sungai Lantung Samarinda melakukan hal yang sama. Lahan pertanian masyarakat diterobos hingga mengakibatkan kerusakan parah.

Ketua PMKRI Samarinda saat meninjau lokasi persawahan petani.

Ketua PMKRI Samarinda saat meninjau lokasi persawahan petani. (Foto: ist)

Namun anehnya, pihak Toba Group kini justru melaporkan petani (Sabran) akibat penutupan lahan miliknya yang di klaim Toba Grub sudah di beli. Hingga kini Sabran sudah menjalani peroses persidangan.

Di samping persoalan kriminalisasi petani, operasi tambang juga mengakibatkan sebuah rumah ibadah Gereja katolik St.Paulus Selatung terendam lumpur dan banjir. Kejadian pada tiga bulan lalu itu bertepatan dengan ibadah Jemaat setempat.

Akibat banjir dan lumpur tersebut, para jemaat tidak dapat melanjutkan proses ibadah karena harus membersihkan gereja. Hingga kini, persoalan yang melibatkan PT. Lanna Harita tersebut belum juga diselesaikan.

Kriminalisasi Petani, PMKRI Samarinda Turun Advokasi

Menanggapi kriminalisasi yang dilakukan pihak perusahan terhadap para petani Karang Tunggal, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Samarinda melakukan advokasi dan membantu masyarakat yang kebingungan lantaran belum mendapat respon serius dari pihak pertambangan dan pemerintah setempat.

Baca juga: Detik-detik Komodo Gigit Yosep, Dominikus Sempat Tarik Ekor

“PMKRI Samarinda akan melakukan advokasi dan membantu masyarakat dalam menyelesaikan kasus ini,” ungkap salah satu Presidium PMKRI Cabang Samarinda, Hengky Walang, melalui rilis yang diterima dawainusa.com, Sabtu (2/12).

Salah satu Presidium PMKRI

Salah satu Presidium PMKRI Samarinda saat melakukan advokasi di lahan persawahan petani. (Foto: ist)

Pada tanggal 27 oktober 2017, PMKRI Cabang Samarinda terjun ke lokasi untuk mendapatkan kebenaran informasi terkait masalah tersebut. Kemudian, PMKRI Samarinda melayangkan surat ke Komisi 1 DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Namun, hingga kini, surat yang dilayangkan PMKRI Samarinda tak kunjung ditanggapi.

Gelar Aksi, Lahirkan 9 Tuntutan

Pada tanggal 27 November 2017, bersama dengan beberapa organisasi kemahasiswaan dan petani yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kaltim Peduli Sosial menggelar aksi untuk mendesak Pemerintah Provinsi Kaltim lebih sigap dalam menangani kasus tersebut.

Lahan Persawahan MAsyarakat

Lahan Persawahan Masyarakat. (Foto: ist)

Aksi yang dikomandoi Silvester Hengki tersebut melahirkan sembilan tuntutan, diantaranya:

1. Cabut izin tambang Gerbang Daya Mandiri yang telah merusak lahan pertanian di karang tunggal
2. Cabut izin tambang Toba Grub yang telah menerobos lahan petani di sanga-sanga.
3. Stop kriminalisasi petani yang di alami petani sanga-sanga
4. Pemerintah wajib hadir ketika ada perusahaan tambang melakukan pelanggaran
5. Desak perusahaan menganti rugi lahan petani yang telah di rusak
6. Dan kembalikan lingkungan yang bersih dan sehat di sungai lantung
7. Meminta pertanggung jawaban Pt. Lanna harita atas banjir yang menimpa gereja katolik st. Paulus sei lantung samarinda
8. Meminta pemerintah kota samarinda lebih memperhatikan dari segi air bersih untuk masyarakat sungai lanting dan sekitarnya
9. Berdayakan petani demi tercapainya program swasembada.* (AT)