Masalah Air Minum dan Jawaban Dungu Kepala Desa Bere

Masalah Air Minum dan Jawaban Dungu Kepala Desa Bere

OMONG DENG, dawainusa.com – Pertama-tama, yang mesti Anda sekalian tahu bahwa tulisan ini merupakan curahan hati dan pikiran saya sebagai salah seorang warga Desa Bere, Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam tulisan yang ada di hadapan Anda ini, saya menyajikan sedikit keprihatinan dan tanggapan singkat saya atas keadaan yang diderita oleh Warga Desa Bere akibat perilaku pemimpin, yang saya sendiri menyebutnya dengan kata “koruptif”.

Terlebih dahulu, untuk tidak terjebak ke dalam makna kata “korupsi” yang kerap dipahami selama ini, saya menegaskan bahwa korupsi itu sendiri pada awalnya dipahami sebagai suatu “pembusukan”, yakni hilangnya kondisi asali (hakikat) dari sesuatu, apapun itu.

Baca juga: Diduga Korupsi, Kades Bere Tolak Diwawancara, Ada Apa?

Kondisi asali (hakikat) itu dipahami sebagai sesuatu yang sempurna, elok, indah, dan segala hal ideal lainnya. Akan tetapi, sampai saat ini, makna kata korupsi itu menjadi semakin dipersempit. Korupsi hanya dipahami sebatas pada persoalan “penyalahgunaan jabatan publik untuk kepentingan pribadi”.

Untuk sebutan di atas, saya memakai kata korupsi ini tidak dalam pengertian yang sudah dipersempit tersebut. Korupsi yang saya maksudkan itu merujuk pada pengertian awalnya, yang sekali lagi saya sebutkan di sini yaitu “hilangnya kondisi asali (hakikat) dari sesuatu”.

Untuk tidak melebar terlalu jauh, mari kita kembali ke duduk persoalan yang disampaikan di dalam tulisan ini. Lewat tulisan ini, saya memusatkan perhatian pada persoalan air minum di Desa Bere, khususnya Kampung Nanga dan jawaban dungu dari Kepala Desa Bere, Ignasius Beon atas masalah itu.

Keluhan Warga Soal Air Minum Bersih

Seperti diberitakan dawainusa.com pada Jumat (21/12) lalu, warga Kampung Nanga di Desa Bere mengaku prihatin dengan kinerja pemerintah desa setempat. Mereka mengeluh soal tidak adanya perhatian dari Pemerintah Desa terkait persoalan air minum yang ada di sana.

Sudah berpuluhan tahun lamanya, mereka tidak pernah merasakan “bagaimana nikmatnya memakai dan mengonsumsi air bersih untuk memenuhi segala keperluan hidup”.

Untuk mendapatkan air demi memenuhi kebutuhan hidup seperti minum, masak, mandi, cuci, dan hal lainnya, mereka secara terpaksa harus memanfaatkan dan menimba air kali yang berada di Sungai Wae Racang, yang kondisinya sangat tidak layak.

“Air yang mengalir di Sungai Wae Racang ini bersumber dari sejumlah titik di seputaran Kota Pagal dan Kota Ruteng. Kondisi airnya sangat kotor dan keruh,” tutur RG, salah seorang warga Kampung Nanga saat diwawancarai dawainusa.com, Kamis (20/12).

“Kalau musim hujan, airnya akan berubah warna menjadi kuning, bahkan berwarna cokelat, karena sudah dicampuri oleh lumpur, dan juga kotoran-kotoran jenis lainnya,” lanjut dia.

Baca juga: Soal Air Minum, dari Sebut Kades Bere Bohong hingga Dugaan Korupsi

Memang bahwa di saat musim hujan seperti itu, untuk mendapatkan air minum, para warga memanfaatkan air hujan. Caranya ialah dengan menyediakan tempat-tempat penadah atau bak-bak penampung air di sekitar rumah mereka.

“Tetapi parahnya, kalau ada hujan lebat di Pagal dan Ruteng, sementara di kampung kami tidak ada hujan. Nah, Sungai Wae Racang ini sudah pasti akan banjir. Airnya akan menjadi kotor dan penuh lumpur. Pada saat seperti ini, kami terpaksa tetap menimbah air yang kotor dan penuh lumpur itu, sebab tidak ada sumber air alternatif yang dapat kami manfaatkan,” ungkap RG.

Apa yang dihadapi oleh warga Kampung Nanga ini ternyata sudah berkali-kali disampaikan kepada Pemerintah Desa di dalam sebuah rapat desa. Namun, ironisnya, sampai detik ini pemerintah masih belum memberikan jawaban atasnya.

