Perjanjian Cina-Vatikan, Sebuah Ancaman Diplomatik Bagi Taiwan?

Perjanjian Cina-Vatikan, Sebuah Ancaman Diplomatik Bagi Taiwan?

JAKARTA, dawainusa.com – Setelah Cina-Vatikan menandatangani perjanjian yang mengakhiri 67 tahun kerenggangan pada Sabtu (22/9), Taiwan khawatir hubungan diplomatiknya dengan Vatikan terancam. Vatikan adalah satu dari 17 negara yang memiliki hubungan diplomatik yang penting  bagi Taipei.

Berdasarkan perjanjian, Gereja Katolik dan pemerintah Cina  menyepakati penunjukan uskup Katolik di Tiongkok. Gereja Katolik selalu menekankan otonomi dalam pengangkatan para uskup. Di sisi lain, Cina bersikukuh bahwa para uskup Katolik harus disetujui negara.

Melansir DW, di Cina, hanya gereja-gereja yang disetujui negara yang diizinkan beroperasi di bawah Asosiasi Katolik Patriotik Cina. Namun, setengah dari perkiraan 12 juta umat Katolik di sana bergerak dalam Gereja “bawah tanah” dan menjadi sasaran penindasan.

Baca juga: Awasi Minoritas Muslim Uighur, Cina Pakai Kecerdasan Buatan

Berdasarkan perjanjian itu, Vatikan akan mengakui tujuh uskup Katolik yang ditunjuk negara Cina. Pada gilirannya, Beijing akan mengenali sejumlah 36 uskup yang ditunjuk Vatikan yang selama ini bekerja dengan jemaat di gereja-gereja bawah tanah.

Setelah perjanjian itu diumumkan, seorang juru bicara Vatikan mengatakan bahwa langkah itu “tidak politis tetapi bernilai pastoral” dan memungkinkan Vatikan “memiliki uskup yang bersekutu dengan Roma, tetapi pada saat yang sama diakui oleh otoritas Cina.”

Republik Rakyat Cina menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Ketika Paus Fransiskus memunculkan niat kesepakatan dengan Cina beberapa tahun lalu, muncul spekulasi bahwa Beijing akan mendesak Vatikan agar memutuskan hubungan diplomatik dengan Taipei.

Sekarang, Taiwan ingin menunjukkan bahwa hubungannya dengan Vatikan baik-baik saja. Menurut media lokal, Wakil Presiden Taiwan Chen Jien-jen berencana untuk memimpin delegasi ke Vatikan pada bulan Oktober untuk kanonisasi Paus Paulus VI dan uskup agung Salvador Romanzo yang terbunuh.

Meskipun Chen adalah tamu negara Vatikan, dia tidak diizinkan mengunjungi wilayah lain Eropa, karena tekanan politik dari Cina yang ingin mengisolasi Taiwan secara internasional. Namun, Vatikan menawarkan peluang bagi Taiwan untuk menampilkan diri sebagai mitra sejajar dalam arena politik.

Beberapa tahun sebelumnya, pada 2013, Presiden Ma Ying-jeou diundang ke Roma untuk menghadiri upacara pelantikan Paus Fransiskus. Foto-foto di media menunjukkan bahwa dia sedang berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Hubungan Diplomatik Vatikan-Taiwan Terancam?

Pada sisi lain, Taiwan sudah berapa kali mengalami pemutusan hubungan diplomatik dari negara lain karena tekanan Cina. Sejak pelantikan Presiden Tsai Ing-wen pada tahun 2016, Cina telah berhasil membujuk lima negara untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Strategi Beijing telah membatasi ruang politik Taiwan. Perseteruan utama antara Tsai Ing-wen dan pemerintah Cina terletak pada penolakannya untuk mendefinisikan Taiwan sebagai bagian dari “satu Cina.” Sikap Tsai ini berbeda dengan pendahulunya.

Sementara Cina menggunakan kekuatan ekonominya untuk memiringkan hubungan diplomatik demi kepentingannya. Namun, taktik tersebut tidak dapat menggoda Vatikan. Ada aspek lain yang lebih penting bagi Vatikan daripada masalah keuangan.

Baca juga: Paus Fransiskus Soal Kesepakatan Denuklirisasi Semenanjung Korea

Aspek tersebut adalah, sekitar 12 juta umat Katolik tinggal di Cina dan banyak dari mereka menghadapi pelecehan dari Partai Komunis Cina. Sebagai perbandingan, sekitar 300.000 umat Katolik tinggal di Taiwan dan dapat mempraktikkan iman mereka dengan bebas.

Oleh karena itu, pada bulan Mei, ketika pembicaraan antara Cina dan Vatikan berlangsung, tujuh uskup Taiwan mengunjungi Roma pertama kalinya dalam 10 tahun untuk bertemu dengan Paus. John Hung, uskup agung Taiwan, mendesak Paus Fransiskus untuk melindungi Taiwan.

Ia mengatakan kepada penyiar Radio Free Asia bahwa komunitas Katolik Taiwan akan sangat kecewa bila perjanjian tersebut menimbulkan putusnya hubungan diplomatik antara Vatikan dengan Taiwan.

Dalam wawancara tersebut Hung mengatakan bahwa ia telah diyakinkan oleh Paus bahwa Taiwan tidak akan ditinggalkan oleh Vatikan. Dia juga mengundang Fransiskus ke Taiwan pada 2019 dan Ini akan menjadi kunjungan pertama oleh seorang Paus ke pulau itu.

Apakah kunjungan Paus Fransiskus ke Taiwan dapat direalisasikan di tengah membaiknya hubungan diplomatiknya dengan Cina? Vatikan barangkali membutuhkan strategi diplomasi khusus terkait kunjungan tersebut dan tidak tunduk begitu saja terhadap kemauan Cina untuk menekan Taiwan.*