Masalah PAMSIMAS di Desa Bere, Siapakah Pemainnya?

Masalah PAMSIMAS di Desa Bere, Siapakah Pemainnya?

OMONG DENG, dawainusa.com – Program air minum bersih dengan sumber dana dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang dikerjakan di wilayah Desa Bere masih menuai polemik dan menimbulkan sejumlah tanda tanya besar.

Pasalnya, program yang diketahui memiliki dana sebesar Rp150 juta ini dikerjakan tanpa melalui prosedur yang benar. Dilansir beberapa berita yang diturunkan Dawainusa.com, program ini dijalankan tanpa ada partisipasi dari masyarakat.

Seperti diterangkan oleh salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BDP) Bere, Densianus Dosi, kehadiran PAMSIMAS di Desa Bere ini sama sekali tidak diketahui oleh warga setempat. Bahkan masyarakat Desa Bere justru bertanya-tanya secara khusus terkait keberadaan dan status PAMSIMAS ini.

Baca juga: Soal Air Minum, Pemdes Bere Beda Keterangan dengan PAMSIMAS

Apalagi, di awal pengerjaannya, papan tender yang berisi informasi tentang program ini juga tidak ada di lokasi. Papan tersebut baru terpasang di lokasi setelah sekitar 3 minggu pengerjaan program tersebut berjalan.

“Adanya program PAMSIMAS ini tidak pernah diberitahukan oleh Pemdes. Tidak pernah ada musyarawah di desa tentang program ini sehingga kami sama sekali tidak tahu tentang bagaimana program tersebut baik dari sisi perencanaannya maupun soal pelaksanaannya,” ungkap Densianus Dosi.

Meski tidak diketahui apalagi melibatkan warga Desa Bere mulai dari perencanaan hingga pada saat pengerjaannya, pada kenyataannya, PAMSIMAS ini tetap dikerjakan di atas wilayah Desa Bere.

Situasi ini kemudian menimbulkan tanda tanya besar dan kecurigaan baik dari masyarakat Desa Bere sendiri, termasuk dari saya pribadi, maupun dari publik yang mengetahui bagaimana seharusnya prosedur tentang PAMSIMAS.

Beberapa Tanda Tanya

Bagi saya pribadi atau mungkin juga bagi publik, ada beberapa pertanyaan yang mesti diajukan terkait dengan adanya PAMSIMAS di Desa Bere ini. Pertama, kenapa program tersebut tetap dikerjakan, padahal sudah jelas bahwa hal itu tidak diketahui apalagi melibatkan warga masyarakat setempat?

Pertanyaan ini sangat penting dilontarkan mengingat PAMSIMAS tersebut dalam prosesnya, yakni sesuai dengan aturan yang ada, mulai dari perencanaan hingga pada pelaksanaannya mesti melibatkan seluruh masyarakat sebagai pemilik wilayah tempat program ini hadir, dalam hal ini ialah warga Desa Bere.

Keterlibatan masyarakat dalam program ini sangat penting. Sebab, salah satu syarat agar PAMSIMAS tersebut bisa dikerjakan ialah bahwa harus ada dana sumbangan dari pihak masyarakat dalam bentuk  In Cash dan In Kind.

Dalam konteks PAMSIMAS yang hadir di Desa Bere, dari informasi yang tersedia di papan tender, untuk pengerjaan PAMSIMAS ini, total dana secara rinci yang harus dikeluarkan ialah dari APBN (80%) Rp120 juta, dana kontribusi masyarakat dalam bentuk In Cash sebesar 4% (Uang Tunai Murni) Rp6 juta dan dalam bentuk In Kind 6% (Tenaga) Rp24juta.

Papan Informasi tentang PAMSIMAS di Desa Bere

Papan Informasi tentang PAMSIMAS di Desa Bere – Foto: Dawainusa.com

Dengan merujuk pada informasi yang tertera pada papan tender tersebut, sudah jelas bahwa terlaksananya PAMSIMAS ini sangat ditentukan oleh kesepakatan masyarakat yang ada di wilayah tempat PAMSIMAS itu hadir. Terkait salah satu syarat yang harus dipenuhi ini, Koordinator PAMSIMAS Kabupaten Manggarai, Yohanes Lamba Loy telah menegaskannya.

Baca juga: Warga Pertanyakan Pengerjaan Air Minum dari PAMSIMAS di Desa Bere

Ia dengan terang mengatakan, “Sharing dana berupa uang tunai dan swadaya kerja itu syarat yang harus dipenuhi oleh desa sasaran. Dengan demikian keseluruhan total dana dalam pengerjaan ini senilai Rp150 juta,” jelas Yohanes Lamba Loy.

Itu berarti, ketika masyarakat setempat (Warga Desa Bere) tidak bersedia mengeluarkan dana dalam bentuk yang sudah disebutkan itu, PAMSIMAS tidak bisa dikerjakan di wilayah tersebut. Akan tetapi, sekali lagi, kenapa PAMSIMAS tetap dikerjakan di Desa Bere?

Kedua, hal lain yang bisa ditanyakan ialah soal pengakuan yang dinyatakan oleh Kepala Desa Bere Ignasius Beon dalam MusrembangDes yang dilaksanakan di Kantor Desa Bere pada Sabtu (26/1).