Sudah berapa kali ada pergantian kepemimpinan di desa tersebut. Tetapi, hasilnya sama saja, yakni warga Kampung Nanga tetap hadapi dan keluhkan hal yang sama setiap tahun dan bahkan setiap hari, yaitu tidak adanya air minum bersih.

“Sejak zaman Kepala Desa Petrus Den sampai dengan kepala desa sekarang (Ignasius Beon), Kampung Nanga tidak pernah tersentuh dengan program air minum bersih,” jelas seorang warga Kampung Nanga dengan inisial YH.

“Kami sudah sering membicarakan hal ini kepada pemerintah desa. Akan tetapi, sampai saat ini tidak ada jawaban dari mereka. Kami juga sudah bosan membicarakan masalah ini terus kepada mereka,” kata dia.

Jawaban Dungu Kepala Desa Bere

Keluhan warga Kampung Nanga ini memang baru pertama kali disampaikan melalui media seperti yang diturunkan dawainusa.com. Kades Bere, Ignasius Beon sendiri juga telah membaca dan mengetahui masalah ini.

Akan tetapi, ajaibnya, masalah yang disampaikan oleh warga Kampung Nanga terkait air ini dijawab secara dungu oleh Kades Bere. Bukannya memberikan solusi soal atas masalah ini, ia justru menyalahkan warga Kampung Nanga.

Ia mengatakan bahwa selama masa kepemimpinannya, warga Kampung Nanga tidak pernah memberikan usulan soal air minum ini di dalam suatu rapat di forum desa. Atas alasan ini, sebagai Kades Bere, ia pun tidak mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Waktu musyawarah Desa pada bulan September, warga Nanga hanya usulkan pembangunan rabat, jalan setapak, dan pembukaan jalan baru. Mereka tidak pernah mengusulkan pembangunan air bersih,” jelasnya.

Jawaban yang disodorkan oleh Kades Bere ini membuat saya tertawa, antara lucu dan prihatin. Jujur, ketika mendengar pernyataan Kades Bere ini, hati saya kemudian langsung sedih. Dari yang awalnya bahagia, tertawa tiba-tiba langsung murung. Berubah 180 derajat.

Ada beberapa pertanyaan yang diajukan di dalam pikiran saya ketika mendengar jawaban Kades Bere tersebut. “Apa sebenarnya yang ada di dalam otak Kades Bere sehingga ia mengeluarkan ucapan seperti itu?”.

“Bukankah ia adalah seorang yang dipilih oleh warga Desa Bere dengan alasan bahwa ia mampu mengatasi persoalan yang ada di daerah tersebut?”

Baca juga: Warga Minum Air Kali, Kades Bere: Tak Pernah Ada Usulan Pembangunan Air Bersih

“Bukankan jawaban seperti itu hanya boleh diajukan oleh seorang warga biasa, yang tidak tahu apa-apa – orang yang tidak tahu tentang tugas seorang pemimpin?” “Apakah Kades Bere sudah lupa bahwa dirinya ialah seorang pemimpin di desa tersebut?”

Jawaban Ignasius Beon ini memberanikan saya mengambil kesimpulan bahwa ia sama sekali tidak paham bagaimana hakikatnya seorang pemimpin. “Apa maksud dari adanya seorang pemimpin itu? Apa tugas yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin?”

Apa yang disampaikan oleh Ignasius Beon membuktikan bahwa sebenarnya dirinya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Ia pada dasarnya tidak layak untuk dipilih sebagai seorang pemimpin.

Pemimpin idealnya ialah seorang yang memiliki visi. Ia mampu memberikan arah kemana suatu kehidupan, dalam hal ini Desa Bere, mesti diarahkan. Karena itu, ia juga mesti mempunyai kemampuan untuk mendeteksi persoalan yang ada dan dialami oleh masyarakatnya.

Ungkapan Ignasius Beon yang sebut warga Kampung Nanga tidak pernah mengusulkan air minum bersih di dalam rapat desa, dan karena itu sebagai Kades ia tidak mengeluarkan kebijakan solutif atasnya merupakan bukti “kedunguannya” sebagai seorang pemimpin.

Pemimpin seharusnya tidak mengeluarkan ucapan yang dungu seperti itu. Sebab, tanpa harus diusul oleh warga, masalah ini seharusnya menjadi keprihatian dia sebagai pemimpin. Apalagi persoalan air minum ini merupakan masalah yang paling fundamental bagi kehidupan setiap orang.

Saya semakin berani mengatakan bahwa ucapan Ignasius Beon itu menandakan bahwa dirinya ialah seorang pemimpin yang sontoloyo. Dalam tangan pemimpin sontoloyo dan dungu seperti ini, sulit dibayangkan bahwa Desa Bere akan menjadi lebih baik, yaitu rakyatnya dapat mencapai taraf hidup yang ideal, sejahtera, dan makmur.*

COMMENTS