Mengaku Bersalah, Admin Muslim Cyber Army Menyesal dan Minta Maaf

Mengaku Bersalah, Admin Muslim Cyber Army Menyesal dan Minta Maaf

Enam pelaku yang diduga admin dari grup WhatsApp ‘The Family Muslim Cyber Army (MCA)’ mengaku menyesal dan meminta maaf atas postingannya. (Foto: Para tersangka MCA - Tribunnews)

JAKARTA, dawainusa.com Enam pelaku yang diduga admin dari grup WhatsApp ‘The Family Muslim Cyber Army (MCA)’ mengaku menyesal dan meminta maaf atas postingannya yang telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Keenam admin tersebut adalah M Luth (39), Rizki Surya (34), Ramdani Saputra (38), Yuspiadin, Romi Chelsea, dan Tara Arsih. Mereka ditangkap jajaran Direktorat Siber Bareskrim Polri secara serentak di enam kota berbeda pada Senin 26 Februari 2018 lalu.

Mereka diduga telah melakukan provokasi berupa ujaran kebencian dan berita bohong alias hoaks. Salah satu pelaku, M Luth yang ditangkap di Jakarta, mengungkapkan penyesalan atas perbuatannya tersebut. Mereka juga berjanji untuk tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.

Baca juga: Isu Prabowo Dilarang ‘Nyapres’ Karena Stroke Dibantah Fadli Zon

“Terutama bangsa Indonesia, yang dipimpin oleh jajaran paling tertinggi, kepada Mabes juga yang ada di sini, cyber crime. Saya mengakui telah menyesal, dan tadi juga sepakat teman-teman diatas mengakui juga kepada saya, menyesal mereka semua,” kata M Luth, di Kantor Bareskrim, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/2).

Menurutnya, ada perbedaan pandangan antara jurnalis dengan diri mereka. Ia baru sadar setelah diberitahu oleh seorang anggota Polri bahwa tindakan yang mereka lakukan merupakan kesalahan.

“Karena beda mungkin pandangan sebagai jurnalis, kami dibilang hoaks atau bohong, karena kami tersangka. Ada perbedaan yang telah disampaikan oleh salah satu kepolisian, yang saya enggak tahu pangkatnya yang inisialnya S merekalah yang menyadarkan kami semua di sini. Itu adalah segi daripada yang namanya analis kalau dalam Islam itu qiyas, dalam akidah. Gitu aja,” pungkasnya.

Beragam Konten Hoax yang Disebarkan

Sebelumnya, polisi menangkap anggota MCA di beberapa tempat terpisah, yakni Muhammad Luth di Tanjung Priok, Rizki Surya Dharma di Pangkal Pinang, Ramdani Saputra di Bali, Yuspiadin di Sumedang, Roni Sutrisno di Palu, dan Tara Arsih di Yogyakarta.

Keberadaan kelompok MCA ini mirip dengan Saracen yang sebelumnya telah diungkap polisi. Konten-konten yang disebarkan pelaku meliputi isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia, penculikan ulama, dan pencemaran nama baik presiden, pemerintah, hingga tokoh-tokoh tertentu.

Baca juga: Alasan Kemanusiaan, Jokowi Izinkan Ba’asyir untuk Berobat

Isu bohong yang disebarkan itu termasuk menyebarkan soal penganiayaan pemuka agama dan perusakan tempat ibadah yang ramai belakangan. Tak hanya itu, pelaku juga menyebarkan konten berisi virus pada orang atau kelompok lawan yang berakibat dapat merusak perangkat elektronik bagi penerima.

Mereka terancam dikenai Pasal 45A Ayat (2) jo Pasal 28 Ayat (2) UU ITE 11/2008 ITE, pasal jo Pasal 4 huruf b angka 1 UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 33 UU ITE.

Harus Ditindak

Semanatara itu, menganggapi kasus MCA, pakar hukum tata negara Mahfud MD mengatakan sudah selayaknya pelaku penyebar kebohongan ditindak dan ditangkap oleh aparat penegak hukum.

“Ya, harus ditangkap ditindak,” kata Mahfud di Kompleks Istana Presiden, Rabu kemarin.

Baca juga: Hina Jokowi dan Iriana dengan Kata Ini, MKN Diciduk Polisi

Penangkapan terhadap pelaku penyebar hoaks, kata dia, sudah berdasarkan aturan yang berlaku. Karena itu, menurut Mahfud, apa pun alasannya, pelaku penyebar kebohongan harus ditindak.

“Kalau menyebar hoaks itu sudah ada UU-nya. UU ITE, KUHP juga ada. Kalau menurut saya harus ditindak, apa pun alasannya,” kata Mahfud.

Saat ini, Polri akan terus melakukan pengejaran kepada para tersangka penyebar hoaks Muslim Cyber Army (MCA), termasuk yang dikabarkan berada di luar negeri. Upaya red notice pada Interpol akan ditempuh.*