Saat itu, Ignasius Beon, sebagai Pemimpin Desa Bere mengatakan bahwa adanya PAMSIMAS ini memang diketahui oleh Pemerintah Desa. Akan tetapi, demikian Ignasius Beon mengaku, dirinya sama sekali tidak tahu terkait perencanaan sampai pada pelaksanaan program tersebut.

“Saya sebagai pemerintah desa hanya menerima program, bahwa program PAMSIMAS itu ada di Desa Bere. Tetapi untuk cara kelolanya di dalam, saya tidak tahu,” kata Kepala Desa Bere, Ignasius Beon dalam kegiatan MusrembangDes di Kantor Desa Bere.

Kepala Desa Bere, Ignasius Beon

Kepala Desa Bere, Ignasius Beon – Foto: Facebook Ignasius Beon

Jawaban Kades Bere ini tentu sangat ajaib. Kenapa demikian? Ada beberapa pertimbangan yang dapat dirumuskan demikian. Pertama, kenapa ketika PAMSIMAS ini hadir di Desa Bere, dirinya tidak memberitahukan hal itu kepada masyarakat setempat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di wilayah itu?

Bukankah seharusnya, segala hal yang masuk ke desa, dalam hal ini ialah hal-hal yang memiliki tujuan untuk pembangunan di wilayah desa itu sebagaimana soal PAMSIMAS ini mesti diketahui oleh masyarakat di wilayah desa itu?

Hal berikut yang bisa dipersoalkan atas jawaban Kades Bere tersebut ialah soal pengakuannya bahwa dalam hal PAMSIMAS, Pemerintah Desa hanya terlibat sebagai penerima program, mereka sama sekali tidak mengetahui cara kelola program tersebut.

Pertanyaannya ialah apakah benar bahwa Pemerintah Desa hanya sebagai penerima program dan tidak mengetahui cara kelola program tersebut? Bukankah seharusnya ketika ada program yang masuk ke wilayah Desa Bere, pemerintah setempat wajib mengetahui bagaimana sebenarnya cara kelola program tersebut?

Soal jawaban Kades Bere ini, saya sendiri meragukan kebenarannya. Saya semakin ragu ketika pengakuan Kades Bere ini justru berbeda dengan keterangan yang diucapkan oleh fasilitator PAMSIMAS yang diketahui melakukan survey di Desa Bere, yakni Robi Da.

Sebagaimana diberitakan Dawainusa.com, Robi Da mengungkapkan demikian, “Saat ke Desa Bere, saya hadir dan menyaksikan pembentukan KKM (Kelompok Kerja Masyarakat) di sana bersama warga setempat.”

Jawaban Robi Da ini patut dikritisi dengan membandingkannya dengan keterangan yang disampaikan oleh Kades Bere Ignasius Beon. Saya melihat bahwa jawaban Robi Da ini menyiratkan suatu “kebenaran” bahwa Pemerintah Desa Bere sebenarnya turut terlibat di dalam perencanaan (dan atau bahkan dalam pengerjaan PAMSIMAS ini), bukan hanya sebagai penerima program sebagaimana dalam pengakuan Kades Bere.

Sebab, tidak mungkin KKM yang melibatkan warga, seperti diterangkan oleh Robi Da itu, dibentuk tanpa disampaikan kepada Pemerintah Desa. Mungkinkah pembentukan KKM, sebagaimana diungkapkan oleh Robi Da, tidak melibatkan Pemerintah Desa Bere?

Siapa yang Bermain di Dalamnya?

Meski demikian, jawaban Robi Da soal pembentukan KKM ini tetap menimbulkan kecurigaan besar, apakah keterangannya itu memang benar adanya? Kalau memang benar bahwa sudah dibentuk KKM di Desa Bere, lalu siapa orang-orang di dalamnya?

Atau apakah pengakuan Robi Da ini justru “mengada-ada”, sebab Sekretaris Desa Bere sendiri, yakni Dede Do sudah mengeluarkan keterangan bahwa sebagai Kepala Sekretariat di Desa Bere, ia sama sekali tidak pernah mengeluarkan surat untuk mengundang warga Desa Bere dalam rangka pembentukan KKM sebagaimana diklaim oleh Robi Da tersebut.

Baca juga: Diduga Korupsi, Kades Bere Tolak Diwawancara, Ada Apa?

“Yang disampaikan oleh Robi Da itu sangat tidak benar. Sebagai Kepala Sekretariat, saya tidak pernah mengeluarkan surat untuk menghadirkan warga Desa Bere dalam rangka pembentukan KKM,” tutur Dede Do.

Keterangan yang berbeda dari Pemerintah Desa Bere dengan fasilitator PAMSIMAS membawa publik, termasuk saya pribadi pada suatu tanda tanya besar bahwa siapa sebenarnya yang bebohong di antara mereka?

Apakah ada transaksi gelap di dalam program PAMSIMAS yang ada di Desa Bere ini? Kalau benar ada transaksi gelap itu, siapakah pemain-pemain di dalamnya? Apakah fasilitator PAMSIMAS atau Pemerintah Desa Bere sendiri? Pertanyaan ini patut diselidiki secara terang benderang untuk menemukan kepastian akan jawabannya.*

*Yones Hambur

Warga Desa Bere

COMMENTS