Menengok Kemeriahan Caci Penti Gendang Curu-Karot

Menengok Kemeriahan Caci Penti Gendang Curu-Karot

Caci membutuhkan nyali yang cukup. Jika cambuk mendarat di bagian tubuh pemain, maka pemain tersebut akan menderita luka-luka karena cambuk akan merobek kulit. (Foto:Caci Penti Gendang Curu-Karot - ist)

RUTENG, dawainusa.com Matahari belum meninggi. Sekelompok ibu dengan pakaian adat Manggarai lengkap, mulai menabuh gendang dan memukul gong di halaman Rumah Adat Kampung Curu, Karot, Kecamatan Langke Rembong, Jumat (10/08).

Irama gendang dan gong yang saling bersahutan terdengar dari kejauhan. Setiap dentumannya seakan memanggil orang untuk berkumpul karena pentas caci akan dimulai.

Tak lama berselang, orang perlahan mendatangi lokasi. Semakin lama semakin banyak dan memadati sekitar lokasi tempat pementasan. Para pria pemain caci pun mulai terlihat di halaman kampung.

Tarian yang memesona yang mereka peragakan sejalan dengan bunyi gendang dan gong yang semakin keras dibunyikan.

Baca juga: Diam-diam Polisi Gelar Olah TKP Penembakan Fredy Taruk

Caci Hanya untuk Pemberani

Pernah dengar tarian caci? Yah, Caci adalah sejenis tarian yang menguji ketangkasan para pria dengan menggunakan cambuk atau cemeti dan tameng. Adapun permainan ini dilakukan dengan satu lawan satu. Jika salah satu pemain menghujam dengan cambuk, maka lawannya menggunakan tameng untuk menangkis pukulan.

Permainan ini membutuhkan nyali yang cukup. Betapa tidak, jika cambuk yang berbahan kulit kerbau itu mendarat di bagian tubuh pemain, maka pemain tersebut akan menderita luka-luka karena cambuk akan merobek kulit.

Baca juga: Penembakan Fredy Taruk, Upaya Polisi Setelah Kantongi Calon Tersangka

Tak jarang, pementasan caci di Manggarai menelan korban jiwa. Hal itu bisa terjadi jika cambuk mengenai bagian mata atau bagian kepala yang sensitif. Karena menbutuhkan nyali ekstra, permainan ini tidak bisa dimainkan oleh orang biasa.

“Sudah sering ada cerita pemain caci yang mati di arena, biasanya karena pukulan cambuk yang mengenai bagian sensitif di area kepala, kata Yoan, salah seorang pemain caci, kepada Dawainusa di Ruteng, Jumat (10/08).

Untuk pakaian yang digunakan pemain dalam pementasan caci, pemain mengenakan pakaian adat lengkap khas pria Manggarai. Bagian kepala pemain dibungkus dengan kain destar dan destar tersebut ditutup dengan topi berbentuk tanduk kerbau yang disebut ‘panggal’.

Caci dalam Nuansa Penti Kampung Curu-Karot

Penti merupakan salah satu upacara adat bagi orang Manggarai, Flores NTT yang hingga kini masih terus dilestarikan. Penti sendiri dalam prakteknya, merupakan sebuah ritus ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama setahun dan dikenal pula sebagai perayaan tahun baru bagi orang Manggarai.

Pelaksanaan ritus ini dalam tradisinya biasa digelar antara bulan Agustus hingga September setiap tahun. Beberapa rentetan acara biasanya dilakukan termasuk dengan pementasan caci.

Baca juga: PMKRI Ruteng: Polres Manggarai Jangan Beri Harapan Palsu

Hal serupa dilakukan oleh wara dari Suku Curu, Kampung Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT. Sebagai ungkapan syukur, warga dari suku tersebut menggelar penti atau lengkap dengan sebutan penti weki peso beo.

“Ini adalah ungkapan syukur dan terimakasih kita kepada leluhur setelah panen. Penti ini ucapan syukur atas segala rahmat,” jelas Yohanes Rikardus Madu, tokoh adat sekaligus ketua panitia acara tersebut.

Dijelaskan Madu, pelaksanaan penti tersebut dilaksanakan bulan Agustus karena bersamaan dengan menyonsong HUT RI pada 17 Agustus mendatang.

“Kenapa penti ini penting, apa kaitannya dengan 17 agustus? Penti ini juga dibuat untuk menciptakan sebuah kebersamaan, untuk menumbuhkan rasa persaudaraan antara masyarakat dengan pemerintah,” jelasnya.

Pantauan Dawainusa, Dalam pementasan caci pada acara penti ini turut hadir Bupati Manggarai, Deno Kamelus. Bupati Deno hadir bersama Wakil Bupati Viktor Madur dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Frumensius Linus Tojo Kurniawan.* (Elvys Yunani)