Mundur dari Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Johan Budi Fokus ke Caleg

Mundur dari Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Johan Budi Fokus ke Caleg

JAKARTA, dawainusa.com – Johan Budi Sapto Pribowo, Juru bicara Istana Kepresidenan, resmi memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Ma’ruf untuk pilpres 2019. Johan Budi mundur karena ingin fokus pada agenda dan pekerjaannya.

“Saya mau fokus ke pencalegan saya dan sebagai staf khusus presiden,” tutur Budi saat dimintai keterangan oleh wartawan pada Senin (17/9). Ia mengakui bahwa menjalankan beberapa tugas tersebut tidak mudah. Fokus pada pencalegan yang merangkap sebagai jubir presiden butuh waktu yang banyak.

Johan Budi sudah mengundurkan diri sejak lama. Mantan juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini resmi mundur dari struktur Tim Kampanye Nasional sejak 10 September lalu. Di tengah gempuran relawan yang ingin bergabung, konsistensi Johan Budi pada pekerjaan patut diapresiasi.

Baca juga: Sandiaga Uno Sebut Erick Thohir Menangis Saat Dirinya Jadi Cawapres

Terpisah, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Abdul Kadir Karding menyampaikan bahwa pengganti Johan Budi akan secara dipikirkan dan diumumkan. Politisi PPP ini mengaku tidak ada persoalan bila Johan Budi mengundurkan diri dari posisi tersebut.

Ia mengakui bahwa dalam koalisi Jokowi-Ma’ruf masih ada beberapa orang yang memiliki kemampuan sebagai juru bicara politik. “Oh enggak, biasa saja. Karena kita (memiliki) banyak potensi, sumber daya yang berperan sebagai jubir,” tutur Karding.

Selain itu, pengunduran diri Johan untuk fokus dalam pencalegan tidak bermasalah, karena dalam lapangan, caleg dari partai koalisi memiliki tanggung jawab untuk mengkampanyekan Jokowi-Ma’ruf. Relasi ini oleh Abdul diistilahkan sebagai simbiosis.

“Iya pasti. Karena kita punya kerja sama dengan Jokowi di partai masing-masing. Sudah ada strategi yang dibicarakan bersama, bagaimana Pak Jokowi dapat suara, caleg juga dapat suara. Simbiosis mutualisme,” jelas Karding.

Namun terkait siapa yang akan menggantikan Johan, Karding memilih bungkam. Untuk sekarang, masih ada beberapa nama yang berposisi sebagai jubir, seperti Wasekjen PDI Perjuangan Ahmad Basarah, Ace Hasan Syadzily (Golkar), Irma Suryani Chaniago (NasDem), Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta, dan Arya Sinulingga (Perindo).

Maju Sebagai Caleg, Johan Budi Dapat Restu Presiden

Johan Budi merasa bahwa waktunya tidak akan cukup untuk memikirkan tim kampanye nasional. Oleh karena itu, ia memilih untuk fokus. Sebagai caleg, Johan Budi maju dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P.

Melansir Tempo.co, ia akan bertarung dari daerah pemilihan Jawa Timur yang meliputi Pacitan, Ngawi, dan sekitarnya. Menurut infromasi KPU, wilayah tersebut masuk dalam dapil Jatim 7. Wilayah dapil 7 juga mencakup Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, dan Magetan.

Pencalonan Johan Budi sebagai caleg PDIP sudah mendapat ijin dari Presiden Joko Widodo pada Juli 2017 yang lalu. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan bahwa pencalegan tersebut bukan inisiatif pribadi melainkan tawaran dari pimpinan partai PDI Perjuangan.

Baca juga: Debat dengan Bahasa Inggris, TKN Jokowi Usul Lomba Ngaji dan Salat

Alasan mengapa Johan Budi menerima tawaran dari Megawati Soekarnoputri menarik juga untuk diketahui. Apakah PDI Perjuangan membutuhkan nama populer untuk meningkatkan elektabilitas partai?

Yang jelas, posisi Budi sebagai caleg setara dengan beberapa menteri lain yang juga mengajukan diri untuk bertarung sebagai wakil rakyat. Sebagaimana menteri-menteri yang lain, Johan juga harus mengajukan cuti kampanye.

Sebelum menjadi jubir istana, Johan Budi sudah pernah bekerja sebagai Juru Bicara KPK dan Pelaksana Tugas KPK ketika dua pimpinan lembaga rasuah, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, terjerat kasus.*