Mengintip Sejumlah Kegundahan Jokowi Jelang Pilpres

Mengintip Sejumlah Kegundahan Jokowi Jelang Pilpres

JAKARTA, dawainusa.com Suhu politik tanah air semakin memanas. Perang opini kedua kubu yang bakal bertarung di kancah pilpres tak bisa dibendung lagi. Narasi yang beredar pun beragam. Boleh jadi, intensinya hampir sama; mempengaruhi psikologi massa.

Di balik suhu politik yang memanas itu, muncul sejumlah kegundahan Jokowi sebagai sang petahana. Dalam beberapa kesempatan, mantan wali kota Solo itu menunjukan hal itu.

Jokowi sendiri menginginkan Pemilu 2019 diselenggarakan dengan politik sehat, tanpa ada kebohongan ataupun kecurangan. Barangkali Jokowi tidak sedang menyinggung drama kebohongan Ratna Sarumpet yang selalu diindetikkan dengan kubu oposisi.

Baca juga: Rizal Ramli Lapor Dugaan Skandal Korupsi Impor Pangan ke KPK

Namun, banyak juga yang menilai, narasi politik yang diedarkan kubu petahana hanya omong-kosong belaka. Toh pada akhirnya kedua kubu tetap menggunakan cara-cara tak sehat di belakang layar. Termasuk politik kebohongan plus kecurangan.

Mengintip Sejumlah Kegundahan Jokowi Jelang Pilpres

Jokowi saat menghadiri acara ukang tahun Partai Golkar – ist

Berikut beberapa momen saat Presiden Jokowi menyampaikan kegundahannya:

1. Jokowi: Akhiri Politik Kebohongan

Politik kebohongan menjadi topik menarik beberapa hari terakhir. Dua kubu saling serang sekaligus membaptis diri siapa yang yang paling pantas bicara tentang kejujuran.

Jokowi menegaskan, pemilu harus diwarnai adu gagasan dan program. Ia tak ingin pesta demokrasi lima tahunan ini menjadi ajang kontestasi adu kebohongan.

“Kita harus akhiri politik kebohongan, politik yang merasa benar sendiri,” kata Jokowi dengan lantang saat memberikan sambutan dalam acara peringatan HUT ke-54 Golkar di Hall D2, Jakarta International Expo, Jakarta Pusat.

2. Jangan Dekati Rakyat hanya Saat Pilpres

Arah sindiran Jokowi ke kubu mana, kita tak tahu. Yang pasti Jokowi mengingatkan agar para politikus terus mendengar keluhan dan aspirasi rakyat, bukan hanya pada saat menjelang pemilu saja.

“Jangan pas mau Pilpres, Pileg baru dekat-dekat dengan rakyat. Hati-hati masyarakat sekarang melihat itu,” kata Jokowi.

Rupanya, ucapan Jokowi sulit sekali direalisasi di Indonesia. Mana ada politisi ingin dekat dengan rakyatnya, hidup dan turut merasakan penderitaannya jika tak ada udang di balik batu. Itu hanya omong-kosong belaka.

3. Jangan Pakai Isu SARA

Salah satu persoalan terbesar bangsa ini adalah politik SARA dalam setiap kontestasi politik. Di sana, rasionalitas warga negara dikeberi, politik identitas dimainkan. Jokowi tentu merasakan hal itu.

Karenanya, ia dan tim kampanye berharap isu SARA tidak lagi digunakan untuk menjatuhkan lawan demi meraup suara. Barangkalli harapan Jokowi dan tim kampanye ini tidak hanya menyasar kubu lawan, tetapi juga ke kubu petahana sendiri.

“Jangan sampai kita dalam Pilpres memakai isu SARA lagi, kemudian cara-cara fitnah yang saya kira tidak mendewasakan dan mematangkan demokrasi kita,” kata Jokowi.

4. Isu yang Sring Menyerang Jokowi

Banyak isu yang menyerang Jokowi jelang pilpres. ia secara blak-blakan mengatakan terdapat empat isu yang sering menyerangnya saat pilpres. Contohnya isu terkait Partai Komunis Indonesia (PKI) dan isu antek asing.

“Ada isu PKI, antek asing, isu TKA asing terutama dari China, kriminalisasi ulama atau anti Islam. Semua itu harus dijawab,” ujar Jokowi di Semarang.*