Pengamat Politik Soal Baju Safari Politik Prabowo Subianto

Pengamat Politik Soal Baju Safari Politik Prabowo Subianto

JAKARTA, dawainusa.com Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengingatkan gaya capres Prabowo Subianto agar dipilih oleh pemilih milineal di pilpres mendatang.

Salah satunya adalah kebiasaan Prabowo mengenakan baju safari krem dan putih. Kebisaan ini dinilai tidak memberi daya tarik bagi masyarakat.

Besarnya potensi pemilih milenial menjadi daya tarik tersendiri untuk pilpres kali ini. Setiap pasangan calon mesti menyesuaikan diri agar dapat dipilih oleh pemilih milenial.

Baca juga: Tanggapan Peneliti LIPI Soal Usulan Debat Pilpres di Kampus

“Kalau saya jadi timsesnya Pak Prabowo hal pertama yang saya ganti dengan dari Prabowo itu adalah kostum, jangan lagi putih, krem, cokelat, orang bosen ngeliatnya, masa dari tahun 2014 itu itu lagi, berusaha lah ganti misalnya sering-sering pakai batik, sering sering pakai baju koko, kek biar orang ngelihatnya fresh, this is Prabowo,” kata Hendri di Jakarta, Senin (22/10).

Hendri menambahkan, banyak faktor yang menjadi penentu bagi kemenangan setiap pasangan capres dan cawapres.

Salah satunya adalah pertimbangan gagasan sang calon untuk membangun Indonesia. Selain itu, capres dan cawapres juga mesti memperkahatikan sisi penampilan sesuai keinginan pemilih anak muda sekarang.

Kompetisi Pilpres Semakin Ketat

Hendri juga melihat kompetisi pilpres mendatang semakin ketat. Selain karena Jokowi Widodo menginginkan untuk tetap terpilih untuk kedua kalinya, juga karena keinginan Prbawo Subianto untuk bertarung kembali melawan capres petahana Jokowi.

Mangalahkan petahana, demikian Hendri, membutuhkan kerja politik yang serius dan terukur. Mengingat petahana memiliki modal politik yang cukup melalui jaringan pemerintahan dari pusat sampai daerah.

Baca juga: Fadli Zon Sebut Presiden Jokowi Telah Memainkan Politik Bohong

Dengan demikian, menurut Hendri, jika Prabowo mau memang, mesti memiliki kemasan dan cara yang baru agar menarik minat masyarakat.

“Maksudnya kalau kompetisi nya mau ketat ya ubah gaya, kalau gini gini saja saya rasa sekarang kita udah tahu Aprilnya,” jelasnya.

Lebih lanjut Hendri menyoroti kebiasaan Prabowo memberikan kritik terkait potensi kekayaan alam Indonesia yang belum dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

Kritik sebetulnya sangat diperlukan untuk mengingatkan pemerintah agar hati-hati dalam mengambil kebijakan. Namun, sebagai capres, Prabowo mesti mempelajari keinginan masyarkat sebagai pemilih.

“Pesan komunikasi Pak Prabowo ini harus diubah, kalau hanya gitu gitu saja kekayaan negeri harus dinikmati harus bisa dinikmati anak negeri, gitu gitu terus, orang tuh juga akan bingung dan malas, karena kok tidak ada solusi yang lebih presisi untuk melakukan itu,” jelasnya.

Fokus Pembicaraan Soal Masalah Ekonomi

Hendri menjelaskan, kedua capres yang sedang bertarung merebut kursi presiden di pilpres mendatang sama-sama memiliki kemampuan berbicara tentang ekonomi.

Kelebihan ini sebetulnya dapat dimaksimalkan untuk meraih dukungan masyarakat. Hal berbeda ketika setiap capres saling sindir, membuat masyarakat mengubah pilihannya.

Baca juga: Disorot Oposisi, Begini Asal-usul Dana Kelurahan ala Jokowi

Ada banyak masalah ekonomi yang sedang terjadi hari ini. Salah satunya adalah terkait dengan masalah melemahnya nilai tukar rupaih terhadap dollar Amerika. Hal ini penting untuk dikritisi agar pemerintah segera menemukan jalan keluarnya.

Selain masalah nilai tukar rupiah, lanjut Hendri, ada juga masalah harga bahan pokok. Masalah lapangan kerja dan masalah impor pangan. Tema-tema seperti ini mesti menjadi fokus pembicaraan bagi capres Prabowo untuk diangkat dan disuarakan ke publik.

“Padahal dua capres ini sudah paham bahwa permasalahan terbesar negeri ini saat ini masih tentang ekonomi, artinya harga-harga bahan pokok, barang, listrik kemudian BBM, kedua lapangan kerja, bicaranya lebih banyak kesitu sebetulnya. Kita kan belum pernah mendengar Pak Prabowo bicara begitu,”pungkasnya*