Penutupan Pulau Gililawa Darat Dinilai Kurang Tepat

Penutupan Pulau Gililawa Darat Dinilai Kurang Tepat

Penutupan akses masuk untuk wisatawan ke pulau Gililawa Darat, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT dinilai tidak perlu dilakukan. (Foto: Yohanes Mance - ist)

LABUAN BAJO, dawainusa.com Penutupan akses masuk untuk wisatawan ke pulau Gililawa Darat, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT dinilai tidak perlu dilakukan.

Sebelumnya, pihak BTNK melalaui siaran pers di Labuan Bajo, Jumat (03/04) memutuskan untuk menutup akses bagi wisatawan ke pulau Gililawa untuk kepentingan penyelidikan oleh polisi.

Penyelidikan tersebut dilakukan menyusul kebakaran yang melanda padang savana seluas 10 hektar di pulau tersebut pada Rabu (01/08) lalu.

Baca juga: Video: Detik-detik Kebakaran Separuh Pulau Gili Lawa Darat Labuan Bajo

Terkait penutupan ini, Yohanes Mance, salah seorang pelaku pariwista di Labuan Bajo, kepada Dawainusa menilai, keputusan BTNK dan Polres Mabar menutup Gililawa Darat tidaklah tepat.

Merugikan Pelaku Wisata

Mance yang juga anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat, menjelaskan, penutupan Gili Lawa Darat akan berdampak kerugian bagi pelaku wisata di daerah itu.

Menurut dia, BTNK harus menjelaskan batas waktu yang jelas karena kalau tidak dijelaskan batas penutupannya akan merugikan pelaku wisata serta wisatawan itu sendiri.

Baca juga: Kuasa Hukum Tersangka Kasus Sail Komodo Ajukan Pra Peradilan

“Isolasi Pulau Gililawa harus ada batasan waktu yang jelas dari pihak BTNK. Keputusan isolasi pulau dengan batas waktu tidak tentu akan merugikan wisatawan dan pelaku wisata,” kata Mance, Sabtu (04/08).

Soal batas penutupan, kata dia, BTNK harus sampaikan secara resmi kepada publik baik melalui media massa maupun website BTNK. Dengan demikian, lanjut dia, pengusaha travel bisa merancang paket wisata kepada calon wisatawan.

“Batas waktu isolasi Gililawa Darat juga harus disampaikan melaului website BTNK agar bisa diakses oleh publik dan travel agen agar tidak salah merancang paket wisata yang akan dijual kepada seluruh wisatawan,” tandasnya.

Berdampak Pada Citra Pariwisata Labuan Bajo

Selain itu, Mance juga menjelaskan, Gililawa Darat merupakan salah satu spot yang sering didatangi wisatawan. Penutupan terhadap pulau itu menurut dia berdampak pada citra pariwisata Labuan Bajo kedepannya.

Menurut dia, tak seharusnya akses masuk kesana ditutup karena masih banyak bagian yang bisa dinikmati oleh wisatawan. “Pulau Gililawa adalah salah satu spot favorite wisatwan baik domestik maupun mancanegara. Masih banyak bagian pulau yang bisa dinikmati wisatawan,” jelasnya.

Baca juga: Tahun 2019 Bandara Komodo Akan Jadi Bandara Internasional

Meski demikian, dia tetap mendukung langkah BTNK dan kepolisian untuk mencari tahu pelaku dan penyebab kebakaran. Kata dia, jika Polisi sudah memeriksa saksi-saksi dan mengetahui pelaku maka aktivitas wisata di Gililawa sebaiknya tidak ditutup.

“Prinsipnya kita dukung upaya polisi. Kalau sudah jelas pelaku dan penyebab kebakaran, sebaiknya aktivitas wisata harus bisa dibuka kembali,” tutupnya.* (Elvys Yunani)