Pernyataan Mendikbud, Kado Hitam Jelang Ultah NTT

Pernyataan Mendikbud, Kado Hitam Jelang Ultah NTT

Pernyataan Mendikbud seolah menjadi kado hitam jelang HUT NTT ke-59, sebuah beban dan tanggung jawab yang perlu segera dituntaskan. (Foto: Dian Sastro bersama anak-anak di pulau Sumba, NTT - Instagram/@therealdisastr)

EDITORIAL, dawainusa.com Tidak lama lagi, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan merayakan hari jadinya yang ke-59. Presiden Jokowi juga dikabarkan hadir dalam perayaan syukuran ulang tahun provinsi yang terletak di wilayah Kepulauan Sunda Kecil itu.

Di tengah persiapan tersebut, masyarakat NTT dihadapkan dengan komentar pedas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendi yang menyentil kualitas pendidikan (siswa-siswa) di NTT.

Baca juga: Di Mata Mendikbud, NTT Adalah Borok Pendidikan Indonesia

Komentar Effendi merujuk pada hasil rilis Program For Internasional Student Assesment (PISA) dalam kurun waktu 2012-2015 yang menempatkan kualitas pendidikan Indonesia di posisi buntut ketimbang negara-negara lain.

Menurut Effendy, metode survei penelitian yang dilakukan oleh PISA bersifat parsial karena hanya menyertakan sampel tertentu dari suatu negara. Ia menyayangkan, PISA tidak melihat secara komprehensif kualitas pendidikan di Indonesia.

“Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semuanya,” kata Effendy, seperti yang dikutip Koran Jawa Pos, (4/12/2017).

Pernyataan Mendikbud, Didasarkan Atas Apa?

Menariknya, sampel yang diambil PISA untuk survei tersebut diambil dari 6.513 siswa usia 15 tahun hingga 15 tahun 11 bulan, dari 236 sekolah di seluruh Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah total siswa dari 236 sekolah yang dirilis PISA itu semuanya dari NTT?

Kekhawatiran Pak Menteri sebetulnya hendak menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui dengan pasti sampel data yang diambil PISA dalam melakukan survei. Jika dugaan ini benar, maka ini menjadi catatan buruk bagi Pak Menteri.

Banyak pihak yang mengecam pernyataan Mendikbud sebab dinilai telah melukai hati masyarakat NTT. Tetapi, tidak sedikit juga yang sepakat dengan apa yang disampaikannya; bagi mereka pernyataan itu perlu dilihat sebagai cambuk untuk perubahan NTT di bidang pendidikan.

Pengamat Politik Boni Hargens, kepada dawainusa.com, mengkritik keras pernyataan yang dilontarkan Effendi. Putra asal NTT itu rupanya tidak sepakat jika NTT menjadi referensi merosostnya mutu pendidikan Indonesia di tingkat dunia.

“Mutu pendidikan Indonesia merosot di tingkat dunia. Mendikbud Effendy bilang, “Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semua.” Menteri Goblok namanya! Saya orang NTT, saya yakin jauh lebih cerdas dari menteri goblok ini!” tegas Boni.

Hasil Tes PISA

Hasil literasi Programme for International Students Assessment (PISA) pada 2015 lalu itu dirilis 6 Desember 2016. Program yang digagas Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini, melakukan evaluasi berupa tes dan kuisoner pada beberapa negara yag ditujukan pada siswa-siswi yang berumur 15 tahun. Kalau di Indonesia sekitar kelas IX atau X.

Survey PISA dilakukan tiap tiga tahun sekali, dimulai sejak tahun 2000. Adapun materi yang dievaluasi adalah sains, membaca, dan matematika. Jadi, tes dan survey PISA berikutnya akan dilakukan pada 2018 dan hasilnya baru akan dirilis di tahun 2019.

Adapun hasil tes dan survey PISA pada tahun 2015 melibatkan 540.000 siswa di 70 negara, dianalisa dengan hati-hati dan lengkap, sehingga survey dan tes tahun berjalan baru bisa didapatkan pada akhir tahun berikutnya. Mengingat hal itu, pernyataan Mendikbud yang menyentil ‘hanya’ siswa-siswa dari NTT yang diambil sebagai sampel, patutlah dipertanyakan.

