dawainusa.com Berdasarkan peta Coronavirus Covid-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, kasus infeksi virus corona baru di seluruh dunia kini telah mencapai 471.407 kasus. Yang dinyatakan sembuh sebanyak 114.051.

Semantara itu, jumlah kematian karena virus corona covid-19 secara global tercatat sebanyak 21.287 jiwa. Kasus ini dilaporkan terus bertambah setiap hari.

Saat ini, Italia, Amerika Serikat, dan Spanyol tercatat sebagai negara dengan kasus terbesar di luar China. Selain ketiga negara tersebut, kasus lain yang mencapai lebih dari 30.000 tercatat di Jerman, yang memiliki 37.323 kasus.

Baca juga: Seperti Apa Taiwan Mengontrol Persebaran Corona Covid-19?

Di Indonesia, eskalasi corona covid-19 semakin tajam. Per 26 Maret 2020, kasus positif terinfeksi virus corona di Indonesia bertambah menjadi 893 orang. Selain itu, peningkatan terjadi pada pasien yang meninggal sebanyak 20 sehingga menjadi 78 jiwa. Pasien yang sembuh juga bertambah menjadi 35 orang.

Saat dunia sedang ambruk, Wuhan, yang dikenal sebagai ‘kota kelahiran’ SARS-CoV-2, justru perlahan mulai pulih. Para ahli memprediksi pandemi akan berakhir di kota ini pada akhir Maret.

Predeksi ini bukan tanpa alasan. Pada bulan lalu, hampir semua daerah di luar Hubei berhasil menghentikan infeksi covid-19. Bahkan saat ini, China tengah berusaha menghentikan virus yang mewabah di negara-negara lainnya.

Tak hanya itu, pada 8 April mendatang, akan dilakukan pencabutan lockdown oleh otoritas setempat bagi penduduk yang memiliki ‘kode’ hijau’ atau dinyatakan sehat.

Pada 17 Maret, untuk pertama kalinya sejak virus ini ditemukan pada akhir Desember 2019, Wuhan melaporkan zero new case. Kendati demikian, pada 24 Maret muncul satu kasus baru setelah sekitar seminggu penuh tidak ada penambahan.

Otoritas setempat beralasan mereka tidak mencatat kasus positif yang tidak melapor ke rumah sakit atau mereka yang positif namun tidak memiliki gejala.

Di hari yang sama, Cina melaporkan 78 kasus baru, 74 di antaranya merupakan penularan dari luar negeri atau imported case. Kasus-kasus impor yang juga terjadi di Korea Selatan dan Singapura ini dikhawatirkan menjadi “gelombang kedua” penyebaran virus di Negeri Tirai Bambu itu.

Melihat Wuhan Bangkit Setelah Terkunci Selama 2 Bulan
Kota Wuhan – ist

Wuhan ‘Mengunci’ Diri

Sejak 23 Januari lalu, saat wabah ini mulai memangsa ratusan orang, Wuhan ‘mengunci’ diri dari dunia luar. Transportasi ditutup, semua kegiatan perekonomian dihentikan, bahkan hingga pelayanan publik.

Hanya dalam beberapa jam setelah pengumuman lockdown, transportasi dari dan menuju kota ditutup total tanpa pengecualian, bahkan untuk perjalanan seorang diri atau kebutuhan darurat medis.

Baca juga: Mengintip Rencana Pemerintah Menuju Puncak Covid-19 di Indonesia

Sekolah dan kampus memperpanjang hari libur. Seluruh pertokoan tutup kecuali toko bahan makanan dan obat. Beberapa daerah bahkan hanya memperbolehkan satu orang anggota keluarga keluar membeli kebutuhan pokok tiap dua hari sekali.

Perlahan, kebijakan ini mulai diterapkan secara agresif. Petugas mulai mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mengecek kesehatan–yang mengingatkan pada kebijakan checking basement yang dilakukan Nazi Jerman pada era Perang Dunia II–dan memaksa yang sakit untuk diisolasi.

Kekwahtiran pemeritah China akan penyebaran covid-19 mengharuskan mereka meningkatkan pengawasan ke seluruh daratan Cina. Pemerintah pusat khawatir penyebaran virus dari orang-orang yang keluar Wuhan sebelum lockdown diberlakukan masif.

Otoritas Wuhan bahkan sempat-sempatnya memperingatkan negara lain untuk lebih memperhatikan keselamatan tim medis yang ada di garda depan penanggulangan pandemi sejak beberapa pekan terakhir.

Mereka memperingatkan itu karena melihat banyak petugas yang bekerja tanpa dilengkapi alat pelindung diri yang memadai.

Banyak pihak, termasuk para ahli dan organisasi HAM seperti Amnesty International, menyayangkan keputusan ini.  Kebijakan itu dinilai akan merugikan warga dan buruk secara ekonomi.

Terlebih, tidak pernah ada karantina massal dengan jumlah sebesar ini di era modern. Wuhan ditempati oleh 11 juta penduduk. 10 juta warga di kota sekitarnya juga ikut terdampak atas kebijakan lockdown ini.

Melihat Wuhan Bangkit Setelah Terkunci Selama 2 Bulan
Wuhan – ist

Brutal, Namun Efektif

Javier C Fernandes dari The New York Times sempat menyoroti kebijakan lockdown Wuhan. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai pendekatan palu godam Beijing.

Menurutnya, harus diakui, angka penularan memang menurun, tapi dampak trauma kemanusiaan dan kerugian ekonomi juga besar. Rakyat terdampak dikabarkan marah ke pemerintahan Partai Komunis.

Baca juga: Strategi Jokowi Selamatkan Ekonomi RI di Tengah Pandemi Corona

Sorotan yang sama datang dari Kepala divisi epidemiologi dan biostatistik Hong Kong University’s School of Public Health, Ben Cowling. Ben memprediksi, bila nanti lockdown diakhiri, maka orang-orang Hubei dan sekitarnya akan bepergian kembali ke wilayah-wilayah lain. Kemungkinan, virus itu bakal merebak lagi.

Semantara itu, The Guardian menyebut kebijakan ini brutal, namun toh efektif. Kendati demikian, asisten profesor Kesehatan Masyarakat dari Yale School Chen Xi mengatakan tidak semua metode perlu diadopsi negara lain.

“Saya pikir karantina massal sulit dilakukan dan tidak terlalu diperlakukan. Hubei mengambil kebijakan karena mereka cukup lama mengisolasi diri sehingga mereka memiliki kapasitas lebih untuk mengatasi krisis ini.” katanya.

Xi menambahkan, opsi yang memungkinkan dapat dilakukan negara lain antara lain berupa social distancing, diagnosis awal, karantina awal, dan perawatan lebih awal untuk orang dalam pemantauan (ODP).

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo tak mengambil opsi lockdown baik untuk Jakarta atau Indonesia secara keseluruhan. Alasannya, setiap negara memiliki karakter, budaya, dan kedisplinan yang berbeda-beda, katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (24/3/2020), seperti dikutip dari Antara.

Kendati demikian, pemerintah juga tak melakukan diagnosis, imbauan social distancing, atau upaya preventif lain lebih awal saat COVID-19 mulai mewabah. Mungkin karena itulah Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat kematian akibat COVID-19 tertinggi di dunia yakni, 7,34 persen per 25 Maret 2020.*