Pemprov NTT Pulangkan 3 Warganya yang Hendak Dijadikan PSK di Medan

Pemprov NTT Pulangkan 3 Warganya yang Hendak Dijadikan PSK di Medan

KUPANG, dawainusa.com Pemerintah Provinsi NTT bertindak cepat ketika mengetahui tiga warganya telah menjadi korban Human Trafficking dan akan dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di Medan, Sumatra Utara.

Korban yang masih di bawah umur itu masing-masing berinisial FS asal Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), LS asal Kabupaten Kupang, dan SA asal Kabupaten Malaka.

Ketiganya dijemput langsung oleh wakil gunernur NTT, Josef A Nae Soi dan tiba di Kupang pada Senin malam, (8/10) sekitar pukul 21.00 wita.

Baca juga: Perkosa Bule Inggris di Bali, Pria Asal NTT Ini Dibekuk Polisi

Josef A Nae Soi menceritakan informasi mengenai ketika korban itu diperoleh dari seorang suster yang saat itu bertemu dengan mereka di tempat transit di Surabaya.

“Kami berterima kasih kepada Suster Laurentina yang memberi informasi kepada kami. Dan kemarin sore (minggu) saya langsung ke Medan dan bawah pulang tiga anak ini,” kata Josef di ruangan Vip Pemda, bandara Ell Tari, Kupang, Senin malam, (8/10).

Korban Human Trafficking didampingi Wagub NTT Josef Nai Soi – dawainusa

Akan Ditangani Dinas Pemberdayaan Perempuan

Ketika korban selanjutnya akan ditangani oleh dinas terkait yakni dinas sosial dan dinas pemeberdayaan perempuan.

Josef mengatakan, ketiganya akan dibekali ketermapilan dan kemampuan bekerja sebelum dipulangkan ke orangtuanya masing-masing.

Baca juga: Polemik Rencana Pembuatan patung Jokowi di NTT

“Langkah selanjutnya melalui dinas sosial dan pemberdayaan perempuan anak-anak ini dilatih keterampilannya dan dipulangkan ke orangtua mereka masing-masing,” ungkap Jesef

Sementara itu, Suster Laurentina yang mendampingi wagub NTT ketika itu, menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan ketiga gadis bawa umur asal NTT itu. Dia mengatakan ketiganya terlihat bingung saat di bandara Surabaya yang menimbulkan kecurigaannya.

“saya mau ke Semarang dan bertemu mereka di Surabaya. Saya lihat mereka kebingungan. Saya tanya apa mereka pernah ke Medan, mereka menjawab pelum pernah dan tidak ada yang mendampingi mereka. Terus saya titip no HP saya, dan keesokan harinya mereka menelpon bahwa mereka diperlakukan tidak senonoh. Saya suruh mereka kabur dan cari gereja untuk berlindung,” cerita Suster Laurentina.

Ketiga anak-anak itu terlihat trauma, wajah mereka tampak lesu dan rasa ketakutan seperti masih menyelimuti peresaan mereka. Mereka selalu menghindari wartawan yang hendak mengabadikan gambar mereka.* (Juan Paseu)