Perdebatan di Balik Pembakaran Bendera yang Dipakai HTI

Perdebatan di Balik Pembakaran Bendera yang Dipakai HTI

JAKARTA, dawainusa.com – Aksi pembakaran bendera yang memuat tulisan tauhid oleh sejumlah pria berseragam Bantuan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) di Garut, Jawa Barat pada Minggu (21/10) lalu sampai saat ini masih menyisahkan sejumlah perdebatan.

Pihak Banser sendiri telah menjelaskan tentang motif di balik aksi pembakaran bendera tersebut. Mereka melakukan demikian karena bendera tersebut dianggap sebagai atribut yang dipakai oleh salah satu kelompok radikal yang sudah secara resmi dilarang di Indonesia, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Meski demikian, rupanya ada pihak yang tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh pihak Banser tersebut. Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) misalnya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pihak Banser tersebut sudah termasuk penghinaan agama.

Baca juga: Bendera Dibakar, dari Kemarahan FPI hingga Klaim Selamatkan Tauhid

Alasannya ialah karena tulisan yang dimuat di dalam bendera yang dibakar tersebut secara substansial merupakan kalimat yang baik. Kalimat dengan arti “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan Allah” sebagaimana dimuat di dalam bendera tersebut merupakan bentuk monoteisme.

Banser Membakar Bendera HTI

Banser Membakar Bendera HTI – ist

“Secara substansial dia itu adalah kalimat yang baik, monoteisme. Oleh karena itu pembakaran kalimat tauhid itu adalah sebuah penghinaan dan perilaku yang bodoh,” jelas Junaidi dilansir BBC, Kamis (25/10).

Pendapat berbeda disampaikan oleh seorang intelektual Islam bernama Akhmad Sahal. Dengan tidak melihat isi dari tulisan tersebut, menurut dia, bendera dengan tulisan tauhid tersebut telah disalahgunakan oleh HTI.

Karena itu, sama seperti motif yang diterangkan oleh pihak Banser, Sahal mengatakan bahwa pembakaran bendera tersebut tidak dilakukan dengan maksud untuk menghina kalimat tauhidnya.

Aksi yang dilakukan pihak Banser itu, demikian Sahal, hendak mempertegas sikap mereka yang menolak tindakan HTI yang memakai kalimat tauhid untuk kepentingan ideologis-radikalisnya di Indonesia.

“Yang ditolak oleh (GP) Ansor dan Banser (NU) adalah klaim bahwa karena mereka itu memakai bendera Tauhid seakan-akan mereka itu terus kemudian mewakili Tauhid, mewakili umat,” tutur dia.

Sahal sendiri memang tidak setuju dengan pilihan pihak Banser yang menolak HTI dengan cara membakar bendera tersebut.

Ia mengatakan, seharusnya pihak Banser hanya cukup mengamankan bendera yang dipakai HTI itu sehingga tidak ada kesan seperti yang sudah terjadi saat ini. “Mungkin kesalahan orang Banser membakar itu, harusnya tidak dibakar, tetapi diamankan,” ujar Sahal.

Bendera Tauhid yang Dibakar Milik HTI?

Pandangan pihak Banser bahwa yang dibakarnya itu merupakan bendera HTI disangkal oleh Mantan Juru Bicara HTI Ismail Yusanto. Ia mengatakan bahwa bendera yang disebut Ar Raya dan Liwa itu tidak ada hubungannya dengan HTI.

Akan tetapi, intelektual muda Islam yang sekarang menjadi politikus Partai Solidaritas Islam (PSI), Mohammad Guntur Romli membantah pernyataan Yusanto tersebut.

Melalui akun Twitternya @GunRomli, ia menerangkan bahwa bendera dengan tulisan tauhid itu sudah sejak 2005 silam ditetapkan dalam buku Struktur Negara Khilafah. Artinya, bendera itu memang terkait dengan HTI yang memiliki agenda untuk mendirikan Negara Khilafah di Indonesia.

Baca juga: Ahli Agama NU: HTI Menganggap Demokrasi Itu Paham Kafir

Oleh karena itu, ia meminta kepada semua pihak agar tidak terjebak dalam kebohongan pihak-pihak tertentu yang mengatakan bahwa bendera itu ialah bukan bendera HTI.

“Kalau anda baca buku Ajhizatu Daulah yg berisi RUU Negara Khilafah & Struktur Negara Khilafah, bendera Hizbut Tahrir/Khilafah ya sprti ini, tidak ada tulisan “Hizbut Tahrir”nya krn sdah jadi bendera Negara Khilafah versi mrk, jng mau dibohongi,” cuit Romli.

Twitter Guntur Romli

Twitter Guntur Romli – ist

Seluruh Atribut HTI Harus Dilarang

Terlepas dari benar tidaknya bahwa bendera itu ialah milik HTI, mantan Direktur Freedom Institute, Akhmad Sahal menegaskan bahwa apapun yang terkait dengan HTI sudah seharusnya dihilangkan dari Indonesia.

Ia meminta kepada pemerintah agar lebih tegas dan segera menghapus seluruh atribut organisasi radikal yang memakai label agama tersebut.

Baca juga: HTI Dukung PBB: Syariat Islam Ditegakkan, Rezim Jokowi Harus Diganti

“Menurut saya pemerintah harus lebih tegas karena HTI itu menyusup dengan cara itu. Itu kan organisasi terlarang, jadi bendera HTI apapun simbol HTI harus dilarang,” tutur Sahal.

HTI Ditolak di Indonesia

HTI Ditolak di Indonesia – ist

Terkait penghapusan segala atribut HTI ini, pemerintah sendiri memang belum mengambil sikap. Akan tetapi, terkait aksi pembakaran bendera HTI itu, pemerintah lewat Polri dan Kejaksaan menegaskan akan segera mengatasinya.*