PMKRI Jogja: Penyerangan di Gereja Sta. Lidwina adalah Tindakan Teror yang Harus Dilawan

PMKRI Jogja: Penyerangan di Gereja Sta. Lidwina adalah Tindakan Teror yang Harus Dilawan

PMKRI Yogyakarta menilai aksi anarkis tersebut merupakan sebuah tindakan teror yang harus dilawan dan dimusnahkan dari bumi Indonesia. (Foto: Kondisi Patung Yesus di Gereja Sta. Lidwina - CNNindonesia)

YOGYAKARTA, dawainusa.com – Nuansa keharmonisan di Kota Yogyakarta yang menyematkan dirinya dengan identitas Istimewa dan jargon ‘Kota Berhati Nyaman’ kini terus diuji keberadaanya.

Minggu (11/2), sekitar Pukul 08.00 WIB menjadi peristiwa yang memperparah narasi kecemasan masyarakat Yogyakarta dalam praktik kebebasan beragama. Lantaran terjadi pembacokan di Gereja Sta. Lidwina, Bedhog, Trihanggo, Sleman, DIY saat umat sedang merayakan perayaan ekaristi oleh seorang pelaku yang bersetatus mahasiswa asal Bayuwangi, Jawa Timur.

Dalam aksi penyerangan tersebut, berhasil menelan korban diantaranya Romo Edmund Prier, SJ yang sedang memimpin Misa saat pelaku melancarkan aksi anarkisnya dan ketiga umat lainya. Hal itu diungkapkan salah seorang saksi mata yang tidak ingin disebut kan namanya.

Baca juga: Detik-detik Penyerangan di Gereja St Lidwina Sleman

“Mengenai Romo, kondisi kepala bagian kiri mengalami luka serius dan juga pedang pelaku mengenai korban lain, terkena di punggung belakang, ada satu polisi terkena sayatan pedang dibagian lengan. Kemudian pelaku mengayunkan pedang putih sepanjang kurang lebih satu meter ke arah jemaah,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, saat pelaku melancarkan aksi brutalnya mengenakan penutup kepala dan berpakaian hitam. Saat ini, Romo Edmund Prier dan ketiga korban lainya sedang dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta dan telah dikunjungi Sultan HB X.

DPC PMKRI Jogja

DPC PMKRI Jogja (Foto: ist)

Penyerangan di Gereja Bedog Sebuah Tindakan Teror yang Harus Dimusnahkan

Aksi brutal seorang mahasiswa asal Bayuwangi, Jawa Timur menuai kecaman serius dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta St. Thomas Aquinas.

PMKRI Yogyakarta menilai aksi anarkis tersebut merupakan sebuah tindakan teror yang harus dilawan dan dimusnahkan dari bumi Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Presidium Gerakan Kemasyarakatan (PGK) PMKRI Yogyakarta, Ren Warang.

Baca juga: Penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Ini Pernyataan Sikap PMKRI

“Aksi anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa asal Bayuwangi di Gereja Bedhog ini, adalah sebuah bentuk tindakan teror yang mengancam kebebasan beragama di Yogyakarta. Karena itu, kita mengutuk keras atas kejadian tersebut. Kejadian itu, sangat tidak berperikemanusiaan yang berhasil memakan sejumlah korban”, ungkap Warang.

Lebih lanjut, Warang meminta negara dalam hal ini Pemerintah Provinsi dan pihak Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Kapolda DIY) untuk segera mungkin menyelesaikan khasus ini dengan menindak tegas pelaku sesuai prosedur hukum yang berlaku.

“PMKRI Jogja menuntut pihak Polda DIY untuk menyelsaikan persoalan ini secara tuntas. Ini telah melanggar HAM yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar pasal 28 E ayat 1. Pelakunya pun pantas untuk dipidanakan. Dan kita setiap mengkawal pelaku untuk diselsaikan di meja perisidangan,” lanjut Warang.

Selain itu, PMKRI Jogja mempertanyakan kinerja Polda DIY terkait situasi keamanan di DIY saat ini. Lantaran kebebasan beragama di DIY masih saja direngut oleh oknum maupun kelompok radikal.

“Kami (PMKRI Jogja) sebetulnya bertanya-tanya dengan situasi keamanan di Jogja saat ini. Kondisi keamanan di Jogja, khususnya soal kebebasan beragama masih belum maksimal dipastikan keamanannya oleh Polda DIY. Barusan saja (28 Januari) terjadi pembubaran Bakti Sosial di Gereja Pringgolayan oleh Front Jihad Islam (FJI), sekarang berlanjut dengan aksi teror di Gereja Bedog. Ini jelas kerja Polda DIY untuk menjaga kenyaman hidup beragama di Jogja belum maksimal. Berharap oknum maupun kelompok radikal atau teror segera ditertibkan oleh pihak Keamanan DIY, ” ucap Warang.

