Perang Dibayar dengan Ratusan Ribu Nyawa Anak, UNICEF: Kami Gagal

Perang Dibayar dengan Ratusan Ribu Nyawa Anak, UNICEF: Kami Gagal

Perang yang melanda sejumlah kawasan di Timor Tengah dan Afrika Utara harus dibayar mahal dengan ratusan ribu nyawa anak. (Foto: Anak-anak Korban Perang - id.pinterest.com).

NEW YORK, dawainusa.com Kejahatan perang yang melanda sejumlah kawasan di Timor Tengah dan Afrika Utara harus dibayar mahal dengan ratusan ribu nyawa anak. Anak-anak di kawasan-kawasan tersebut hampir tidak punya masa depan. Mereka dipaksakan pergi sebelum mereka merengkuh masa depan mereka masing-masing.

Terhadap kejahatan kemanusiaan ini, lembaga tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi Anak-Anak, yakni UNICEF mengaku gagal.  Mereka merasa gagal membiarkan anak-anak menginjak “tanah” masa depan mereka karena keburu dimakan senjata perang dan bom-bom bunuh diri.

Baca juga: Trump, Yerusalem dan Upaya Perdamaian Israel-Palestina

“Kami secara kolektif terus gagal menghentikan perang terhadap anak-anak,” kata Direktur Unicef untuk perwakilan wilayah Timor Tengah dan Afrika utara, Geert Cappelaere, Senin (5/2).

Menurut dia, kejahatan perang dan konflik sejenisnya di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara setidaknya menewaskan dan melukai satu anak perhari. Anak-anak terus dibuntuti senjata dan bom. Antara hidup dan mati. Bahkan yang lebih dominan adalah kematian.

UNICEF: Januari 2018 Bulan Kegelapan

Unicef mencatat, bulan Januari 2018 sebagai “bulan kegelapan” untuk anak-anak di dua kawasan tersebut. Sekitar 83 orang anak yang menjadi tumbal kejahatan perang (dan konflik lain) di  Iraq, Libya, Palestina, Suriah, dan Yaman.

“Anak-anak telah membayar harga tertinggi dalam perang yang sama sekali bukan tanggung jawab mereka. Hidup mereka telah diperpendek, keluarga mereka selamanya hancur dalam kesedihan,” ujar Cappelaere.

Ia menerangkan, untuk Suriah, dalam empat pekan terakhir tercatat 59 orang anak yang tewas. Negeri ini sudah delapan tahun berada dalam situasi pertempuran intensif dan korban anak-anak terus berjatuhan.

Baca juga: Ketegangan di Timur Tengah dan Akhir Perjanjian Oslo

Sementara itu, ada 16 orang anak di Yaman yang telah menjadi korban dan diperkirakan semakin meningkat karena masih banyak anak-anak yang dalam kondisi kritis dan berjuang untuk hidup. Yang masih berjuang untuk hidup itu tak patah arang sekalipun mereka tau bahwa hidup mereka berada di ujung tanduk.

Di tempat lain seperti Libanon, setidaknya empat orang anak tewas membeku dalam badai musim dingin bersama 16 orang dewasa lain. Mereka adalah pengungsi yang berusaha lari dari perang Suriah.

Di Iraq, seorang anak terbunuh dalam satu rumah yang terperangkap. Hal serupa terjadi di Palestina, seorang anak laki-laki ditembak mati di sebuah desa dekat Ramallah.

Selain anak-anak yang tewas, di dua kawasan tersebut, ada jutaan anak melewati masa kecil yang sulit. Bagai hidup di ujung tanduk. Tidak ada jaminan bahwa hari esok itu ada.

UNICEF: Pelaku Perang Mengabaikan Hukum Internasional

Hari-hari hidup anak di Timur Tengah dan Afrika Utara berada dalam ketidakpastian. Mereka tak punya jaminan keamanan bahwa mereka bisa menemukan hari esok.

Memang tidak satu insan pun yang bisa menebak masa depannya, tetapi setidaknya dari sisi keamanan, ada jaminan untuk harapan bahwa setiap orang punya masa depan.

Baca juga: Soroti Imigran dan Pengungsi, Paus Fransiskus: Jangan Padamkan Harapan di Hati Mereka

Hal inilah yang hilang pada anak-anak di dua kawasan tersebut. Mereka kehilangan rasa aman dan yang ada adalah penindasan yang berujung pada kematian. Antara hidup dan mati jaraknya seperti rambut dibelah tujuh.

Sebagaimana dilansir Deutsche Welle, Kamis (28/12/2017) lalu, UNICEF menemukan, pihak-pihak yang terlibat perang secara jelas mengabaikan hukum internasional ketika harus melindungi anak-anak.

“Anak-anak telah menjadi sasaran, korban serangan, serta kekerasan brutal di rumah, sekolah, dan tempat bermain mereka,” kata Manuel Fotaine, Direktur Program Darurat UNICEF.

Kesimpulan ini memang nampaknya prematur dan berpaham pesimistis bahwa negara yang damai di dua kawasan tersebut adalah sebuah utopia (?)*