Pahlawan Pembelajar; Sebuah Catatan di Hari Pahlawan

Pahlawan Pembelajar; Sebuah Catatan di Hari Pahlawan

“The warrior of the light is always trying to improve. A warrior of the light is always committed. He is the slave of his dream and free to act.”

OMONG DENG, dawainusa.com Penggalan kalimat tersebut berasal dari penulis The Alchemist, Paulo Coelho, dalam kumpulan nasihat sederhana dan memikatnya, Warrior of the Light: A Manual (2011).

Sebagai sebuah catatan pendek tentang betapa pentingnya menerima kegagalan, menghargai kehidupan, dan mengubah jalan hidup untuk mengubah takdir seseorang, buku tersebut sarat akan pesan moral tentang laku spiritual seorang pejuang sejati.

Di Hari Pahlawan yang kita peringati hari ini, penting bagi bangsa mencari figur yang dapat memberikan teladan tentang laku spiritual seorang pejuang sejati seperti pernah ditunjukkan para tokoh seperti Soekarno, Hatta, Tjokroaminoto, dan Agus Salim.

Baca juga: Gerakan #2019GantiPresiden akan Mendongkrak Partisipasi Politik

Proses alih generasi makna pahlawan tampaknya tak begitu diperhatikan dunia pendidikan kita. Kata pahlawan selalu menemui jalan buntu pemaknaan yang berkelanjutan, sehingga di ruang kelas kata pahlawan selalu dimaknai masa lalu (the past), tanpa ada upaya menemukan makna pahlawan di masa depan (the future).

Di Hari Pahlawan yang kita peringati hari ini, penting bagi bangsa mencari figur yang dapat memberikan teladan tentang laku spiritual seorang pejuang sejati seperti pernah ditunjukkan para tokoh seperti Soekarno, Hatta, Tjokroaminoto, dan Agus Salim.

Pahlawan selalu identik dengan kondisi fisik kematian melalui sebuah peperangan sehingga elan dasar kata pahlawan seperti sebuah museum kehidupan di masa lalu. Padahal, sejatinya setiap siswa kita di sekolah harus diberi keyakinan untuk menemukan makna pahlawan bagi dirinya sendiri, untuk masa depannya sendiri.

Itulah, misalnya, yang kita temui dalam kamu bahasa Indonesia WJS Poerwadarminto, kata pahlawan diartikan sebagai `pejuang yang gagah berani atau yang terkemuka’. Sebuah definisi dengan batasan yang sangat luas, multiintepretasi, karena ukurannya hanya gagah berani tanpa ada penjelasan gagah berani dalam hal apa, untuk siapa, dan menurut siapa.

Kata itu, jika diterjemahkan dalam konteks ruang dan waktu sekarang oleh para siswa kita, bisa jadi, bermakna para jagoan superhero, bersenjata lengkap, berotot kawat, dan bertulang besi laksana film-film Hollywood.

Jika kata pahlawan diikuti dengan kata lainnya seperti `pahlawan tanpa tanda jasa’ untuk para guru, dan `pahlawan devisa’ untuk para TKI, ukuran `gagah berani’ pasti akan bermakna lain. Karena itu, penting bagi kita untuk menambahkan, misalnya, kata berlandaskan hati nurani di belakang kata gagah berani.

Jika arti pahlawan tetap dibiarkan dengan definisi ala Poerwadarminto, bisa jadi regenerasi kita tetap akan mengasosiasi dan berimajinasi bahwa pahlawan identik dengan peperangan, senjata, dan ketidakadilan semata.

Kasusnya ya seperti di Indonesia ini, yakni hampir semua pahlawan nasional ialah mereka yang pernah terlibat perang (kemerdekaan), berbau militeristis, serta diberikan identitas kepahlawanan nasional melalui surat keputusan presiden.

Epos kepahlawanan pendidikan kita harus melakukan reorientasi pemaknaan pahlawan melalui sebuah proses belajar yang berkeadilan, konsisten, serta setia terhadap proses belajar itu sendiri.

Sebagaimana kehidupan yang selalu berproses, makna pahlawan harus kita semaikan pemaknaannya di sekolah melalui sebuah proses alamiah yang benar, bukan melalui penciptaan mitos yang belum tentu kebenarannya.

Kesadaran semacam inilah yang diperlukan para guru kita dalam membingkai makna pahlawan dalam proses belajar-mengajar. Kata pahlawan harus memperoleh padanannya dalam konteks pendidikan, yaitu pahlawan pembelajar.

Para guru di sekolah harus belajar dari perspektif Joseph Campbell dalam Hero’s Journey, bahwa perjalanan hidup setiap pahlawan pasti akan melalui enam tahapan penting, yaitu innocence, the call, initiation, allies, breakthrough, dan celebration.

Sebelum seseorang dikatakan sebagai pahlawan, pasti mereka ialah orang biasa dan bersahaja (innocence). Barulah ketika mereka merasa ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan merasa terpanggil (the call, beruf) untuk melakukan sesuatu, dimulailah perjalanan seseorang untuk menjadi pahlawan.

Baca juga: Setahun Dawai: Tentang ‘Danong’ yang Pernah jadi Mimpi Bersama

Melalui sebuah usaha dan kerja keras serta melalui rintangan dan tantangan yang hebat (initiation), seorang calon pahlawan pastilah membutuhkan teman satu visi dan misi (allies) untuk mencapai tujuan perjuangannya.

Epos kepahlawanan pendidikan kita harus melakukan reorientasi pemaknaan pahlawan melalui sebuah proses belajar yang berkeadilan, konsisten, serta setia terhadap proses belajar itu sendiri.

Dari pertemanan itulah diharapkan akan muncul berbagai ide dan terobosan (breakthrough) yang akan memudahkan seseorang mencapai sasaran dan tujuan yang dikehendaki.

Barulah setelah itu seseorang bisa dikatakan sebagai pahlawan (celebration) karena dapat membuktikan dirinya berhasil dan bermanfaat bagi sesama bukan hanya karena kerja kerasnya secara pribadi, melainkan juga melalui sebuah kesepakatan dan bantuan teman-temannya.

Tahapan yang digambarkan itu dengan jelas memper lihatkan esensi dari sebuah epos kepahlawanan yang akan direngkuh seseorang.Bagi para pendidik, kesemua tahapan itu ialah sebuah kelayakan yang harus dipenuhi.

Dengan dimulai dari kesediaan untuk selalu belajar, menyadari bahwa mendidik ialah sebuah panggilan dan tanggung jawab, membutuhkan peer (sejawat) yang bisa memberi motivasi sekaligus memberi kritik, serta membutuhkan kreativitas dan imajinasi yang tak sedikit.

Mendidik ialah proses mencari jati diri kepahlawanan yang sesungguhnya. Bungkusan kesempurnaan dari dedikasi kepahlawanan seorang guru dalam mendidik ialah kejujuran dan keikhlasan, sebuah pedoman berharga yang hanya diketahui tempat dan sifatnya oleh diri kita masing-masing.

Jika para menteri diminta Presiden Jokowi untuk bekerja, bekerja, dan bekerja, para guru sebagai pahlawan pembelajar harus meneruskan epos kepahlawan baru dengan belajar, belajar, dan belajar. Selamat meneruskan perjuangan, wahai para pahlawan pembelajar tanpa tanda jasa!*

Oleh: Mario Yosryandi Sara*

COMMENTS