PDIP Tawarkan Ahok Jadi Kader Setelah Bebas dari Penjara

PDIP Tawarkan Ahok Jadi Kader Setelah Bebas dari Penjara

JAKARTA, dawainusa.com Partai Persatuan Indonesia Perjuangan (PDIP) menawarkan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi kader partai berlambang moncong putih itu setelah bebas dari penjara.

Tawaran itu disampaikan PDIP menyusul permintaan Ahok yang menyarankan salah satu mantan stafnya, Ima Mahdiah maju sebagai calon legislatif (caleg) di Pileg 2019 dari PDI Perjuangan. Namun PDIP menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Ahok sendiri.

“Ya itu sudah pasti (ditawarkan masuk partai), tapi segala sesuatu keputusannya tergantung sama Pak Ahok. Artinya Pak Ahok insan politik juga,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI, Pantas Nainggolan di Jakarta, Senin (3/9).

Baca juga: Polri Terbitkan Pedoman Tangani Deklarasi Tagar Jelang Pilpres

Menurut Nainggolan, Ahok memiliki visi dan misi dalam kehidupan politiknya dan akan menilai seluruh partai yang ada di Indonesia yang kemudian dianggap selaras dengan pandangan politiknya.

“Mungkin dia belum punya KTA (kartu tanda anggota), tapi dia punya visi politik. Dari visi politik itu tentu dia bisa liat dari partai-partai yang ada di Indonesia ini,” ujarnya.

Nainggolan mengatakan, dirinya memang belum menawarkan hal itu secara langsung kepada Ahok. Namun ia menduga ada elite PDIP yang sudah melakukan hal itu. Dia tak memungkiri bahwa PDIP terus berkomunikasi dengan Ahok yang sedang menjalani hukuman di penjara.

“Saya enggak lakukan itu, tapi mungkin ada pimpinan partai yang lakukan. Tapi itu tadi prinsipnya setiap orang bebas menentukan pilihan politik. Pak Ahok ya dengan segala pengalaman, akan melihat parpol mana yang akan dia singgahi,” kata dia.

Diketahui Ahok yang dipenjara karena kasus penodaan agama mendapatkan pemotongan masa hukuman dua bulan pada HUT ke-73 Republik Indonesia.

Adik sekaligus pengacara Ahok, Fifi Lety Tjahaja Purnama mengatakan dengan adanya remisi tersebut Ahok bisa bebas murni pada 24 Januari 2019.

“Jadi karena vonis pak Ahok 2 tahun, tanggal masuk 9 Mei 2017, maka tanggal bebas murni 24 Januari 2019,” kata Fifi melalui akun Instagramnya seperti dipantau Jumat 17 Agustus 2018.

Ahok Pernah Menolak Tawaran PDIP

Bukan kali ini saja Ahok ditawarkan menjadi kader PDIP. Tawaran yang sama pernah ia terima pada tahun 2016 lalu.

Namun ia menolak tawaran tersebut meski mengaku dekat dengan Ketua Umum PDIP Perjuangan, Megawati Soekarno Putri. Ahok mengatkan waktu itu ia ditelepon langsung oleh Taufik Kiemas, salah satu tokoh penting PDIP.

Baca juga: Ketua Tim Sukses Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 Sudah Final

“Saya dari dulu, pertama kali minta saya masuk parpol itu setelah PDIP ada lawan PDIP-nya Suryadi ya. Bang Taufik Kiemas telepon saya langsung, sekarang saksinya Gubernur Bangka Belitung Rustam Efendi. Dia telepon saya ‘Hok dicari bang Rustam sama Taufik, minta kamu jadi ketua DPC Belitung Timur PDIP’,” kata Ahok.

“Terus aku jawab Duh engga deh, aku kan bukan orang partai, kita bisnis kok’. Jadi hubungan baik, tapi saya engga pernah pegang kartu,” lanjutnya.

Selain itu pada tahun 1999, Ahok mengaku pernah ditawari jadi caleg DPR RI wakil Belitung dari PDIP, karena sistemnya distrik.

Namun waktu itu, Ahok mengaku tidak minat politik, dan sampai tahun 2004 ditawarin lagi, dan Ahok memilih pakai Partai Indonesia Baru (PIB).

“2016 juga ada tawaran jadi kader PDIP. Ya saya kan selalu terbuka kapan pun diusung PDIP, tapi beliau (Megawati) sudah tahu kalau saya sudah tidak mau masuk partai lagi,” jelasnya.

Sementara itu ketika disinggung tak mau masuk PDIP, dan lebih memilih masuk partai Golkar maupun Gerindra, Ahok memaparkan alasannya.

“Dulu kan permisi, waktu Golkar permisi, waktu PIB juga saya permisi, terus waktu Gerindra, orang Gerindra ngomong, masa dua-dua PDIP (Pilkada 2012) satu bagi kami dong. Saya juga permisi, yaudah lah pakai kartunya Gerindra,” katanya.*