Banjir Adonara, Maria Kehilangan 11 Anggota Keluarga dalam Semalam
Foto Kolase/Ist

Dawainusa.com – Banjir bandang yang melanda Pulau Adonara, Flores Timur, NTT beberapa waktu lalu membuat Maria kehilangan 11 anggota keluarga.

Banjir bandang siklon tropis yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur itu, menyebabkan banyak korban jiwa yang meninggal dunia.

Dilansir dari Metrotvnews, Sabtu (10/4/2021), Maria Magdalena Sura Ola, warga Desa Nele Lemadike, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Flores Timur harus kehilangan 11 anggota keluarganya.

Baca juga:  Sempat Terseret Banjir, Bocah 2 Tahun Ini Diselamatkan Sang Opa

Maria Kehilangan 11 Anggota Keluarga

Seperti yang diberitakan sebelumnya, bencana banjir bandang siklon tropis menyebabkan beberapa wilayah di Provinsi NTT.

Di Pulau Adonara, ratusan warga harus mengungsi lantaran rumah mereka terbawa banjir hingga menelan korban jiwa.

Maria, harus kehilangan 11 anggota keluarga dalam semalam akibat diterjang banjir bandang di kampungnya.

Maria tidak pernah menyangkah puluhan warga datang ke kediamannya untuk menggelar doa bersama.

Betapa tidak, 11 anggota keluarga Maria menjadi korban banjir bandang siklon tropis yang menerjang NTT, termasuk Pulau Adonara.

“Yang jadi korban dalam musibah ini mertua saya, bapa mertua, kaka ipar, suami saya, ade ipar dengan istri dan anaknya, terus ade ipar juga, semuanya 11 orang,” ungkap Maria penuh haru.

Sementara itu, saat kejadian banjir bandang melanda tempat tinggalnya, Maria sedang tidak berada di rumah.

Ia pun mengungkapkan jika dirinya saat itu berada di tumah orang tua untuk membantu ibunya menyiapkan Perayaan Paskah di desa lain di Pulau Adonara.

Maria Magdalena Sura Ole
Maria Magdalena Sura Ole/Ist

TrendingJokowi ke NTT, Tinjau Langsung Dampak Bencana Siklon Tropis Seroja

Sang suami pun sempat menghantar Maria dan anaknya ke rumah orang tua Maria, satu hari sebelum banjir bandang memporak porandakan tempat tinggalnya.

Maria dan sang anak seolah memiliki firasat buruk ketika sang suami menghantar dirinya dan sang anak.

Bahkan sang anak begitu enggan untuk mengikut kembali ayahnya untuk merayakan Paskah di Desa Nele Lamadike.

Ternyata saat itu adalah momen terakhir Maria dan kedua anaknya bertemu sang suami.

Kini Maria harus menerima kenyataan pahit tersebut, kehilangan suami di saat usia kedua anaknya yang masih kecil.

Maria pun berharap agar dia dan kedua anaknya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

“Saya mohon belas kasihan dari pemerintah , perhatikan anak saya, apalagi masa depan mereka masih terlalu panjang,” tutur Maria.

“Saya tidak ada keluarga lagi. Tidak ada harapan lagi untuk mereka. Saya kasihan anak saya, apalagi anak saya yang masih kecil,” ungkap Maria penuh harap.*