Mengenal Pussy Riot, Dalang di Balik Insiden Final Piala Dunia

Mengenal Pussy Riot, Dalang di Balik Insiden Final Piala Dunia

Pussy Riot adalah kelompok punk feminis Rusia yang berbasis di Moskow yang konsisten menyerukan suara perlawanan terhadap rezim Putin. (Foto: Petugas keamanan menarik seorang wanita dari lapangan setelah dia menyerbu ke lapangan dan menyela pertandingan final antara Perancis dan Kroasia - ist)

PROFIL, dawainusa.com Insiden penonton masuk lapangan yang terjadi pada laga final Piala Dunia kemarin (15/7) menyedot perhatian publik. Insiden tersebut terjadi pada menit ke-52, ketika secara tiba-tiba empat orang yang terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki yang mengenakan seragam polisi berwarna putih masuk ke area Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia.

Pertandingan antara Perancis vs Kroasia itu diberhentikan sementara waktu sebelum akhirnya keempat orang tersebut diamankan petugas dan dibawa ke kantor polisi terdekat. “Mereka yang bersangkutan sudah dibawa ke kantor polisi setempat untuk diamankan,” kata petugas dari Kementerian Dalam Negeri Rusia, seperti dilaporkan The Guardian.

Siapa sesungguhnya dalang di balik aksi yang menggemparkan itu? Mereka adalah Pussy Riot, musuh bebuyutan Presiden Rusia Vladimir Putin. Hal itu diketahui setelah kejadian, Pussy Riot, melalui laman Facebook-nya mengeluarkan pernyataan bahwa keempat orang yang masuk stadion adalah anggotanya.

Baca juga: Profil Zakir Naik, Penceramah Kontroversial Muslim Jebolan Sekolah Katolik

Aksi tersebut sengaja didesain sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Putin. Adapun tuntutan yang mereka layangkan, antara lain: membebaskan tahanan politik, menghentikan represi lewat media sosial, membuka kembali persaingan politik, serta menyudahi penangkapan tanpa dasar hukum yang jelas.

Selain itu, Pussy Riot juga meminta pemerintah membebaskan aktivis Oleg Sentsov, yang dikenal vokal menolak aneksasi Rusia atas Krimea (Ukraina) pada 2014, yang dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun karena dianggap “merencanakan teror.” Mereka juga mengkritisi aparat yang dinilai gagal melakukan reformasi kepolisian Rusia dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat.

Mengenal Pussy Riot

Gaya kepemimpinan Putin yang otoriter dan tidak ragu menggunakan cara-cara licik demi melanggengkan kekuasaannya, menjadi salah satu alasan hadirnya Pussy Riot di tanah Rusia. Putin, dengan membuat undang-undang yang membatasi kebebasan hak sipil, dengan mudah menggebuk lawan politiknya yang membangkang. Warga dipenjarakan dengan dalih prilaku anarkis, lawan politik dituduh melakukan penggelapan anggaran, penipuan pajak hingga tuduhan pembunuhan.

Pussy Riot adalah kelompok punk feminis Rusia yang berbasis di Moskow. Sejak pertama kali berdiri pada tahun 2011 lalu, Pussy Riot aktif dan konsisten menyerukan suara perlawanan terhadap rezim Putin. Gerakan yang juga sering mengkritik Gereja Ortodoks itu menganggap Putin tidak manusiawi, ingin berkuasa penuh dan membungkam kebebasan warga negaranya.

Baca juga: Najib Razak dan Pukulan Terkhir Mahathir Mohamad

Menggelar serangkain penampilan di tempat umum menjadi ciri khas aktivitas Pussy Riot. Lagu-lagu protes dinyanyikan di sana, seolah mengajak para pendengarnya untuk meneriakn revolusi.

Sebetulnya, aksi Pussy Riot di Stadion Luzhniki yang bikin Putin naik Pitam kemarin malam, bukanlah yang pertama. Dilansir dari The Guardian, pada 2012 lalu, Pussy Riot pernah melakukan aksi yang cukup fenomenal. Mereka memainkan lagu berjudul “Punk Prayer” di altar suci Katedral Kristus dan Juru Selamat di Moskow.

Arah kritik mereka jelas; Gereja Ortodoks. Di mata Pussy Riot, kehadiran Gereja Ortodoks di Rusia sangat konservatif, anti perempuan, anti LGBT dan mempunyai kedekatan dengan Putin. Pertunjukan yang hanya berlangsung dalam hitungan menit itu, berdampak panjang, baik secara domestik maupun internasional.

Di dalam negeri, anggota Pussy Riot harus menghadapi tuntutan hukum karena dirasa telah mempromosikan “hooliganisme yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama.” Di Rusia, hooliganisme digunakan untuk merujuk kepada pelanggar hukum atau pembangkang politik. Akibatnya, dua pentolan Pussy Riot yakni Tolokonnikova dan Alykhina dijatuhi dua tahun penjara. Sementara salah satunya yakni Samutsevich lolos dari jerat hukum karena pengadilan tidak menemukan keterlibatannya lebih jauh dalam aksi tersebut.

Pasca keduanya ditahan, gelombang protes di Rusia bermunculan. Beberapa LSM di Rusia menyerukan tuntutan pmbebasan kepada Tolokonnikova dan Alykhina. Mereka menilai, penangkapan terhadap anggota Pussy Riot sangat manipulatif. Hukuman untuk keduanya dianggap sangat berlebihan.

Tak hanya di dalam negeri, dukungan terhadap Pussy Riot di luar negeri mengalir deras. Deretan musisi seperti Madonna, Bjork, sampai Paul McCartney ramai-ramai memberikan dukungan. Mereka menganggap Pussy Riot merupakan simbol perlawanan.

Pada 2014, keduanya bebas dan kembali meneruskan aktivismenya. Selain mengkritik rezim Putin, mereka juga membela pemenuhan hak-hak terhadap perempuan, LGBT, serta menolak wujud kapitalisme dalam bentuk apapun.

“Kami adalah bagian dari pertarungan politik yang saat ini sedang berlangsung di Rusia. Dan kami, para anggota oposisi, punya pepatah. Kami ​​ingin Putin dan kroni-kroninya keluar dari negara ini. Kami ingin Rusia menjadi tempat yang berbeda … Dan kami percaya kami memiliki kekuatan untuk mewujudkannya,” kata Tolokonnikova.

Gerakan mereka kembali bergema pada Maret 2018 lalu. Kelompok ini merilis lagu baru Pemilu sebagai bentuk protes terhadap kekuasaan Putin. Lagu tersebut diputarkan ketika orang-orang Rusia menuju ke tempat pemungutan suara. Mereka lagi-lagi mengkritisi Putin yang dinilai mengkrangkeng upaya mewujudkan demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di Rusia.

“Apa kekuatan ’18 tahun Putin’ yang dibawa kepada kita? Penangkapan, keracunan, penyiksaan, pembunuhan aktivis politik. Korupsi institusional yang BESAR. Erosi institusi demokratis. Ketimpangan ekonomi raksasa. Memburuknya kondisi penjara. Bencana lingkungan di banyak kawasan industri di Rusia. Sensor di mana-mana; di media, di pendidikan, di internet. Anda tidak boleh ditipu, acara ini pada 18 Maret bukanlah pemilu. Pemalsuan, penghapusan lawan-lawan politik, media yang dikuasai Kremlin tidak memberi peluang kepada siapa pun kecuali Putin,” tulis Pussy Riot seperti yang dikutip The Guardian.*