Bagaimana dengan performa siswa-siswi Indonesia dari hasil tes dan survey PISA 2015? Dari hasil tes dan evaluasi PISA 2015 performa siswa-siswi Indonesia masih tergolong rendah. Berturut-turut ,rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69 negara yang dievaluasi.

Peringkat dan rata-rata skor Indonesia tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil tes dan survey PISA terdahulu pada tahun 2012 yang juga berada pada kelompok penguasaan materi yang rendah.

Baca juga: HUT NTT Ke-59, Presiden Jokowi Direncanakan Hadir

Melihat dari indikator utama berupa rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia di bidang sains, matematika, dan sains memang mengkhawatirkan. Apalagi kalau yang dilihat adalah peringkat dibandingkan dengan negara lain.

Tersirat kekhawatiran kita tentang kemampuan daya saing kita pada masa yang akan datang. Jangankan dibandingkan dengan Singapura yang menjuarai semua aspek dan indikator penilaian, dengan sesama negara Asia Tenggara yang lain pun kita tertinggal.

Tercatat, Vietnam yang jauh di peringkat atas dan dan Thailand yang juga unggul di atas Indonesia. Pada sisi lain, peringkat Indonesia sebenarnya naik dari hasil tes dan survey PISA 2012. Contohnya, untuk bidang matematika dari pada PISA 2012 berada di peringkat 64 dari 65 negara yang dievaluasi.

Salah satu hal yang menarik adalah indeks kesenangan belajar sains (index of enjoyment of learning science) Indonesia yang cukup tinggi yaitu 0,65, lebih tinggi dari indeks yang didapatkan oleh negara-negara yang memperoleh skor tinggi seperti Singapura sebesar 0,59 atau bahkan Jepang -0,33.

Pernyataan Mendikbud: Kritik Pedas Jelang Perayaan HUT NTT ke-59

Sejumlah persoalan seperti kemiskinan, keterbatasan sarana pendidikan, kesehatan, perhubungan, komunikasi, kondisi iklim yang kurang bersahabat, korupsi dan human trafficking, sebenarnya telah menjadi bahan diskusi banyak pakar dan peneliti.

Soal kemiskinan, misalnya. Laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dirilis pada Juli lalu menyatakan, angka penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur pada bulan Maret 2017 berjumlah 1.150,79 ribu orang (21,85 persen), meningkat sekitar 710 orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2016 yang berjumlah 1.150,08 ribu orang (22,01 persen).

Baca juga: Tiga Tantangan Hadi Tjahjanto Ketika Menjadi Panglima TNI

Sementara itu, periode September 2016 – Maret 2017, Garis Kemiskinan (GK) naik sebesar 5,01 persen, yaitu dari Rp327.003,- per kapita per bulan pada September 2016 menjadi Rp343.396,- per kapita per bulan pada Maret 2017.

Di sisi lain, tingkat partisipasi pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, saat ini masih sangat rendah, ditandai dengan banyak siswa setara SMP tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau sederajat.

Persoalan lainnya adalah, mutu pendidikan yang juga sampai saat ini masih di bawah kualitas yang diharapkan karena sejumlah faktor seperti alokasi anggaran yang diberikan ke dunia pendidikan di provinsi yang berkarakter kepulauan itu.

Ada banyak sarana dan prasarana pendidikan yang terpaksa harus berada dalam kondisi apa adanya karena kekurangan anggaran perbaikan dan kualitas guru yang masih jauh dari yang diharapkan.

Deretan persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, khususnya oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kondisi ini tentu menjadi dasar refleksi seluruh jajaran kependidikan di NTT, termasuk seluruh masyarakat dan komponennya.

Tentu, komentar menteri Effendi menambah beban dan tanggung jawab yang harus segera diselesaikan. Apalagi, komentar tersebut menjelang perayaan hari jadi NTT yang ke-59. Anggaplah pernyataan mendikbud sebagai kado hitam untuk Nusa Tenggara Timur.*

Salam Redaksi !!!