Marsekal Hadi Tjahjanto Beberkan Empat Ancaman untuk Indonesia

Marsekal Hadi Tjahjanto Beberkan Empat Ancaman untuk Indonesia

Calon Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, Indonesia akan menghadapi berbagai ancaman baru sebagai dampak dari globalisasi dan kemajuan teknologi. (Foto: Marsekal Hadi Tjahjanto - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Calon Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, Indonesia akan menghadapi berbagai ancaman baru sebagai dampak dari globalisasi dan kemajuan teknologi. Ia menegaskan, sebagian besar ancaman itu datang dari negara-negara kuat di luar Indonesia.

“Ancaman menjadi sulit ditentukan berdasarkan wilayah dan geografisnya, oleh kemajuan teknologi, komunikasi, sebaran komunikasi, dan sebaran manusia menjadi tak mungkin untuk dikendalikan. Hal ini dapat muncul ancaman kapan saja dan dimana saja,” kata Hadi ketika mengikuti fit and proper test sebagai calon Panglima TNI, di Komisi I DPR, Jakarta, Rabu (6/12).

Baca juga: Gusur Paksa Warga, PT. Angkasa Pura Dinilai Kangkangi HAM dan Pancasila

Hadi menjelaskan, berbagai ancaman itu antara lain; pertama, adanya pergeseran kekuatan negara adikuasa atau superpower. Menurutnya, saat ini, konflik telah bertransformasi dari perang secara konvensional menjadi perang proxy atau perang dengan menggunakan konflik di negara lain, dan perang hybrid atau campuran.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara ini melihat, perang seperti ini terjadi karena eksistensi negara adikuasi sudah semakin melemah. Hal ini berdampak pada kekuatan dunia menjadi semakin terfragmentasi atau terbagi-bagi. Fakta tersebut menurutnya dapat dilihat dalam situasi krisis nuklir di Korea Utara.

Ancaman kedua, kekuatan terorisme dan radikalisme. Menurut Hadi, saat ini, dua kekuatan tersebut seringkali dipakai oleh suatu negara atau pihak tertentu untuk melakukan proxy war dan hybrid war di negara lain. Dua ancaman ini katanya, tidak hanya dialami di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan, terorisme dan radikalisme menjadi semakin rumit ketika kemajuan teknologi komunikasi turut membantu meluruskan agenda kekuatan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari fenomena meluapnya berbagai pesan radikal atau perintah teror di media massa.

Ancaman ketiga, serangan siber. Hadi menuturkan, ancaman siber memiliki dampak besar sama seperti serangan konvensional, karena teknologi siber ini dapat dipakai untuk pertahanan negara. Menurut Hadi, serangan siber dapat dilihat dalam serangan AS dan Israel terhadap program nuklir Iran.

Ancaman terakhir ialah potensi konflik di sekitar Laut Natuna. Menurut Hadi, hal ini terjadi karena tindakan ofensif China untuk menguasai berbagai sumber alam di sekitar Laut China Selatan.

Ancaman Tradisional Tetap Diwaspadai

Marsekal Hadi juga menyampaikan, meski ada ancaman baru, ia akan tetap mewaspadai berbagai ancaman tradisional yang ada. Sebab, kata Hadi, ancaman tradisional juga memiliki pengaruh signifikan terhadap keutuhan dan kemajuan NKRI.

Menurutnya, ancaman tradisional itu muncul karena letak Indonesia yang secara geografis berada di antara benua Australia dan Asia.

Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia serta memiliki identitas sosio-kultural seperti suku, agama, dan ras yang beranekaragam. Keadaan seperti ini, menurutnya, mesti diantisipasi secara khusus terkait dengan potensi konflik berbasis SARA.

“Jika ini tidak dikelola, akan meningkat sebagai ancaman yang lebih berat lagi,” tegasnya.

Tantangan Lain yang Siap Dihadapi Hadi

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR RI, Supaidi AS juga melayangkan berbagai tantangan yang akan dihadapi calon tunggal usulan Presiden Jokowi itu ketika menduduki orang nomor satu di militer. Suipadi mengatakan, ada tiga tantangan yang akan dihadapi Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai calon panglima TNI.

Tantangan pertama ialah calon Panglima TNI dituntut untuk meningkatkan soliditas personel TNI. Hadi, demikian kata Supaidin, akan dihadapkan pada situasi yang mengharuskan dia mengurus tiga matra TNI, yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU).

Baca juga: Tiga Tantangan Hadi Tjahjanto Ketika Menjadi Panglima TNI

Tantangan kedua ialah, Hadi dituntut untuk merealisasikan program Minimum Essential Force (Kekuatan Poko Minimun) TNI. Bagi Supaidin, Hadi mesti mampu meningkatkan Alutsista serta pertahanan di wilayah perbatasan.

Ketiga, Hadi dituntut untuk segera mempersiapkan TNI dalam mewujudkan netralitas menghadapi pemilu dan pilkada. “Itu paling pokok,” jelas Supaidin.

Seperti diinformasikan, Marseka Hadi Tjahjanto telah mengikuti fit and proper test di Komisi Pertahan DPR. Ia datang ke DPR diantari oleh Panglima TNI, Jenderal Gato Nurmantyo dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Mulyono serta Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Ade Supandi.*(YAH).