Maksud Rizieq Shihab di Balik Seruan Nonton Bareng Film G30S PKI

Maksud Rizieq Shihab di Balik Seruan Nonton Bareng Film G30S PKI

JAKARTA, dawainusa.com – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab meminta kepada masyarakat untuk menggelar acara nonton bareng film G30S PKI di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, Rizieq juga meminta masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang pada tanggal 30 September mendatang.

Rizieq dalam seruannya itu, mengajak kepada masyarakat untuk tidak melupakan sejarah masa lalu yang kelam. Sejarah kelam yang dimaksud ialah kekerasan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia pun meminta kepada masyarakat untuk berkumpul di rumah, di tempat masing -masing untuk menonton film tersebut.

Baca juga: Tentang Alfian Tanjung dan Jokowi Pendukung PKI

“Kumpul di rumah, majelis, madrasah, pesantren, kantor, gedung pertemuan, lapangan terbuka, alun-alun, hotel, restoran dan sebagainya,” kata Rizieq di Jakarta, Selasa (25/9)

Permintaan Rizieq tersebut kemudian mendapat beragam tanggapan. Terlebih karena seruan itu disampaikan lewat akun Twitter milik Rizieq sehingga beredar luas di media sosial.

Namun, Slamet selaku juru bicara FPI menegaskan, tujuan seruan itu hanya untuk mengingatkan masyarakat. “Agar bangsa Indonesia tidak lupa sejarah,”kata Slamet.

Peristiwa penumpasan G30S PKI telah difilmkan pada 1984. Film tersebut menjadi film komersial pertama yang berani menceritakan kembali tentang pemberontakan 965. Film ini pun mendapatkan tuju penghargaan saat festival film Indonesia pada saat itu.

Seruan yang Sama dari Gatot Nurmantyo

Gatot Nurmantyo pernah menyampaikan seruan yang sama pada saat menjabat sebagai panglima TNI. Ia meminta kepada seluruh jajarannya dalam tubuh TNI untuk memutarkan kembali film G30S PKI tersebut. Namun, seruan tersebut mendapatkan reaksi yang beragam, baik dari internal TNI maupun masyarakat umum.

Sama dengan Rizieq Shihab, Gatot Nurmantyo berdalih tidak mempunyai tujuan khusus di balik perintah untuk memutarkan kembali film itu kepada seluruh jajarannya pada waktu itu. Ia menegaskan, tujuan pemutaran film tersebut hanya mau mengingatkan kepada masyarakat tentang peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh PKI.

“Kalau kami tidak ingatkan dalam peristiwa itu, orang tidak tahu ada gerakan-gerakan mengadu domba dan sebagainya,” kata Gatot.

Baca juga: Dituduh Keturunan PKI, Menristekdikti Lapor Polisi

Saat ini, Gatot yang sudah pensiun dari TNI, meminta kepada petinggi untuk mengeluarkan instruksi yang sama saat dirinya menjabat sebagai Panglima TNI. Ia bahkan menyindir Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf Angakatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono karena tidak ingin mengeluarkan instruksi serupa.

Gatot pun menyamakan kemampauan KSAD untuk mengeluarkan perintah gelar nonton film dengan kemampuan KSAD  untuk memimpin prajurit TNI seperti  Kostrad, Kopassus, dan semua prajurit TNI AD.

Ia meragukan kapasitas KSAD dalam memimpin pasukan-pasukan elit TNI kalau tidak berani mengeluarkan isntruksi nonton film G30S PKI. “Kalau takut, pulang kampung saja. Karena kasian nanti prajuritnya disamakan dengan pemimpin penakut,” kata Gatot.

Film G30S PKI Masih Minim Data

Sementara itu, Jajang C. Noer, istri sutradara film G30S PKI mendiang Arifin C. Noer menegaskan, film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI perlu untuk dilengkapi dengan data-data yang lengkap. Data-data tersebut, demikian Jajang, bertujuan memimalisir kontroversi yang berkembang di masyarakat terkait dengan film tersebut.

Ia menjelaskan, film yang disutradarai oleh mendiang suaminya tersebut diproduksi pada zaman Orde Baru. Pada waktu itu, film itu belum dilengkapi dengan data. Hal ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat tentang kebenaran yang disajikan dalam film itu.

Baca juga: Tuding PDIP Banyak Menampung PKI, Kivlan Zen Bakal Dipolisikan

Menurut Jajang, kondisi saat ini sangat berbeda dengan situasi pada saat film tersebut diproduksi. Saat ini, kata Jajang, banyak litelatur yang dapat dijadikan sebagai sumber ilmiah untuk melengkapi data-data dalam film tersebut.

Sumber-sumber yang dimaksudkan Jajang, dapat ditemukan dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga menambahkan, film yang diperankan oleh Arifin suaminya dulu hanya berdasar pada hasil penelitian yang dilakukan oleh mantan Menteri Pendidikan Nugroho Notosusanto.

Selain data-data tersebut, kata Jajang, saat ini banyak mantan anggota PKI yang dapat diminta keterangan untuk meluruskan informasi terkait film G30S PKI. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat data-data yang benar-benar baru.

“Ya karena tahun 2000 waktu kita reformasi, ada data yang baru, yang masuk pun dari CIA (agen intelejen Amerika Serikat). Ya itulah yang bisa dikemukakan,” pungkasnya.*