Di NTT, Warga Aniaya Petugas Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19

Dua orang petugas pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Kabupaten Flores Timur, NTT dianiaya warga

Di NTT, Warga Aniaya Petugas Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19
Ilustrasi - ist

LARANTUKA, dawainusa.com – Dua orang petugas pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dianiaya warga, Senin (2/8).

Peristiwa itu terjadi ketika dua orang petugas tersebut hendak menguburkan jenazah pasien Covid-19 berinisial SBP (23) di Desa Watotutu, Waimana 1, Kecamatan Ile Mandiri.

Berdasarkan keterangan Koordinator Umum Tim Pemakamam Jenazah Covid-19 Flores Timur Tarsisius Kopong Pira, kejadian tersebut bermula ketika tim pemakamam tersebut mendapat telepon dan Kepala Desa Watotutu, Waimana 1.

Baca juga: Cegah Perampasan Jenazah Pasien Covid-19, Polisi di NTT Jaga Sejumlah RS

Saat itu, kepala desa tersebut meminta bantuan tim pemakaman untuk menguburkan jenazah dari warganya tersebut yang diklaim meninggal dunia karena Covid-19.

Atas permintaan dari kepala desa tersebut, demikian Tarsisius, tim pemakaman itu kemudian langsung turun ke lokasi.

“Saat hendak melakukan penguburan dengan protap Covid-19, warga tiba-tiba melakukan pengeroyokan terhadap petugas. Akibatnya, dua petugas mengalami luka memar. Mereka tidak terima jenazah dikuburkan secara protokol Covid-19. Padahal, jenazah ini sudah diumumkan terpapar Corona,” ungkap Tarsisius, Senin (2/8).

Identitas Jenazah Pasien Covid-19 Tersebut

Adapun soal identitas dari jenazah pasien yang diklaim meninggal dunia karena Covid-19 itu ialah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur.

Tarsisius menjelaskan, selama sakit, orang tersebut dirawat di ruangan isolasi Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Hendrikus Fernandez.
Saat itu, ia dalam kondisi yang sangat kritis.

Baca juga: Update Covid-19 di NTT, Ini Kabupaten Penyumbang Kasus Tertinggi

Meski demikian, pada Minggu (1/8), tepatnya pukul 12.31 Wita, keluarganya memulangkan secara paksa pasien tersebut dari rumah sakit. Tidak lama sampai di rumah, pasien itu kemudian meninggal dunia.

“Keluarga paksa pulangkan saat pasien kritis. Tidak lama, pasien meninggal dengan diagnosa Covid-19. Kami jalankan tugas sesuai permintaan kepala desa, tapi petugas kami malah dianiaya,” tutur Tarsisius.

Adapun terkait peristiwa penganiayaan tersebut, Tarsisius bersama dua orang petugas yang menjadi korban telah melaporkannya kepada Polres Flores Timur. “Kami sudah laporkan biar ada efek jera,” imbuhnya.*