Pertunjukan ‘Cuy’ dan Upaya Menafsir Ulang Makna Kebertubuhan

Pertunjukan ‘Cuy’ dan Upaya Menafsir Ulang Makna Kebertubuhan

FOKUS, dawainusa.com “Cuy, gimana nolong elu buat pindah dari jaman BB ke jaman Z?” Demikian judul pertunjukan yang ditampilkan dalam sesi penutupan Festival Teater Jakarta 2018 di Taman Ismail Marzuki pada Kamis (29/11) malam kemarin.

Pertunjukan ini menampilkan sosok Tony Broer, seorang aktor legendaris yang besar pada era ketika tubuh dipandang sebagai sebuah identitas. Artinya, tubuh merupakan suatu bagian dari cara hidup manusia dengan dunia.

Tubuh merupakan suatu dimensi yang menentukan ‘kedirian’ atau ‘keakuan’ seseorang. Lewat tubuh setiap orang bisa ‘mendunia’, berada di tengah dunia, dan berada bersama dengan yang lain.

Dengan demikian, tubuh merupakan suatu syarat yang menentukan pemenuhan diri dari seseorang. Orang bisa mendapatkan pemahaman akan dirinya lewat optimalisasi fungsi dan potensi yang dimiliki tubuhnya.

Baca juga: Sofisme di Era Digital, Siapa yang Mendikte Kebenaran?

Toni Broer sendiri ialah seorang tokoh yang telah lama berkecimpung di dalam dunia teater. Dalam konteks pertunjukan teater, ia memberikan perhatian penuh pada keunggulan tubuh.

Tubuh dipandang sebagai suatu sarana untuk mencengkeram realitas. Artinya, cengkeraman maksimal atas realitas hanya bisa dilakukan manusia lewat kebertubuhan.

Konstruksi teater yang memberikan perhatian penuh pada keunggulan tubuh ini menghadapi persoalan di tengah perkembangan teknologi digital seperti yang ada saat ini.

Pengalaman kebertubuhan yang selama ini diperhatikan secara maksimal terlihat “raib” di hadapan aktivitas manusia yang selalu terpaut dengan teknologi digital yang ada.

Tubuh sebagai sebuah identitas sebagaimana dipandang dalam era Toni Broer ini akan dihadapkan dengan fakta tubuh-digital. Dalam konteks teknologi digital, fungsi tubuh sebagai sarana untuk mencengkeram realitas menjadi “menurun”.

Relasi yang terjalin di dalam era teknologi digital tidak lagi tergantung pada tubuh. Sebab teknologi digital telah memungkinkan terciptanya suatu ruang baru, yaitu sebuah ruang yang tak berbentuk dan tak berukur, namun nyata, yang disebut dengan “ruang maya”.

Dalam ruang maya ini, praktik-praktik eksistensial dari pengada-pengada yang ada tidak lagi tergantung pada adanya ruang fisik yang memiliki kejelasan bentuk, dapat diraba, dan bisa diukur. Interaksi pada ruang maya bisa terjadi kapan saja dan dimana saja serta kepada siapa saja.

Toni Broer

Toni Broer – ist

Menafsir Ulang Makna Kebertubuhan

Perkembangan teknologi digital yang berhasil melahirkan ruang maya sebagai wadah interaksi baru itu cukup menantang dan memaksa setiap orang untuk menafsir kembali tentang makna “kebertubuhan”.

Pertunjukan yang akan ditampilkan pada sesi penutupan FTJ 2018 ini sendiri merupakan suatu usaha untuk mempertanyakan keberadaan tubuh itu di tengah guncangan arus teknologi digital yang berkembang dengan sangat cepat itu.

“Bagaimana keberadaan tubuh di masa mendatang di tengah perkembangan teknologi digital yang ada?” Pertanyaan tersebut tentu saja sangat berarti dan cukup relevan ketika diajukan kepada generasi Z yang menjadi perspektif FTJ 2018 ini.

