dawainusa.com Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali ke zona hijau covid-19. Ini adalah kabar baik bagi seluruh warga NTT, mengingat beberapa waktu lalu, provinsi kepulauan itu ‘tumbang’ setelah salah satu warganya terpapar corona.

Dengan demikian secara nasional, ada dua provinsi yang saat ini ‘bebas’ kasus positif covid-19; Aceh dan NTT. Beberapa waktu lalu, pemerintah Provinsi DI Aceh melaporkan sebanyak empat dari lima pasien positif virus corona di daerah tersebut dinyatakan sembuh.

Baca juga: Doni Monardo: NTT Jadi Daerah Prioritas Pendistribusian Reagen

Sementara satu pasien positif lainnya telah meninggal saat perawatan. Pasien meninggal tersebut merupakan yang pertama sejak Aceh menyatakan memiliki kasus pasien positif Covid-19.

Di NTT, kabar tentang hasil swab kedua pasien positif covid-19 pertama diumumkan pada Jumat (24/04/2020) sore, oleh Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan virus Corona atau covid-19 Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu.

Setelah melalui proses perawatan medis yang cukup intesif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W. Z. Yohanes Kupang, dan dengan hasil swab kedua yang dinyatakan negatif, pasien tersebut dinyatakan sembuh.

Kesembuhan pasien positif pertama corona di NTT itu menghantar NTT kembali ke zona hijau covid-19. Setidaknya, kecemasan publik NTT mulai menurun. Orang tak lagi panik berlebihan soal pandemi ini. Virus corona ternyata bisa dilumpuhkan.

Dengan kembalinya NTT ke zona hijau covid-19, Apakah kita bisa menyebut NTT aman corona?

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Domikus Minggu Mere sebetulnya sudah menyentil soal ini pada Jumat (24/4/2020) kemarin.

Menurutnya, meskipun NTT bebas kasus positif corona, tren peningkatan kriteria ODP maupun PDP di provinsi tersebut masih cukup tinggi. Karena itu, NTT katanya belum bisa dikatakan aman dari penyebaran Covid-19.

“Kita ketahui bahwa ODP jumlahnya cukup besar 1.577 sedangkan OTG ada 58. Dengan melihat kondisi seperti ini maka kita tidak bisa mengatakan NTT ini aman dari penyebaran Covid-19. Namun kita harus tetap mengikuti prinsip kehati-hatian. Upaya deteksi dini yang harus dilakukan, apabila peningkatan kasus kedepannya itu kita harus melibatkan seluruh sumber daya yang besar terutama terhadap penangan pasien di rumah sakit,” jelas dokter Domi.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat menyorotti hal sama. Melalui Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan virus Corona atau covid-19 Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengimbau kepada seluruh masyarakat NTT untuk tetap waspada.

“Tetapi Bapak Gubernur tetap mengimbau seluruh masyarakat NTT untuk tetap waspada dan siaga,” tandas Marius kepada wartawan di posko gugus tugas di Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Jumat (24/04/2020) sore.

Dalam catatan Gugus Tugas Covid-19, masih banyak orang dalam pemantauan (ODP) dan juga pasien dalam pengawasan (PDP) dan juga orang tanpa gejala (OTD) yang hasil tesnya belum selesai atau diketahui.

Merujuk pada data dari 22 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se NTT, hingga Kamis malam jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG) 82 orang, OTG saat ini 58 orang, OTG selesai dipantau berjumlah 24 orang.

Jumlah ODP, PDP dan Konfirmasi sebanyak 1606 orang. ODP berjumlah 920 orang, selesai masa pemantauan 15 orang, karantina mandiri sebanyak 582 orang, karantina terpusat 39 orang, kondisi saat ini 636 orang.

Sementara itu, sampel yang dikirim untuk pemeriksaan swab sebanyak 75. Dari total sampel yang dikirim, hasil negatif 43 sampel dan belum ada hasil 31 sampel.

Pertayaannya, bagaimana dengan 31 sampel yang belum diketahui hasilnya tersebut? Apakah semunya negatif, atau sebaliknya? Tentu kita berharap hasil swab 31 sampel yang tersisa negatif.

Kesulitan Pemeriksaan Swab, NTT Aman Corona?

Beberapa waktu lalu, Wakil Gubernur NTT Yosef Nae Soi melakukan telekonferens dengan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, Letjen (TNI) Doni Monardo.

Ada satu hal yang disoroti Wagub Nae Soi, yakni kesulitan Provinsi NTT dalam pemeriksaan sampel swab. Selama ini semua sampel Swab dari NTT dikirim ke Laboratorium di Jakarta dan Surabaya.

Baca juga: Gubernur Viktor Laiskodat Soal NTT Bebas Kasus Positif Covid-19

Menurut Nae Soi, NTT memang sudah menyiapkan Polymerase Chain Reaction (PCR) namun alat kit reagennya belum ada.

Ia mengatakan, labolatorium kesehatan di RSUD Yohanes sudah siap memeriksa sampel swab tenggorokan dari orang dalam pemantauan (ODP), orang tanpa gejala (OTG), dan pasien dalam pengawasan (PDP), bahkan pasien covid-19.

“Kami sudah punya laboratorium, tinggal tunggu reagen untuk pemeriksaan Swab. Kami meminta melalui pa Jenderal, mohon kementerian kesehatan lebih cepat mengirim kami reagen, supaya PCR kami bisa berfungsi,” katanya.

Permintaan Wagub Nae Soi direspon Doni Monardo. Menurutnya, Provinsi NTT akan menjadi daerah prioritas untuk pendistribusian reagen begitu alat ini tiba di Indonesia.

“Memang untuk peralatan kesehatan, kita berebutan dengan berbagai negara untuk mendatangkan alat-alat ini. Saya akan perintahkan begitu barang datang, untuk segera kirim dan prioritaskan ke Kupang,” jelas Doni.

Tren peningkatan kriteria ODP maupun PDP di NTT, ditambah pula kesulitan Provinsi NTT dalam pemeriksaan sampel swab, setidaknya bisa menjawab pertanyaan di awal: Mengapa Kita Jangan Terlalu Buru-buru Menyebut NTT Aman Corona?

Dokter Asep Purnama pernah menulis begini:

“Selama NTT masih kesulitan memeriksa swab tenggorok untuk membuktikan Covid-19, maka kita akan negatif terus.

Di Maumere swab tenggorok bisa kita lakukan, tetapi mengirim ke Surabaya untuk diperiksa hasil swabnya, tidak ada maskapai yang mau. Sementara di Nagekeo untuk periksa hasil swabnya, belum bisa karena terkendala SDM dan APD. Demikian juga di beberapa Kabupaten di NTT lainnya. Jadi, sangat wajar bahwa kita ‘belum’ ada kasus Covid-19,” ungkapnya sebelum satu warga NTT terpapar corona, beberapa waktu lalu.*