Meminimalisir Korban Gempa (Bagian 2)

Meminimalisir Korban Gempa (Bagian 2)

Konsep umum bangunan tahan gempa adalah perihal menjadikan seluruh elemen bangunan sebagai satu kesatuan yang utuh, sehingga tidak akan terlepas/runtuh saat terjadinya gempa. (Foto: Alfred R. Januar Nabal - ist)

SENANDUNG, dawainusa.com Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Meminimalisir Korban Gempa. Dalam tulisan terdahulu, saya telah membahas filosofi bangunan tahan gempa yang mesti diperhatikan, baik oleh para pelaku konstruksi maupun masyarakat luas.

Indonesia sebagai negara yang wilayahnya terletak di Pasific Ring of Fire, penerapan filosofi ini sangat penting dalam praktek konstruksi di Indonesia. Konsep umum bangunan tahan gempa adalah perihal menjadikan seluruh elemen bangunan sebagai satu kesatuan yang utuh, sehingga tidak akan terlepas/runtuh saat terjadinya gempa.

Tulisan bagian ke dua ini akan mengulas ketentuan-ketentuan bangunan tahan gempa yang perlu diterapkan dalam praktek konstruksi rumah tinggal di masyarakat. Ketentuan-ketentuan ini mengacu pada Pedoman Teknis yang dibuat oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Cipta Karya – Departemen Pekerjaan Umum. Berikut ini beberapa kententuan yang perlu diperhatikan dalam konstruksi rumah tinggal:

Konsep umum bangunan tahan gempa adalah perihal menjadikan seluruh elemen bangunan sebagai satu kesatuan yang utuh, sehingga tidak akan terlepas/runtuh saat terjadinya gempa.

Baca juga: Meminimalisir Korban Gempa

Lokasi Bangunan

Pemilihan lokasi pendirian rumah tinggal sangat penting untuk menjamin ketahanan terhadap gempa. Bangunan yang didirikan pada lahan perbukitan perlu memastikan kestabilan bukitnya.

Hal ini penting untuk mengurangi potensi longsor saat terjadinya gempa. Untuk memastikan keamanan lokasinya, maka perlu dibuat turap pada daerah yang berpotensi longsor.

Untuk lokasi dataran, perlu dipastikan tekstur tanah tempat didirikannya bangunan adalah padat-keras. Banguan yang didirikan pada tanah dengan tekstur sangat halus dan berbentuk tanah liat memiliki potensi runtuh yang sangat besar saat terjadinya gempa.

Denah Bangunan

Kriteria denah bangunan tanah gempa sebaiknya sederhana, simetris terhadap ke dua sumbu bangunan (arah X dan Y), dan tidak terlalu panjang. Perbandingan ideal lebar dan panjang bangunan adalah 1 : 2

Jika denah bangunan tidak simetris, maka bagian-bagiannya perlu dipisahkan dengan membuat alur pemisah, sehingga denah bangunan terlihat sebagai rangkaian denah bangunan yang simetris.

denah bangunan

Dinding-dinding sekatan, pintu, dan jendela bangunan perlu diletakkan secara simetris terhadap sumbu bangunan. Kemudian, dinding bangunan perlu dibuat kotak-kotak tertutup.

dinding sekatan pintu

Fondasi Bangunan

Fondasi merupakan bagian penting dalam suatu struktur bangunan. Fondasi memungkinkan bangunan dapat berdiri stabil dan kuat menahan beban luar, termasuk akibat gempa. Fondasi berfungsi untuk menahan bagian bangunan di atasnya dan menyalurkan beban ke dalam tanah.

Untuk memenuhi kriteria bangunan tahan gempa, fondasi harus memenuhi beberapa persyaratan. Fondasi harus diletakan pada tanah yang keras. Untuk arah melintang, fondasi harus simetris.

Untuk daerah rawan gempa, sangat disarankan untuk menggunakan fondasi menerus dan memiliki kedalaman yang sama. Namun, jika menggunakan fondasi setempat/umpak, masing-masing fondasi harus terhubung satu sama lain menggunakan balok pengikat.

Fondasi bangunan

Fondasi simetris

Jika bangunan terpaksa didirikan di atas tanah lunak, maka digunakan fondasi pelat beton bertulang di seluruh area bangunan.

Gambar 8

Kuda-kuda Atap

Atap merupakan komponen struktur suatu bangunan yang berfungsi melindungi penghuni dari hujan dan sinar matahari. Namun, atap suatu bangunan akan membahayakan penghuninya jika mengalami saat terjadinya gempa. Untuk itu, perlu perencanaan atap yang kuat, sehingga hal demikian tidak terjadi.

Kuda-kuda atap suatu bangunan menggunakan kuda-kuda papan paku. Kuda-kuda ini ringan dan proses pembuatannya sederhana. Ukuran penampang kayunya 2 cm x 10 cm. Pada tiap-tiap sambungan, jumlah paku yang digunakan minimal 4 buah dengan panjang 2,5 kali tebal kayu.

Gambar 9

gambar 12

Demikian beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan oleh perencana, pelaksana konstruksi, dan masyarakat di daerah rawan gempa dalam mendirikan rumah tinggal.

Penerapan sambungan yang kuat antara komponen struktur, pemilihan material yang sesuai, dan pelaksanaan pekerjaan yang tepat menjadi syarat penting dalam membangun rumah tahan gempa ini. Dengan demikian, jumlah korban nyawa akibat keruntuhan rumah tinggal saat terjadinya gempa dapat diminimalisir di kemudian hari.*

Oleh: Alfred R. Januar Nabal*

(Penulis adalah Structural Engineer dan Ketua Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Pengurus Pusat PMKRI Periode 2018 – 2020)