Dawainusa.com — Dunia internasional pada awal abad ke-20 dihebohkan dengan pameran World Fair yang menampilkan anak muda asal Kongo, Ota Benga, bersama delapan pemuda Afrika lain di Kebun Binatang Bronx, New York, Amerika Serikat.

Pameran itu berlangsung persis pada musim dingin, tepatnya pada September 1906. Kelompok pemuda Afrika itu tidak diberikan pakaian dan perlindungan yang cukup. Mereka dipamerkan selama 20 hari (9-28 September 1906) dan mengundang keramaian orang.

Menurut catatan dalam buku Spectacle: The Astonishing Life of Ota Benga (2015), seperti dikutip dari Kompas.com, Ota Benga mula-mula diculik di wilayah Kongo pada 1904 oleh pedagang AS Samuel Verner dan dibawa untuk dipamerkan di kandang monyet.

Usia Ota Benga pada saat itu tidak diketahui, namun kemungkinan berusia 12 atau 13 tahun. Ia dan teman-temannya dibawa dengan kapal ke New Orleans AS.

Peristiwa penahanan dan rasisme itu mengundang kemarahan dari pendeta Kristen yang berupaya mengakhiri penahanannya. Ia kemudian dipindahkan ke Howard Coloured Orphan Asylum di New York yang dijalankan oleh Pendeta Afrika-Amerika James H Gordon.

Pada Januari 1910, ia tingal di seminari untuk orang-orang kulit hitam di Virginia. Di sana dia mengajar orang-orang di lingkungan itu bagaimana cara berburu dan memancing, dia juga menuturkan kisah petualangannya di kampung halaman.

Enam tahun kemudian, ketika sudah memasuki usia 25 tahun, ia dilaporkan mengalami depresi karena kerinduannya akan rumah.

Pada Maret 1916, ia bunuh diri dengan pistol yang ia sembunyikan.

Baca Juga: Viral Kisah Anak Kecil Berani Naik Pesawat Sendiri demi Jenguk Ayahnya yang Sakit

Pihak Kebun Binatang Meminta Maaf atas Peristiwa Penyekapan Ota Benga

Lebih dari seabad setelah menjadi berita utama internasional karena memamerkan Ota Benga, dkk, pihak Kebun Binatang Bronx akhirnya meminta maaf.

Hal itu terjadi setelah protes global yang dipicu oleh rekaman video pembunuhan polisi terhadap George Floyd yang sekali lagi menyoroti rasisme di AS.

Cristian Samper, Presiden dan CEO Wildlife Conservation Society (WCS), pengelola kebun binatang itu, mengatakan bahwa penting “untuk merefleksikan sejarah WCS sendiri, dan keberlangsungan rasisme di lembaga kami”.

Ia berjanji lembaganya berkomitmen untuk transparan tentang episode kelam yang menginspirasi tajuk utama di seluruh Eropa dan AS mengenai penyekapan Ota Benga.

Tapi permintaan maaf itu terlambat karena baru dilakukan setelah institusi itu selama beberapa dekade berdiam diri dan menyembunyikan cerita yang sebenarnya.

Sejak tahun 1906, sebuah surat di arsip kebun binatang mengungkapkan bahwa para pejabat, setelah kritik yang meningkat, berupaya mengarang cerita bahwa Ota Benga sebenarnya adalah seorang karyawan kebun binatang. Cerita ini berhasil selama seabad.

Kemudian, pada 1974, William Bridges, kurator emeritus kebun binatang tersebut mengklaim bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidak dapat diketahui.

Dalam bukunya The Gathering of Animals, Bridges bertanya secara retoris: “Apakah Ota Benga ‘dipamerkan’ – seperti hewan yang aneh dan langka?” sebuah pertanyaan yang dia, sebagai orang yang memimpin arsip kebun binatang, paling tahu bagaimana menjawabnya.

“Bahwa dia dikurung di balik jeruji besi dalam sangkar kosong untuk ditatap selama jam-jam tertentu tampaknya tidak mungkin,” lanjutnya, mengabaikan segunung bukti di arsip masyarakat zoologi yang mengungkapkan hal itu.

Narasi penipuan ini tertuang dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1992 dan ditulis bersama oleh cucu Samuel Verner, penculik Ota Benga, dkk.

Buku itu secara absurd menggambarkan kisah persahabatan antara Verner dan Ota Benga. Dalam setidaknya satu artikel surat kabar setelah buku itu diterbitkan, cucu Verber juga mengklaim bahwa Ota Benga — yang dengan gigih memberontak atas penahanannya — sangat senang dipamerkan pada publik New York.

Selama lebih dari satu abad, Kebung Binatang dan orang-orang didalamnya telah secara sewenang-wenang mengeksploitasi Ota Benga, mengkontaminasi catatan sejarahnya dengan narasi yang tidak benar yang menyebar ke seluruh dunia.

Ketika buku Spectacle: The Astonishing Life of Ota Benga diterbitkan pada 2015, lima tahun kemudian, petugas kebun binatang secara misterius menolak untuk mengungkapkan penyesalan atau bahkan menanggapi pertanyaan media.

Buku ini ditulis oleh wartawan dan profesor jurnalistik di New York University Pamela Newkirk. Ia telah banyak menulis tentang Ota Benga dan menjadi saksi upaya selama beberapa dekade untuk menutupi apa yang terjadi padanya.

Ia beberapa kali berkesempatan untuk mengunjungi rumah primata tempat Ota Benga dipamerkan dan ditampung, tapi bangunan tersebut telah ditutup untuk umum.*