Perludem Sebut Dua Tantangan Bagi KPU di Kampanye Terbuka

Perludem Sebut Dua Tantangan Bagi KPU di Kampanye Terbuka

"Kampanye yang pragmatis mengedepankan citra, simbol. Akhirnya, politik gagasan jadi tambah jauh."

Dawainusa.com – Direktur Perludem Titi Anggraini menyebutkan, ada dua tantangan terbesar bagi KPU di kampanye terbuka. Tantangan tersebut yakni penyebaran berita hoax dan politik uang. Hal ia sampaikan melihaat perkembangan pemilu menjelang pelaksanaan pemungutan suara.

Menurut Aggaraini, kontestan pemilu masih menggunakan cara pragmatis untuk menang. Bisa jadi, pilihan cara seperti sangat mudah untuk dilakukan. Namun, ia mengingat, strategi seperti ini dapat merusak iklim demokrasi di Indonesia.

“Kampanye yang pragmatis mengedepankan citra, simbol. Akhirnya, politik gagasan jadi tambah jauh,” kata Titi di Jakarta, Senin,(24/3/2019)

Hari ini, demikian Anggaraini, masyarakat lebih suka dengan politik adu gagasan. Masyarakat juga memilih melihat program yang disampaikan oleh para politisi. Kondisi seperti ini, lanjutnya, merupakan tanda -tanda masyarakat sudah cerdas dalam melihat politik.

Ia menegaskan, penyelenggara pemilu mesti harus cerdas membaca keadaan di masyarakat. Pengawasan pelaksaan kampanye terbuka mesti dilakukan secara ketat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara bersinergi dengan kelompok masyarakat yang aktif memantau pemilu.

BacaSiti Zuhro: Keberadaan DPD Telah Menyimpang dari Tujuan Awal

KPU Jadi Target Berita Hoax

Titi Anggarini juga menjelaskan, berita hoax tidak hanya menyasar masyarakat biasa. Produksi berita hobong juga menyasar para penyelenggara pemilu. Karena itu, ia mengingatkan agar tetap selektif menilai pemberitaan yang muncul dari media.

Berhubung pemilu memasuki fase kampanye terbuka, peserta pemilu semakin giat melakukan kampanye. Strategi kampanye dari peserta pemilu sifat sangat variatif. Ada kampanye secara positif, ada juga kampanye secara negatif.

Ia sendiri melihat kecendrungan kampanye hari ini kurang menarik. Terlebih karena upaya penyebaran berita hoax yang secara sengaja dilakukan. Ia menambahkan, berita hoax semakin masif pada saat pelaksaan kampaye terbuka menjelang pemilihan.

“Kami menduga penyebaran ini punya potensi meningkat di masa kampanye rapat umum dr masa tenang, ini kesempatan terakhir untuk membangun afeksi dukungan pemilih,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, berbagai strategi dilakukan oleh peserta pemilu menjelang pemilihan. Bisa jadi, berita hoax merupakan salah pilihan untuk meraih dukungan masyarakat. Namun, ia menegaskan, cara-cara seperti ini hanya akan merusak peradaban demokrasi Indonesia.

BacaAHY: Tenaga Honorer Kurang Diperhatikan Selama Masa Jokowi

Politik Uang Jadi Tantangan Terberat KPU

Titi kembali menjelaskan, salah satu tantangan terberat KPU yakni politik uang. Politik uang masih menjadi primodona pada setiap kali penyelenggaran pemilu. Jika penyelenggara tidak bekerja keras, hal ini akan berdampak pada hasil pemilu.

Menurutnya, politik uang tidak hanya merusak politik sistem pemilu di Indonesia. Lebih dari itu, politik uang tidak akan mengubah mental masyarakat untuk melakukan perubahan. Karena itu, penyelenggara pemilu harus menjadi orang terdepan untuk melawan politik uang.

Selain itu, ia juga mengungkapkan potensi terjadinya kekerasan dalam pemilu. Kekerasan bisa saja muncul dan dilakukan oleh siapa saja yang berkepentingan. Namun, ia sendiri berharap, pemilu kali berjalan dengan damai dan santun.

BacaSoal Kampanye Terbuka, Ini Pesan Wakil Ketua MPR Mahyudin

“Kekerasan pemilu dibagi tiga, fisik atau luka, serangan milik negara atau pribadi, ancaman untuk melakukan kekerasan dan penyerangan terhadap fasilitas properti,”

Terhadap adanya potensi kekerasan dalam pemilu, Titi berharap, pihak keamanan mampu mencegahnya. Sebab, kekerasan yang sifat kecil akan berpotensi menyulut konflik yang lebih besar di masyarakat. Ia menambahkan, masyarakat diminta untuk saling menjaga dan menghargai pilihan politik masing-masing.

Untuk diketahui, pelaksanaan pemilu sudah memasuki masa kampanye terbuka. Kedua pasangan di pilpres telah melakukan kampanye pertama sesuai dengan jadwal masing-masing.

Adapun pasangan capres dan cawapres Jokowi dan Maruf Amin, memulai kampanye dari Banten. Sedangkan, pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno berkampanye menado dan Makassar, Sulawesi Selatan.

COMMENTS