Penjelasan Gerindra Soal Misi 8 Karakter Utama Prabowo-Sandi

Penjelasan Gerindra Soal Misi 8 Karakter Utama Prabowo-Sandi

JAKARTA, dawainusa.com – Tim pasangan Prabowo-Sandi menjelaskan secara keseluruhan tentang makna dari 8 karakter utama dalam visi-misi pasangan nomor urut dua tersebut.

Penjelasan ini disampaikan oleh Anggota Badan Komunikasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra Andre Rosiadi dalam rangka menjawab pertanyaan masyarakat terkait dengan delapan poin dalam misi tersebut.

Baca juga: Bersama Kwik Kian Gie, Sandiaga Dorong Isu Ekonomi di Pilpres 2019

Dari penjelasan Andre, diketahui maksud sebenarnya dari delapan yang tercantum dalam misi pasangan tersebut. Pasangan Prabowo-Sandi menulis 8 karakter utama dan dicantumkan dalam program kesejahteraan rakyat.

Delapan karakter tersebut di antaranya ialah karakter religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin dan tertib, mandiri, bermanfaat. “Yang pertama reiljius, kan harapannya seluruh warga Indonesia apapun agamanya akan menjadi relijius dengan pemahaman agama masing-masing,” kata Andre di Jakarta, Rabu (26/9).

Arti dari 8 Misi Utama Prabowo-Sandi

Setelah menjelaskan tentang makna kata religius dalam poin pertama misi pasangan Prabowo-Sandi, Andre juga menjelaskan tentang pentingnya pertanggungjawaban moral dalam setiap jabatan publik yang diemban oleh pejabat negara.

Pada titik ini, demikian Andre, pasangan Prabowo-Sandi melihat sisi moral sangat penting bagi pemegang mandat rakyat. Banyaknya pejabat negara melakukan tindakan korupsi memang erat kaitannya dengan proses penegakan hukum yang belum berjalan secara maksimal.

Hal ini juga terjadi karena tingkat kesadaran pejabat negara mematuhi hukum sangat minim. Tetapi, menurut Andre, ada faktor utama sebagai penyebab orang melakukan korupsi, yakni krisis moral.

“Kemudian bermoral, ini penting ya bagaimana seluruh warga negara harus lebih bermoral khususnya para pejabatnya. Dengan bermoral kan tidak korupsi,” ungkap Andre.

Baca juga: Survei LSI, Jokowi-Ma’ruf Unggul atas Prabowo-Sandi

Dalam penyusunan visi-misi pasangan Prabowo-Sandi, Andre menjelaskan, tim perumus melihat dan mempertimbangkan masalah berkaitan dengan perkembangan anak di Indonesia. Anak sebagai generasi penerus bangsa mesti ditempatkan dalam poin prioritas untuk dilayani.

Pasangan Prabowo-Sandi juga melihat perkembangan informasi dan teknologi memberi dampak tersendiri bagi perkembangan anak Indonesia. Selain memberikan pengaruh positif terhadap kelangsungan perkembangan seorang anak juga tidak lepas dari hal-hal negatif.

Untuk mencegah pengaruh negatif terhadap tumbuh kembang anak Indonesia, pasangan Prabowo-Sandi merumuskan beberapa poin khusus. Beberapa poin tersebut di antaranya ialah sehat, cerdas, dan kreatif . Ketiga poin ini akan diwujudkan dalam bentuk program dan aksi nyata.

Kemudian terkait dengan poin kerja keras, disiplin, tertib, dan mandiri, Andre menjelaskan bahwa hal itu terkait dengan cita-cita Prabowo-Sandi untuk melahirkan masyarakat dengan etos kerja yang tinggi.

Sementara untuk poin terakhir, yakni soal karakter bermanfaat, Andre menjelaskan bahw hal itu terkait dengan komitmen Prabowo-Sandi untuk melahirkan masyarakat yang berguna bagi bangsa.

“Terakhir bermanfaat, seluruh warga Indonesia melalui sistem pembangunan nasional ini tujuannya bisa bermanfaat bagi masyarakat lain dan bagi bangsanya,” jelas Andre.

Dinilai Lebih Konkret dari Konsep Revolusi Mental Jokowi

Andre kemudian membandingkan 8 karakter utama dalam konsep misi Prabowo-Sandi dengan konsep revolusi mental Jokowi. Ia menilai, apa yang dirumuskan oleh timnya lebih mudah untuk dilaksanakan daripada konsep revolusi mental yang pernah dirumuskan oleh Presiden Jokowi.

“Intinya 8 Karakter Utama ini lebih konkret daripada sebatas jargon Revolusi Mental kan. Kalau Revolusi Mental Pak Jokowi kan nggak jelas maunya apa,” jelasnya.

Baca juga: Survei LSI di Media Sosial, Pasangan Jokowi dan Ma’aruf Amin Unggul

Andre juga menilai, program revolusi mental dari pemerintahan Jokowi tidak memberikan bukti apa-apa kepada masyarakat. Program ini tidak lebih dari sekedar slogan untuk merebut simpati dari masyarakat agar dipilih sebagai presiden.

Ia kemudian mencontohkan, maraknya kasus korupsi terjadi selama 4 tahun terakhir. Ini merupakan bentuk kegagalan dari program revolusi mental pemerintahan Jokowi. Selain itu, kebijakan impor beras dilakukan oleh pemerintah pada saat beras dalam negeri melimpah, merupakan bagian dari kegagalan mental pemerintahan sekarang ini.

“Memang apa yang terjadi dengan Revolusi Mental? Apa Revolusi Mental artinya impor bahan pokok? apa Revolusi Mental antarpejabat kementerian berantem?” pungkasnya.*