Dawainusa.com —¬†Tindakan pelecehan seksual yang dilakukan dukun cabul berinisial ARF (40) terhadap pasien perempuan 30 tahun di Bondowoso, Jawa Timur, berujung pidana.

Akibat perbuatannya, pelaku terancam dijerat Pasal 285 KUHP tentang Perkosaan, subs Pasal 290 KUHP tentang Perbuatan Cabul dengan ancaman paling lama 12 tahun penjara.

Sebagaimana diberitakan Detik.com, pelaku melakukan aksinya dengan modus untuk menyembuhkan pasien atau korban yang sedang mengalami sakit.

Dalam praktik penyembuhan, pelaku bukannya menyembuhkan pasien, tetapi malah melakukan tindakan asusila dengan memperkosa pasien di sebuah kamar hotel. Mula-mula pelaku memasukkan telur mentah ke dalam kemaluan pasien lalu menyetubuhi pasien.

Peristiwa pencabulan dukun ARF terjadi di sebuah kamar hotel kawasan Pasir Putih Situbondo, Selasa (21/7) lalu. Namun, korban baru menyampaikan laporannya ke pihak kepolisian Situbondo sekitar 4 hari kemudian.

Setelah kasusnya terbongkar, ARF yang merupakan warga Desa Grujukan, Kabupaten Bondowoso, kini dilaporkan telah melarikan diri.

Pihak kepolisian Situbondo telah membentuk tim khusus untuk memburu dan menangkap pelaku, seperti diungkapkan Kapolres Situbondo AKPB Sugandi pada Senin (3/8).

Dukun Cabuli Pasien di Hotel

Fakta bahwa ada banyak dukun yang mencabuli pasien dalam praktik penyembuhan tidak menjadi hal yang sama sekali baru. Sebab kejadian serupa marak terjadi di masyarakat.

Terhadap kasus ARF, kepolisian Situbondo sedang melakukan proses penyidikan setelah sebelumnya melakukan penyelidikan.

Dalam olah TKP dan pra rekonstruksi yang menghadirkan korban dan suaminya diketahui bahwa sebelum sebelum bertemu dengan pelaku di kawasan Pasir Putih Situbondo, korban bersama suaminya sempat menjemput tersangka di daerah Nangkaan Bondowoso.

Kapolres Situbondo AKBP Sugandi mengatakan, korban dan suaminya menginginkan dilakukan terapi total untuk pengobatan asam lambung yang diderita korban.

Ketika sudah mencapai kata sepakat, keduanya diminta pelaku agar terapi dilakukan di hotel Pasir Putih. Saat itu, suami korban bahkan meminjamkan motornya kepada dukun cabul. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka bertolak ke lokasi kejadian.

Ketika tiba di hotel, suami korban sempat memesan kamar D-8. Namun, tersangka ternyata juga memesan satu kamar nomor D-5, dengan dalih satu kamar tidak diperkenankan untuk tiga orang. Kemudian mereka pun menuju ke kamar yang dipesan.

Setibanya di kamar hotel, korban diminta untuk masuk ke dalam kamar D-8. Sementara pelaku sempat berbincang dengan tersangka di depan kamar sekitar 30 menit.

Setelah itu pelaku masuk ke dalam kamar korban, sembari menutup pintu dan kain gorden. Pelaku pun mulai melakukan aksinya dengan memasukkan telur ke kemaluan, sebelum akhirnya disetubuhi di dalam kamar mandi.

Kepolisian Kantongi Barang Bukti

Pihak Kepolisian Situbondo telah mengantongi sejumlah barang bukti dalam kasus asusila tersebut berupa telur, daun sirih, pakaian dalam wanita.

Dari penuturan korban, diketahui bahwa telor tersebut digunakan pelaku untuk dimasukkan telur ke kemaluan korban yang sedang menderita sakit tersebut.

Setelah memasukkan telor, pelaku meminta korban mengeluarkan telur itu. Namun pelaku juga ikut membantu mengeluarkan telor tersebut.

Sementara itu, tiga lembar daun sirih dijadikan sarana pengobatan dukun cabul ARF. Di mana daun sirih digunakan untuk menutupi atau ditempelkan ke bagian payudara korban.

Selain itu, pelaku juga menggunakan minyak zaitun untuk mengobati korban. Namun minyak tersebut dibawa serta oleh pelaku.

Sementara, barang-barang bukti yang diamankan Polisi dibawa korban atas permintaan pelaku. Alasannya untuk dijadikan sarana pengobatan.

Korban Total Membayar Rp760 Ribu

Korban pun mengaku bahwa pelaku meminta jasa pengobatan tersebut sebesar Rp300 ribu. Uang tersebut telah dibayar kepada pelaku keesokan harinya setelah pengobatan.

“Uang itu diserahkan keesokan harinya setelah kejadian di hotel kawasan Pasir Putih itu,” kata Sugandi, di Mapolres Situbondo, Senin (3/8).

Sebelum peristiwa pencabulan, korban pernah menjalani dua kali terapi pijat dan mendapatkan jamu ramuan khusus dari dukun cabul asal Desa Grujukan, Bondowoso itu.

Selama masa terapi tersebut, korban berinisial AR tersebut menyerahkan uang masing-masing senilai Rp210 ribu dan Rp250 ribu kepada ARF. Jadi, total korban membayar pengobatan kepada dukun cabul sebesar Rp760 ribu kepada pelaku.

Sugandi tidak menampik kenyataan bahwa kasus-kasus serupa sering terjadi. Karena itu, ia berharap modus-modus pengobatan seperti itu tidak lagi terulang di masyarakat.

“Ini merupakan kasus atensi dan modus-modus ini sering terjadi di masyarakat. Dengan demikian, masyarakat jangan sampai tertipu,” pungkasnya.*