dawainusa.com Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat beberapa bahan kebutuhan sehari-hari yang ketersediannya masih aman di tengah pandemi corona.

Beberapa kebutuhan tersebut seperti beras, jagung, daging sapi, dan daging ayam. Untuk kebutuhan beras, pemerintah menyebutkan, ketersediannya aman hingga 36 bulan ke depan.

Baca juga: Penemuan Tengkorak Manusia Gegerkan Warga di Kabupaten TTS, NTT

“Dalam Observasi kami yang pertama beras. Ketersediaan beras aman hingga 36 bulan ke depan,” kata kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama Setda Provinsi NTT, Lery Rupidara di Kupang, Senin (27/4/2020).

“Jagung, ketersediannya juga cukup, daging Sapi dan daging Ayam ketersediannya cukup,” tambah Lery.

Sedangkan untuk kebutuhan lainnya seperti, telur ayam, bawang dan gula pasir, Lery menyebut ketersediaan menipis.

Selain itu, bahan pokok lain yang perlu warning agar stoknya kembali normal adalah cabe rawit, dan cabe keriting.

“Jadi, untuk keseluruhan stok bahan-bahan penting itu semuanya stabil, kecuali bawang, telur cabai dan gula pasir,” kata Lery Rupidara.

Transportasi Jadi Kendala

Menurut anggota bidang pengendalian dampak sosial dan ekonomi gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Provinsi NTT itu, kendala transportasi menjadi penyebab menipisnya ketersediaan beberapa bahan pokok di NTT.

“Ini persoalannya hanya di rantai transportasi. Pemerintah segera mencari jalan keluar dalam waktu yang singkat ini agar memastikan kelancaran distribusi melalui kapal laut untuk bahan poko dari luar NTT dan antar pulau di NTT,” terangnya.

Baca juga: Wagub Nae Soi Soal Tertundanya Penerimaan Reagen untuk NTT

Ia juga memastikan, pemerintah NTT melalui berbagai lembaga ekonomi melaksanakan langkah-langkah yang disebut 4K di tengah wabah Corana.

Pertama, keterjangkauan. Menjaga keterjangkauan harga melalui pemantauan harga komoditi tanaman pangan dan tanaman pokok lainnya di pasar

Kedua, ketersediaan. Menjaga ketersediaan pasokan dengan memperkuat produksi pangan dan dukungan program-program stimulus.

Ketiga, kelancaran. Menjaga kelancaran distribusi melalui berbagai kegiatan yang terkait dengan distributor dan memastikan rantai distribusi itu berjalan dengan baik.

Keempat, komunikasi. Menjalin komunikasi efektif dengan memperkuat kualitas data pasokan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.

Satu Pasien PDP Meninggal Dunia

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda Provinsi NTT sekaligus juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, Marius Ardu Jelamu menerangkan, terdapat satu pasien dengan status dalam pengawasan (PDP) yang berasal dari kabupaten Kupang Meninggal di rumah sakit Prof dr WZ Johanes Kupang.

“Perlu kami sampaikan bahwa pagi tadi salah seorang PDP dari Kabupaten Kupang meninggal dunia di RSUD Prof. Dr. WZ Johanes Kupang,” kata Marius Jelamu.

Marius menceritakan, pihaknya telah mengirim swab pasien untuk diperiksa di laboratorium di Jakarta. “Ingin kami sampaikan bahwa swabnya telah kita ambil untuk nanti diperiksa di laboratorium.

“Menurut keterangan dokter, almarhum juga memiliki penyakit yang lain yaitu TBC dan Pnemonia; yah, jadi ada penyakit penyerta lainnya,” tambah Marius.* (Juan Pesau)