Memahami ‘Suara Besar’ Ali Mochtar Ngabalin Soal Makar

Memahami ‘Suara Besar’ Ali Mochtar Ngabalin Soal Makar

FOKUS, dawainusa.com Staf Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin menyebutkan gerakan #2019GantiPresiden termasuk tindakan makar. Ngabalin punya dalil, #2019GantiPresiden itu dimaknai bahwa pada tanggal 1 Januari 2019 pukul 00.00 ganti presiden.

“Hati-hati, itu yang saya sebut dengan makar. Makar ganti itu kata kerja, bahasa Arabnya adalah fi’il amar. Fi’il amar itu perintah dengan segala cara dipakai untuk menggantikan presiden. Itulah saya bilang amar itu makar,” ujar Ngabalin di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/8).

Sejumlah pihak menanggapi pernyataan politisi Golkar itu yang dinilai asal bunyi yang penting suaranya keras dan kencang.

Beberapa perbincangan di warung kopi pun menunjukkan kegenitan gaya Ngabalin dalam berkomentar. Selalu mengucapkan narasi ‘pendidikan politik bagi masyarakat’ tetapi Ngabalin sendiri banyak tak mendidiknya.

Pendidikan politik apa yang mau didapat dari Ngabalin? Menuduh kelompok sebelah makar karena tagar ganti presiden, lalu adem-adem saja dengan tagar kelompok sebelahnya lagi soal 2019 tetap Jokowi?

Pendidikan politik apa yang akan didapat dari Ngabalin, ketika #2019GantiPresiden didesak bubar sementara #2019TetapJokowi aman-aman saja?

Baca juga: Gerakan #2019GantiPresiden akan Mendongkrak Partisipasi Politik

Mari kita cek pendapat Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. Menurut Fahri, apa yang diucapkan Ngabalin hendak menunjukkan ambruknya spirit literasi khsusnya filsafat dari seorang mubaligh dan pimpinan pondok pesantren itu.

“Ya memang Ali ini kurang membaca teori atau filsafat tentang kebebasan. Jadi kurang mengerti dia,” kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Selasa (28/8).

Menurut Fahri, dugaan makar memiliki tolak ukurnya sendiri. Salah satunya menggerakkan massa bersenjata untuk merebut pemerintahan yang sekarang sedang memimpin.

“Jadi orang berpendapat itu apa saja boleh yang bisa dibilang makar itu misalnya setelah dia mengatakan sesuatu, lalu dia mengumpulkan orang bersenjata, mau merebut instalasi pemerintah atau menyerang pemimpin negara. Itu makar,” ungkapnya.

Fahri benar, tak perlu terlalu serius menanggapi kegenitan Ngabalin. Sentilan Fahri soal minimnya semangat literasi rupanya perlu diperhatikan Ngabalin agar yang terdengar tak hanya suara besarnya saat bicara di TV.

Rocky Gerung Tanggapi Ngabalin

Selain semprotan Fahri soal Ngabalin yang kurang baca, sebelumnya pengamat Politik Rocky Gerung juga terlibat perbincangan yang cukup serius dengan Ngabalin dalam acara Layar Pemilu Terpercaya di CNN Indonesia TV, Senin (27/8) malam.

Keduanya terlibat perdebatan panas soal makar. Rocky tak menyebut Ngabalin kurang baca atau gagal paham, tetapi ia berpendapat, #2019GantiPresiden tak lebih dari sekadar brand dan gimik politik.

Baca juga: Golkar Tolak Tindakan Represif Terhadap Gerakan #2019GantiPresiden

Orang-orang, kata Rocky, akan menggunakan tagar yang mudah diingat khalayak, sehingga dipakailah tagar #2019GantiPresiden. Boleh dibilang, dalam tagar, memori kolektif itu diikat.

“Jadi memang demi sinopsi pemikiran itu, orang ambil sesuatau yang bisa dibrand, 2019 Ganti Presiden. Jadi kita bilang itu si tagar yang mau makar? Itu yang dinamakan gimik. Kalau bisa diringkas lebih bagus lagi. Itu cuma gimik saja. memang betul-betul gimik, karena tagar itu fungsinya untuk bermain,” ujar Rocky

Pernyataan soal “Tagar 2019 ganti presiden itu bermakna, pukul 00 tanggal 1 Januari 2019 ganti presiden” kembali diucapkan Ngabalin saat itu.

Rocky pun mengikuti alur logikanya. Secara logika, kata Rocky, maka gerakan tagar serupa, dalam hal ini #Jokowi2Periode juga seharusnya baru berlaku nanti pada 1 Januari 2019.

Namun kenyataannya tagar tersebut sudah berlaku sejak beberapa bulan lalu. “Itu kan udah diucapin. Mestinya nanti. Jokowi dua periode itu sudah berlaku tagarnya sejak beberapa bulan lalu. Dan itu kalau pakai jalan pikirannya saudara Ali,” ujar Rocky.

Terlihat dalam tayangan itu, Ngabalin hanya senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala. Entahah dia mengerti atau tidak, itu bukan urusan kita.