Generasi Z sebagai sebuah kategori demografis masyarakat modern ditantang untuk melihat kembali keberadaan tubuhnya secara khusus dalam kegiatan interaktifnya yang cukup intens dilakukan di ruang maya.

Masih perlukah tubuh itu dipandang sebagai sarana pertukaran pengalaman, ide, gagasan, cara hidup dengan orang lain, dunia, alam sekitar, dan juga kepada Tuhan?

Baca juga: 15 Group Teater Akan Meriahkan Festival Teater Jakarta 2018

Apakah tubuh tidak lagi dilihat sebagai sebuah sarana pengungkapan diri manusia kepada yang lain, kepada dunia, kepada alam, dan kepada Tuhan. Sebab, berbagai macam bentuk pengungkapan dan juga ekspresi sudah bisa digantikan dengan berbagai macam sarana yang ada di dalam teknologi digital?

Sebagai contoh, ketika seseorang hendak memberikan ucapan “Happy Birthday” kepada keluarga, teman atau sahabatnya. Dengan perkembangan teknologi digital yang ada, orang tidak lagi harus menyampaikan hal itu dengan tergantung pada tubuh.

Ia bisa saja memberikan ucapan itu hanya dengan mengklik tombol emoticon yang ada di gagdetnya, meskipun tetap melibatkan tubuh untuk melakukannya. Tetapi fungsi tubuh yang ada di sana tidak lagi dipakai secara optimal.

Dalam bincang-bincang dengan Toni Broer dan Koreografer Yola Yulfianti, pertunjukan yang akan dipentaskan dalam penutupan FTJ ini sendiri berusaha mengajak publik untuk merefleksikan tentang keberadaan tubuh tersebut.

Sebagai sebuah ajakan reflektif, pertunjukan itu tidak bermaksud untuk memberikan semacam jawaban kepada publik tentang makna tubuh. “Tujuan dari karya ini bukan pernyataan tetapi pertanyaan, bagaimana tubuh di masa mendatang,” kata Yola.

Dengan kata lain, pertunjukan ‘Cuy’ ini dapat dimaknai sebagai sebuah pementasan yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada publik untuk menarik berbagai macam kemungkinan tentang tubuh di masa yang akan datang.

Pertunjukan Toni Broer di Penutupan FTJ 2018

Pertunjukan Toni Broer di Penutupan FTJ 2018 – ist

Proses Kolaborasi

Pertunjukan ‘Cuy’ ini merupakan suatu kolaborasi. Apa yang ditampilkan lewat karya tersebut merupakan hasil perundingan yang dilakukan oleh dua sosok yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Toni Broer sendiri ialah seorang yang berada dalam dunia teater dengan perhatian optimal pada tubuh.

Sementara Yola merupakan seorang yang berlatar belakang seni tari. Berbeda dengan Toni Broer yang memberi jarak yang maksimal bahkan menolak teknologi, Yola ialah seorang yang hidupnya masih terbuka terhadap perkembangan teknologi.

Baca juga: Kemeriahan Festival Kopacol dan Harapan Dibaliknya

Artinya, ia adalah seorang yang terpaut tetapi sekaligus kritis terhadap perkembangan teknologi digital yang ada. Kritis artinya ia tetap memberikan ruang bagi kebebasannya sendiri, yakni tidak dengan mudah terjebak dalam pengendalian secara total oleh teknologi digital tersebut.

Dua alam pikiran ini merupakan latar di balik pertunjukan ini. “Sejak awal dari ide dan pengembangan karya sampai kepada hasil dirundingkan dan diputuskan bersama,” kata Yola.

Yola Yulfianti

Yola Yulfianti – ist

“Pertemuan kolaborasi ini memang dikawinkan oleh kurator FTJ yang sekarang. Artinya komite teater. Komite teater melihatnya paradok dalam penggunaan karya, medium karya. Jadi medium karya saya memang selalu pakai teknologi. Nah, sedangkan Mas Toni Broer malah tidak ada teknologi sama sekali emang kekuatan tubuh,” lanjut dia.*

COMMENTS