Tak hanya itu, PMKRI Jogja turut menuntut Pemerintah Provinsi DIY untuk segera menyelesaikan kasus kebebasan beragama di DIY.

“Pemprov DIY jangan mendiamkan masalah ini. Persoalan kebebasan beragama masih menjadi kecemasan serius di DIY. Silhkan Pemprov petegas jargon Jogja berhati nyaman. Buktikan kenyaman itu sekarang ini dengan memberangus oknum maupun kelompok yang mengganggu hidup sosial dan agama di Jogja ini,” tutup Warang.

Jogja Krisis Keistimewaan

Ketua PMKRI Jogja, Paskalis Korain turut berkomentar bahwa tindakan teror yang terjadi di Gereja Bedog telah mencedrai keistimewan Yogyakarta. Jogjakarta saat ini dinailainya tengah mengalami krisis keistimewaan.

“Aksi teror di Gereja Bedog telah menegaskan bahwa Jogja saat ini tengah mengalami krisis keistimewaan. Keistimewaan karena dikenal sebagai kota pendidikan, kota berbudaya dan kota berhati nyaman hingga dikenal sebagai barometer toleransi, kini mengalami degradasi identitas yang akut,” ucap Paskalis.

Baca juga: Sri Sultan HB X Besuk Korban Penyerangan di Gereja St. Lidwina

Ia berharap pemerintah Provinsi DIY bisa memastikan kembali rasa nyaman bagi warga Jogja, khususnya bagi umat beragama agar bisa menjalankan kehidupan beragamnya degan rasa aman.

“Kami juga meminta kepada pihak pemerintah daerah,terutama pemerintah Provinsi DIY agar dapat memberikan rasa aman bagi setiap warma Yogyakarta dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing,” harap Paskalis.

PMKRI Jogja Bendung Provokasi Isue Intoleransi di Tahun Politik

Menghadapi tahun politik, PMKRI Jogja juga berharap agar Pemerintah Provinsi dan pihak Polda DIY untuk terus memaksimalkan keamanan di DIY dengan memastikan polemik seputar kebebasan beragama tidak mudah dikonsumsi masyarakat sebagai isu intoleransi yang dapat memperparah keadaan keamanan di Jogja.

“Beragam masalah yang menggangu kehidupan beragama di Jogja diharapkan tidak serta merta untuk diplintir menjadi isue Inteoleransi. Tetapi kita tidak bisa memungkiri isue intoleransi akan terus bergulir di tahun politik saat ini . karena itu, sebagai uapaya preventif PMKRI Jogja meminta Pemprov dan pihak Polda DIY harus membagun komitemen dan siap memastikan keamaan terkait hal ini,” papar Paskalis.

Baca juga: Pembubaran Baksos, SETARA Institute Kritisi Pernyataan Sri Sultan

Menangani masalah kebebasan beragama di Jogja tentu menutut aksi solidaritas dari semua elemen masyarakat DIY. PMKRI Jogja saat ini pun semakin siap untuk membangun solidaritas dengan pihak manapun dalam merawat wajah keistimewaan Jogja.

“Beragam masalah yang mengganggu kenyamanan dan keamanan di Jogja, khususnya terkait masalah kebebasan beragama dalam menjawabinya tentu butuh aksi koletif dari semua elemen masyarakat Jogja. Aapalagi jika sudah berkutat pada persoalan Intoleransi, pasti butuh kesadaran bersama yang dibangun secara kolektif untuk membedungnya,” papar Paskalis.

Aksi teror yang terjadi di Gereja Bedog adalah momentum agar warga Jogja dan seluruh Indonesia untuk memutuskan mata rantai intoleransi.

“Saya berharap kepada warga Jogja dan seluruh Indoneisa, aksi teror yang terjadi di Gereja Bedog adalah kesempatan yang tepat bagi kita semua untuk memutuskan mata rantai intoleransi di negeri ini. Kita (PMKRI Jogja) pun akan terus memperkuat konsolidasi di internal Cipayung dan oragan-organ lain di DIY serta akan meminta PP PMKRI dan seluruh PMKRI se-Indoneisa untuk menyikapi masalah ini,” tutup Paskalis.* ( Astra Tandang)