Apa Itu Makar

Agar tidak terpaku pada pemahaman makar ala Ngabalin, mari kita cek beberapa pengertian makar berikut ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makar punya beberapa arti: 1 akal busuk; tipu muslihat; 2 perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan sebagainya; 3 perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Lebih jauh, makar diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagai kejatahan terhadap keamanan negara, terutama di pasal 104, 107 dan 108, dengan ancaman hukuman mati.

Baca juga: Sejumlah Deklarasi Oposisi Ditolak, Rezim Jokowi Paling Demokratis

Pasal-pasal ini mengatur pidana kejahatan terhadap presiden dan wakilnya, dan juga ancaman pidana terhadap para penggerak makar.

Bunyi pasal 104: Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Bunyi pasal 107:

(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 108

(1) Barang siapa bersalah karena pemberontakan, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun:

1. orang yang melawan pemerintah Indonesia dengan senjata;

2. orang yang dengan maksud melawan Pemerintah Indonesia menyerbu bersama-sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan Pemerintah dengan senjata.

(2) Para pemimpin dan para pengatur pemberontakan diancam dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Beberapa pemahamn soal makar di atas setidaknya bisa menjadi rujukan untuk membandingkan pemahaman soal makar yang digulirkan Ngabalin.

Menganal Ngabalin Lebih Dekat

Selain mendegar suara besar Ngabalin dalam sejumlah diskusi di TV yang membela rezim Jokowi habis-habisan dan menikmati sejumlah analisisnya yang berkelas, perlu juga mengenal lebih dekat sepak terjang politik Ngabalin. Dilansir dari asumsi.co, berikut beberapa hal yang bisa diketahui soal Ngabalin.

1. Mendesak Allah SWT

Masa-masa Pilpres 2014 lalu, Ngabalin adalah Direktur Politik Tim pasangan Probowo Subianto-Hatta Rajasa. Saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Joko Widodo sebagai Presiden terpilih, Ngabalin bilang kalau perjuangannya membela Prabowo belumlah usai.

“Perjuangan yang kita lakukan tidak berhenti sampai di sini dan kita mendesak Allah SWT berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta ,” ujar Ngabalin kepada kader dan simpatisan Prabowo-Hatta, Kamis, 7 Agustus 2014 lalu.

Ucapan Ngabalin itu terekam dalam sebuah video yang diunggah ke YouTube, dengan durasi video selama 6 menit 38 detik, dan ternyata direkam saat halal bihalal di Rumah Polonia, Minggu, 3 Agustus 2018.

Ngabalin mengaku tergerak hatinya karena merasa simpati atas tekanan yang dialami Prabowo selama menghadapi Pilpres 2014. Dirinya pun mengaku gemas karena bantuan Tuhan tak kunjung turun.

“Kita gemas, kapan Tuhan turunkan [bantuan ke Prabowo]. Kita desak Allah turunkan bala tentaranya tolong Prabowo. Dia lemah, dan tidak bisa berbuat apa-apa, gitu maksudnya, dan itu pernyataan kepada siapapun tak ada masalah,” imbuhnya.

2. Minta Jokowi Tak Usah Pencitraan Lagi

Ngabalin yang merupakan seorang kader Partai Golkar pernah meminta Presiden Jokowi agar enggak lagi melakukan pencitraan.

Hal itu dikatakan Ngabalin untuk menanggapi sikap Jokowi yang menolak kebijakan pemerintah terkait pengadaan mobil Mercedes Benz S300L. Padahal mobil itu rencananya untuk menteri pada kabinet presiden mendatang.

“Pemilu Presiden sudah selesai. Masa kampanye juga sudah selesai, tak usah lagi pencitraan. Kalau dia enggak mau naik mobil Mercy, gunakan Esemka saja. Bawalah Esemka dari Solo,” ujar Ngabalin pada media, Kamis, 11 September 2014.

Ngabalin bahkan menginstruksikan Jokowi untuk fokus bekerja, dan tidak lagi melakukan blusukan. “Sudahlah fokus kerja saja. Enggak ada Presiden blusukan-blusukan, enggak usah pusing,” kata Ngabalin.

3. Ikut Aksi 212 dan 411

Ngabalin bahkan pernah ikut aksi di depan Istana pada 4 November 2016 atau Aksi 411, yang merupakan aksi besar-besaran terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Saat aksinya itu, ujaran-ujaran yang diucapkan Ngabalin ternyata diperhatikan oleh Kapolri Jenderal (pol) Tito Karnavian.

Ia bahkan menyinggung Ngabalin saat menjadi pembicara dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Komunikator Politik Nasional Partai Golkar, di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, September 2017 lalu.

“Zaman dulu kalau bang Ali Ngabalin demo-demo depan Istana, besoknya sudah ke Kramat 7 [ditangkap]. Tapi kemarin kita bisa lihat dengan bebasnya Bang Ali Ngabalin ngomong gini gini gini, saya ngintipin aja, ada salahnya enggak ini,” kata Tito menyindir.*