Dawainusa.com — Observatorium nasional di Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) segera rampung tahun depan. Jika bangunan itu selesai dikerjakan, maka akan menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara (ASEAN).

Pusat observasi antariksa ini dikerjakan atas kerjasama antara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang dan Pemerintah Kabupaten Kupang.

Sejak dikerjakan tahun 2017, LAPAN telah mengalokasikan dana sebesar Rp500 miliar dari APBN 2017 untuk pembangunan situs antariksa terbesar ini.

Baca Juga: NTT Catat Zona Hijau Corona Terbanyak di Indonesia

Rampung Tahun 2021

LAPAN sebelumnya menargetkan pembangunan selesai tahun ini, namun karena pandemi virus corona maka sedikit bergeser ke tahun depan.

Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN Halimurrahman mengatakan bahwa Gunung Timau Kupang dipilih menjadi lokasi pembangunan observatorium nasional karena diperlukan areanya bebas polusi cahaya dan udara.

“Karena di daerah yang polusi cahayanya sangat rendah kita bisa melihat bintang yang berkelip di atas kita,” katanya dalam acara diskusi virtual “Iptek Pengembangan dan Antariksa Bagi Indonesia Maju” di Jakarta, Senin (10/8).

Lokasi ini juga dipilih karena lebih strategis, tidak seperti lokasi observatorium di Bandung yang sudah mulai dipadati penduduk.

LAPAN saat ini diketahui sedang mengerjakan gedung teleskop. Gedung ini akan dilengkapi dengan teleskop 380 cm yang relatif besar untuk wilayah Asia-Pasifik dan sangat bermanfaat untuk penelitian keantariksaan, terutama di Indonesia timur.

“Pemanfaatan teleskop ke depan selain kepentingan ilmiah juga memantau benda buatan manusia seperti satelit, di sekitarnya apakah ada objek lain yang membahayakan,” kata Halimurrahman.

Gunung Timau Kupang, selain menjadi situs antariksa nasional, juga akan menjadi Kawasan Taman Nasional Langit Gelap serta perkantoran pusat sains.

Fasilitas tersebut dibangun untuk meningkatkan partisipasi Indonesia timur dalam bidang keantariksaan sekaligus membuka peluang pariwisata tematik.

Baca Juga: Ada Dana BOS, Sekolah di NTT Tetap Tagih Iuran Komite ke Orangtua Siswa

Dongkrak Industri Pariwisata

Dengan keberadaan observatorium nasional di Kupang, Halimurrahman berharap menjadi tempat wisata langit yang bisa meningkatkan ekonomi di daerah sekitar.

Keberadaan observatorium nasional di Kupang, kata dia, juga diharapkan mendorong Indonesia bagian timur memiliki sains khususnya keantariksaan yang maju seperti halnya observatorium Bosscha di Lembang, Bandung.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kupang, Charles Amekan mengatakan, kehadiran observatorium ini diharapkan berdampak positif terhadap percepatan pembangunan sektor pariwisata di kabupaten Kupang.

Ia mengatakan Pemkab Kupang akan memanfaatkan lahan di luar kawasan obersevatorium sebagai lokasi pembangunan fasilitas wisata, sehingga aktivitas penelitian dilakukan para ahli astronomi dari berbagai penjuru dunia tidak tergangu.

“Kami akan berkordinasi dengan pihak Lapan dalam menentukan lokasi pembangunan fasilitas wisata di kawasan itu. Lokasi yang ditentukan Lapan akan dibangun sarana dan prasara guna mendukung kegiatan wisata,” katanya, melansir CNN Indonesia.

Baca Juga: Permintaan Paket Wisata NTT dari Wisman Mulai Banyak

Ia pun optimistis kehadiran wisatawan yang datang ke Pegunungan Timau akan mempercepat geliat pembangunan ekonomi masyarakat di Amfoang Tengah.

“Kami yakin pertumbuhan ekonomi masyarakat di Amfoang Tengah akan terus bertumbuh dengan kehadiran fasilitas Observatorium nasional ini,” ungkapnya.*

View this post on Instagram

🇮🇩 Indonesia is entering a new chapter in aeronautics to be marked by construction of the largest national observatory facility in Southeast Asia. The observatory will be equipped with a telescope having a diameter of 3.8 meters, believed to be the largest and modern telescope in the Southeast Asian region. Having the latest and efficient technology, the telescope will be used for astrophysical research related to star observations, nebulae and galaxy structures.. The Timau mountainous area is considered to be a suitable site for building an observatory since it is located near the equator and can be used to observe the northern and southern hemispheres. The mountainous area is free from air pollution, and its tropical climate is ideal for making astronomical observations. . . #indonesiatechnology #indonesiaobservatory

A post shared by Good News From Southeast Asia (@seasia.co) on