Pengadilan Malaysia Bebaskan Majikan Adelina Lisao dari Segala Tuduhan

Pengadilan Malaysia Bebaskan Majikan Adelina Lisao dari Segala Tuduhan

Sebelumnya, Shan digugat dengan ancaman hukuman mati setelah diduga menyiksa Adelina Lisao.

Dawainusa.com – Kabar mengejutkan datang dari Negeri Jiran, Malaysia. Pengadilan Tinggi Malaysia telah memberi pembebasan penuh kepada Ambika MA Shan (61), terdakwa kasus pembunuhan TKI asal NTT, Adelina Lisao.

Rupanya, Pengadilan Tinggi Pulau Penang Malaysia telah membebaskan Shan dari semua gugatan pada Kamis (18/4/2019) lalu.

Sebelumnya, Shan digugat dengan Pasal 302 Hukum Pidana Malaysia yang memuat ancaman hukuman mati setelah diduga menyiksa Adelina Lisao.

Kondisi Adelina saat dijemput polisi

Kondisi Adelina saat dijemput polisi – POR CHENG HAN

BacaIbunda Majikan TKI Adelina Lisao Terancam Hukuman Mati

Perlakuan Majikan Kepada Adelina Lisao

Adelina mengalami kurang gizi dan luka-luka parah saat pertamakali ditemukan oleh tim investigasi, setelah mendapat laporan dari tetangga majikan Adelina.

Saat itu, Adelina dilaporkan hampir tidak bisa berjalan dan diduga dipaksa tidur di beranda bersama anjing majikannya.

Namun, nyawa TKI asal Desa Tanah Merah, Kabupaten Kupang, NTT itu tidak dapat diselamatkan. Ia meninggal di rumah sakit pada keesokan harinya, Minggu (11/02).

Luka-luka yang diderita Adelina Lisao

Luka-luka yang diderita Adelina Lisao – MIGRANT CARE

BacaViktor Laiskodat Ingatkan Masyarakat Tanam Pinang di Halaman Rumah

Muhamad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri mengatakan belum ada kesimpulan final dari dokter forensik.

Namun, menurutnya, “salah satu penyebab yang ditemukan adalah Adelina mengalami malnutrisi satu bulan terakhir, ada luka… kemungkinan bekas gigitan binatang.”

Diketahui, sebelum meninggal Adelina sempat memberi pengakuan. Ia menuturkan bahwa selama sebulan terakhir dia dipaksa tidur di luar rumah bersama anjing peliharaan majikan, tak diberi makan, dan mengalami penganiayaan.

Putusan Pengadilan Malaysia Lukai Rasa Keadilan

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, menilai putusan pengadilan Malaysia itu mencederai rasa keadilan.

“Saya kira keputusan itu sangat tidak adil ya. Menjauhkan Adelina dan keluarganya, juga tentu buruh migran Indonesia, dari akses keadilan,” ungkapnya.

“Dan saya kira memang preseden seperti ini sering terjadi sehingga membutuhkan stamina yang kuat bagi para pencari keadilan, buat buruh migran untuk terus-menerus memperjuangkan itu,” lanjutnya seperti dilansir ABC, Senin (22/4/2019).

Menurut wahyu, Indonesia selama ini terlena pada aspek lain dari kasus Adelina.

Adelina tidur di beranda bersama anjing majikannya

Adelina tidur di beranda bersama anjing majikannya – POR CHENG HAN

BacaViktor Laiskodat: Orang NTT Habiskan Rp 3 Triliun Setahun untuk Sabun dan Shampoo

“Kejadian Adelina sudah dipulangkan, sudah dimakamkan, banyak orang prihatin, tetapi kan proses hukum itu masih jalan,” terangnya.

Selama ini, banyak buruh migran yang menjadi korban tewas majikan dipulangkan. Di sisi lain, mereka belum menjalani proses otopsi maupun visum.

Prosedur itu, kata Wahyu, sebenarnya bisa memperkuat argumentasi untuk menjerat sang pelaku.

“Pelajarannya adalah kalau ada korban, penganiayaan atau apapun, harus dirawat sampai sembuh misalnya kalau masih bisa diselamatkan.”

“Kalau meninggal, itu juga harus segera dimintakan visum yang akurat,” tukas Wahyu.

Sebanyak 120 TKI diperkirakan telah tewas di Malaysia sejak tahun 2016. Sebagian besar, termasuk Adelina, adalah korban perdagangan manusia.*

COMMENTS