Pendaratan Perdana Co-Pilot Gabriel Turot, Kado Natal untuk Warga Maybrat

Pendaratan Perdana Co-Pilot Gabriel Turot, Kado Natal untuk Warga Maybrat

Tangisan keluarga juga memecah kerinduan lantaran Gabriel sudah begitu lama menghabiskan waktu di tanah Jawa dan pada pendaratan perdana inilah keluarga bisa bersua kembali. (Foto: Gabriel Turot dan keluarga - ist)

MAYBRAT, dawainusa.com Rabu (24/12), menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Desa Ayawasi, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat, Indonesia.

Sekitar pukul 09.10 WIB, pesawat Lion Air mendarat perdana dengan Captain Pilot Oky Librano dan Co-Pilot Yanwarius Gabriel Turot di Bandara Domine Eduard Osok Kota Sorong.

Dalam pendaratan pesawat Lion Air Boing 737- 900 itu, langsung dinahkodai salah satu putra terbaik sorong, Co- Pilot Yanwarius Gabriel Turot yang merupakan putra asli dari daerah Sorong.

Baca juga: Kapolri: Tahun 2017 Kontak Senjata dan Bentrok Massa Paling Banyak di Papua

Pendaratan perdana Gabriel di tanah kelahiranya disambut meriah oleh keluarga. Dirinya pun tak tahan dengan deraian tangisan bahagia dan haru yang mendalam, lantaran tak menyangka putra asli Sorong itu sukses meraih pengetahuan dan memiliki kemampuan di dunia penerbangan.

Tak hanya itu, tangisan keluarga juga memecah kerinduan lantaran Gabriel sudah begitu lama menghabiskan waktu di tanah Jawa dan pada pendaratan perdana inilah keluarga bisa bersua kembali.

Kado Natal untuk Keluarga Turot

Tepat dengan momen Natal, pendaratan perdana yang dilakukan Gabriel Turot menjadi kado Natal tersendiri bagi keluarga Turot yang juga merupakan umat Nasrani itu.

“Kami keluarga sangat beryukur atas berhasilnya pendaratan perdana dari anak, adik dan saudara kami Gabriel Turot di Bandara Domineeduard Osok. Ini adalah kado Natal bagi kami keluarga Turot,” pungkas Engelbertus Turot yang adalah saudara kandung Co-Pilot Gabriel Turot.

Dalam rute penerbangan yang digelutinya dengan maskapai Lion Air Boing 737-900 dengan rute Aceh – Papua, menjadikan Bandara Domineeduard Osok, Sorong menjadi bandara perdana pendaratannya.

Saat diwawancarai via telpon oleh dawainusa.com, Jumat (29/12), Gabriel menuturkan bangga bisa menjadi Co-Pilot. Ia berharap kesuksesanya itu bisa mengispirasi semua kaum muda.

“Tentu sanya bangga dengan prestasi ini. Semoga apa yang saya raih menginspirasi banyak orang, khususnya anak muda di setiap tempat pendaratan saya selanjutnya di seluruh pelosok Indonesia,” tutur pria yang akrab disapa Yantur tersebut.

Laut luas Arafura menjadi moment menarik bagi Yantur. Bagaimana tidak, tepat di penerbangan perdananya, badai di lautan Arafura menghantam badan pesawat selama beberapa menit. Namun, badai bukanlah menjadi penghambat moment penerbangan perdananya.

“Ada yang menarik di moment perbangan perdana ini. Yakni saat memasuki lautan Arafura, badan pesawat dihantam badai selama beberapa menit. Namun, ini bukanlah penghalang, malahan ini yang menarik. Setelah menembus badai awan, saya melihat sekeliling di atas Atlantik, semuanya lautan. Tidak ada kapal apa pun, benar-benar merasa sendiri, hanya ada air yang saya lihat,” kata Gabriel.* (Atan)